Tubuhnya tinggi langsing, dengan rambut panjangnya yang hitam kecokelatan. Bukan, warna cokelatnya bukan karena main layang-layang, tapi mungkin memang gadis ini sedang mencari jati diri dengan cara mewarnai rambutnya.

Bibirnya yang berwarna merah muda, ranum menggoda siapa saja yang menatapnya, tak terkecuali saya. Sayang, saya sudah punya pacar. Coba kalau belum, pasti dia pun tak mau dengan saya.

Kulitnya yang putih bersih, membuat saya bertanya dalam hati “Ini cewek putih bener, mungkin dulu ibunya ngidam bengkuang atau geisha ketika hamil.”. Sekilas terlihat lapisan berwarna krem pada pipi dan sedikit di bawah matanya. Lapisan itulah yang disebut sebagai lapisan Thanakha, rahasia kecantikan wanita Myanmar.

P1040878

Her jacket, the only thing that bothered me. I wish I can take it off…well, never mind.

Wanita tersebut nampak anggun menunggu Thanakha Museum, Bagan, museum thanakha satu-satunya di dunia. Pertemuan dengan wanita cantik ini bukanlah yang pertama kali saya alami di Myanmar. Beberapa kali saya luluh kepada senyum dan kecantikan mereka. Seperti misalnya ketika saya mengunjungi Shwethalyaung Buddha di Bago dua hari sebelumnya, langkah saya terhenti saat seorang wanita berbaju merah muda di samping kanan lorong menawarkan dagangannya.

Come, take a look at this.” Serunya sambil membawa beberapa potong kain beraneka warna di lengannya. “It’s Longjyi.” Jelasnya sambil menggelar Longjyi, atau sarung khas Myanmar, yang dipakai hampir semua orang di Myanmar, yang mayoritas beragama Buddha.

P1040165

Can I have you…r Longjyi, Miss?

Tak perlu waktu lama bagi saya untuk luluh dan membeli dua potong longjyi dari wanita itu. Alasan saya membeli –selain harganya yang murah– adalah supaya saya bisa berfoto bersama dengannya. Namun sayang, ketika melihat hasil fotonya, ternyata wajah kami sedikit buram karena kamera lebih fokus ke longjyi daripada ke wajah cantik si gadis (semoga masih) yang berselimutkan Thanakha.

Esoknya, saya mengenakan longjyi yang saya beli dari si cantik ketika mengunjungi Mandalay. Supaya terlihat seperti membaur dengan warga lokal.

Can I have that?” Ucap Eki, selesai kami makan siang pada sebuah warung lokal di kaki Mandalay Hill. Dia menunjuk ke arah lapisan krem di pipi si gadis pelayan yang kemudian tertawa kecil “Yes, that.” Eki mengusap-usap pipi. Pipi sendiri, bukan pipi saya atau Pipi Anang.

Si gadis kemudian mengobrol dengan teman-teman sebayanya (yang juga bekerja sebagai pelayan di situ), yang kemudian disusul dengan gelak tawa, sebelum mengajak kami ke sebuah ruangan di belakang warung. Nampaknya si gadis yang tak bisa berbahasa Inggris ini telah mengerti maksud kami, yaitu mencoba memakai thanakha. Atau lebih tepatnya meminta thanakha untuk dