backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Nusa Lembongan: Hanya Selemparan Kolor dari Bali!

arievrahman

Posted on March 27, 2014

Saya maju selangkah lagi, dan kini kedua kaki saya telah berada pada bibir tebing. Angin yang bertiup dari arah laut, membuat saya yang telanjang dada sedikit menggigil. Puting saya mengeras, dan jantung berdetak semakin kencang. Sembilan meter di bawah kaki saya terbentang lautan luas dengan ombaknya yang menderu kencang. Saya merasa, apabila memaksakan meloncat, debur ombaknya yang ganas dapat menghempaskan tubuh mulus saya kembali ke arah tebing.

“Ayo loncat!” Seru Fara yang berada pada tebing di sisi sebelah kiri saya, sementara di dekatnya ada Wandy yang telah siap dengan kameranya untuk merekam gerakan eksotis saya. Inilah cliff jumping di Nusa Ceningan, sebuah aktivitas yang memacu adrenalin, menantang keberanian, sekaligus menguji kejantanan di mana seorang anak manusia ditantang untuk meloncat dari ketinggian tertentu, langsung ke dalam laut.

Saya menatap ke bawah sekali lagi, sebuah tangga besi telah disiapkan di dinding tebing. Nantinya setelah mendarat, si peloncat diharuskan berenang ke tangga itu, dan mendakinya kembali ke atas. Beberapa menit sebelumnya, saya telah bertanya kepada para guard yang bertanggung jawab terhadap atraksi ini, tentang bagaimana cara meloncat dan mendarat yang baik. Kata salah seorang bli (panggilan untuk “Mas” di Bali) penjaga, yang penting mendarat dengan kaki terlebih dahulu, dan dalam posisi lurus, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya diputusin pacar.

Kemudian dalam hitungan ketiga dari Fara, saya meloncat ke arah laut yang telah menanti. Dan mendarat dengan pantat terlebih dahulu.

Why Go?

P1070214

L Men of The Year 2014, Fara, and Wandy at Nusa Ceningan.

 Jika kamu sudah mulai muak dan bosan dengan Bali, —well, walau kebanyakan orang selalu suka Bali– dan ingin merasakan pengalaman yang tidak mainstream, maka Nusa Lembongan adalah pilihan yang cocok. Jaraknya hanya selemparan kolor dari Bali, kolor Hercules tepatnya. Pulau seluas kurang lebih delapan kilometer persegi dengan jumlah populasi sekitar 5.000 orang ini merupakan pulau yang sering digunakan penduduk lokal untuk beribadah, juga sebagai sarana berlibur wisatawan baik asing maupun domestik (yang jumlahnya lebih sedikit).

Di sini, kamu akan mendapatkan pengalaman-pengalaman berbeda yang mungkin tidak kamu temukan di Bali maupun Zimbabwe, seperti misalnya mencoba cliff jumping (berada di Nusa Ceningan, yang disambungkan dengan jembatan kayu selebar satu sepeda motor dan satu orang dengan Body Mass Index normal dari Nusa Lembongan), berjemur telanjang di secret (and virgin –i hope so–) beach, hingga menjelajah ruangan bawah tanah underground house.

When To Go

0.000000 0.000000
Categories: Bali, Domestic

Tagged: Blue Lagoon, Cliff Jumping, Dream Beach, Gala-gala Underground House, Harris Hotel Riverview, Mushroom Bay, Nusa Ceningan, Nusa Lembongan, Sanur, Secret Point's Hut

58 Comments

+Read more

Tiga Hal yang Membuat Orang Kembali ke Bandung

arievrahman

Posted on March 23, 2014

Belasan orang berkumpul di ruangan tertutup seluas lapangan bulutangkis, dan berikutnya lampu dipadamkan. Apabila tiba-tiba asap masuk menyelimuti ruangan dan tak ada jalan keluar lagi, maka nama saya mungkin akan tercatat dalam sejarah sebagai korban holokaus. Namun kali ini beda, David –seorang pria kelahiran 1988 bermuka matang (saya tidak mengatakan tua)–, berdiri di tengah ruangan untuk memberikan briefing  singkat mengenai Nissan New March, yang akan saya gagahi bersama sembilan blogger lain yang diberikan mandat oleh tim Polimoli.

Selama lebih kurang satu jam, David menjelaskan mulai dari sejarah terciptanya Nissan March, hingga ke fitur-fitur yang menjadi keunggulannya. Salah seorang peserta –sebut saja Ipi– bertanya, mengapa si mobil cantik ini dinamakan March, dan alasannya cukup simpel, karena mobil ini tercipta di bulan Maret. Sama seperti Agus yang lahir di bulan Agustus. Yang membuat saya bersyukur adalah, untung saja mobil ini lahir di Jepang bulan Maret, bukan di Jawa ketika hari Jumat Kliwon di bulan Jumadilakir.

David juga menjelaskan, mengapa varian Nissan banyak menggunakan nama wanita seperti Livina, Evalia, hingga Teana. Alasannya juga sederhana, karena Nissan terinspirasi dengan kecantikan wanita. Thank God, because the Nissan inventor wasn’t born gay. Dan setelah mendapat penjelasan singkat dari David, saya diperbolehkan menjajal si cantik menuju Bandung, bersama dengan Mumun Indohoy sebagai kernet.

P1080094

Si cantik Nissan New March

Setelah sebelumnya saya sempat menjajal Nissan New March transmisi manual, kali ini saya dan Mumun berkesempatan mencoba varian yang otomatis, dengan cup size 1.200 cc. Oh iya, 

0.000000 0.000000
Categories: Domestic, Jawa Barat

Tagged: Bandung, Dago, New March, New march Day, Nissan, The Upper East, Trunojoyo

31 Comments

+Read more

Wisata Horor Kota Bandung

arievrahman

Posted on March 16, 2014

Dua orang pemuda bersepeda motor berhenti di samping Nissan March yang kami kendarai, saat itu pukul sebelas malam waktu Bandung, dan bisa jadi mereka adalah bagian dari gang motor yang santer diberitakan sering mengganggu keresahan warga. Pria yang memegang kendali sepeda motor mengambil telepon genggamnya, menelepon. Dan berikutnya, telepon genggam saya yang berbunyi.

“Itu mungkin orangnya.” Kata Mumun.

***

“Apa? Tur horor? Gak deh!” Jawab peserta kegiatan #NewMarchDay yang saya tanyai ketika makan malam. Kebanyakan dari mereka menolak ide saya dan Mumun untuk melakukan tur mengunjungi tempat-tempat yang dikenal horor di Bandung. Bahkan Mbak Ainun dan Mas Acel kompak menampiknya dengan alasan “Ogah, hidup gue aja udah horor banget!”

Huft.

Dan, akhirnya dari belasan peserta kegiatan, hanya tersisa saya, Mumun, dan Ipi yang berani untuk melaksanakan tur horor malam itu. Sorry guys, this activity is not for the faint hearted. Only the bravest, and the chosen one. Like me, Mumun, and Ipi.

“APA, NANTI JALAN KAKI?” Teriak Ipi di mobil. “KIRAIN PAKAI MOBIL JALAN-JALANNYA.”

Saya dan Mumun ketawa cekikikan “Iya, Pi.”

“FAKKK! AKU DIJEBAAKKK!” Suara teriakan terdengar dari jok belakang yang masih lega. Teriakan yang diikuti dengan bulu kuduk yang berdiri. Bulu kuduk kami bertiga.

***

Sudah sedari siang, saya dan Mumun mengontak Mas Roni, pemilik Cheap & Go! Tour, menanyakan ketersediaan tentang tur horor kota Bandung ini. Pada kunjungan sebelumnya ke Bandung, saya juga mengontak mereka, namun mereka menjawab tidak bisa karena kuota peserta yang kurang. Namun kali ini berbeda, saya meminta tolong Mumun si Gadis Cimahi, untuk merayu Mas Roni. Dan berhasil. Kami akan berangkat tur horor Kota Bandung malam ini!

P1080228

Persiapan sebelum tur

Sepasang pria normal bermotor yang mendatangi mobil kami tadi, ternyata adalah Mas Roni dan rekannya, yang memperkenalkan diri sebagai Mas Tendi (kalau saya tak salah dengar). Merekalah yang akan membawa kami mengelilingi tempat-tempat yang memiliki cerita horor di Bandung. Dankarena waktu yang sudah mendekati tengah malam, kami batal berjalan kaki, namun diganti dengan menggunakan kendaraan bermotor ke tempat-tempat tersebut.

“Sebelumnya, apa ada yang sedang berhalangan?” Tanya Mas Roni, pada kami. Saya sudah menopause sejak lahir, sementara Mumun dan Ipi menggeleng, tanda sedang tidak berhalangan. Tidak berhalangan yang belum tentu hamil. “Jadi wisata horor ini, sebenarnya adalah mengunjungi bangunan-bangunan heritage. Dahulu dicetuskan pertama kali oleh Bandung Trails. Jadi kita niatkan tur kali ini adalah tur heritage, bukan tur horor.” Jelasnya.

Setelah membaca doa dan mendapat sedikit wejangan, maka berangkatlah kami ke objek wisata horor pertama.

0.000000 0.000000
Categories: Domestic, Jawa Barat

Tagged: Bandung, Cheap & Go! Tour, Horor, Patung Pastor, Rumah Ambulans Baureksa, SMA 3 Bandung, SMA 5 Bandung, SMA Aloysius, Taman Maluku

139 Comments

+Read more

Malam Seru-seruan Bareng Skyscanner

arievrahman

Posted on March 14, 2014

“Udah di mana, Rif?” Sebuah mention masuk melalui Twitter pada telepon genggam saya. Dari Emmy, yang sudah berada di Poste, The East Mega Kuningan, tempat acara malam penghargaan Skyscanner Bloscars 2014 –di mana blog saya masuk sebagai nominasi blog travel terbaik menurut Skyscanner Indonesia— dilangsungkan. Sementara saya masih terjebak kemacetan bersama Eva dalam sebuah Low Cost Green Car, yang nyatanya makin menambah macet Jakarta. Pedih rasanya, terjebak kemacetan bersama penyebab macet itu sendiri. Saat itu pukul tujuh malam dan acara dijadwalkan mulai pukul 18:30.

Saya. Pasti. Terlambat. Datang.

Mobil perlahan menyusuri jalanan depan Kuningan City, tempat yang seharusnya dijadikan meeting point antara saya, Eva, dan Molly. Iya, Molly yang ada dalam cerita ini. Si Scumbag Mulyono.

Awalnya, saya berencana hadir bersama Eva saja. Namun karena Molly memohon untuk gabung karena tidak mengetahui arah, maka saya sepulang kantor hari itu langsung menjemput Eva di kantornya, sebelum menuju apartemen untuk meminjam mobil pinjaman Eva dari Eka. Pinjamanception. Selepas salat maghrib, saya menelepon Molly karena tidak ada kabar dari siang hari –baik via WhatsApp, Twitter, hingga Path–, padahal menurut obrolan sebelumnya, dia akan berangkat dari kantor pukul empat sore.

“Halo.” Ucap saya membuka obrolan. “Di mana, Mol?”

Terdengar suara lemah dari ujung satunya “Aku…” Molly meneruskan ucapannya, “…masih di Serpong. Tinggal saja deh.”

Scumbag Mulyono.

Dan kami (saya dan Eva) tiba di lokasi pukul setengah delapan. Di mana acara tengah berlangsung seru.

P1070713

Guess, where am I? Right, behind the camera.

0.000000 0.000000
Categories: Events

Tagged: Bloscars14, Poste Jakarta, Skyscanner

79 Comments

+Read more

Rahasia Kecantikan Wanita Myanmar

arievrahman

Posted on March 7, 2014

Tubuhnya tinggi langsing, dengan rambut panjangnya yang hitam kecokelatan. Bukan, warna cokelatnya bukan karena main layang-layang, tapi mungkin memang gadis ini sedang mencari jati diri dengan cara mewarnai rambutnya.

Bibirnya yang berwarna merah muda, ranum menggoda siapa saja yang menatapnya, tak terkecuali saya. Sayang, saya sudah punya pacar. Coba kalau belum, pasti dia pun tak mau dengan saya.

Kulitnya yang putih bersih, membuat saya bertanya dalam hati “Ini cewek putih bener, mungkin dulu ibunya ngidam bengkuang atau geisha ketika hamil.”. Sekilas terlihat lapisan berwarna krem pada pipi dan sedikit di bawah matanya. Lapisan itulah yang disebut sebagai lapisan Thanakha, rahasia kecantikan wanita Myanmar.

P1040878

Her jacket, the only thing that bothered me. I wish I can take it off…well, never mind.

Wanita tersebut nampak anggun menunggu Thanakha Museum, Bagan, museum thanakha satu-satunya di dunia. Pertemuan dengan wanita cantik ini bukanlah yang pertama kali saya alami di Myanmar. Beberapa kali saya luluh kepada senyum dan kecantikan mereka. Seperti misalnya ketika saya mengunjungi Shwethalyaung Buddha di Bago dua hari sebelumnya, langkah saya terhenti saat seorang wanita berbaju merah muda di samping kanan lorong menawarkan dagangannya.

“Come, take a look at this.” Serunya sambil membawa beberapa potong kain beraneka warna di lengannya. “It’s Longjyi.” Jelasnya sambil menggelar Longjyi, atau sarung khas Myanmar, yang dipakai hampir semua orang di Myanmar, yang mayoritas beragama Buddha.

P1040165

Can I have you…r Longjyi, Miss?

Tak perlu waktu lama bagi saya untuk luluh dan membeli dua potong longjyi dari wanita itu. Alasan saya membeli –selain harganya yang murah– adalah supaya saya bisa berfoto bersama dengannya. Namun sayang, ketika melihat hasil fotonya, ternyata wajah kami sedikit buram karena kamera lebih fokus ke longjyi daripada ke wajah cantik si gadis (semoga masih) yang berselimutkan Thanakha.

Esoknya, saya mengenakan longjyi yang saya beli dari si cantik ketika mengunjungi Mandalay. Supaya terlihat seperti membaur dengan warga lokal.

21.913965 95.956223
Categories: Foreign, Myanmar, Survival Kit

Tagged: Bagan, Longjyi, Mandalay, Myanmar, Thanakha, Thanakha Museum, WithLocals

61 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • This Is How FootballTicketNet Ruins My Childhood Dream
  • Panduan Lengkap Mengurus Sendiri Visa Turis Australia

Archives

Blog Stats

  • 5,485,820 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...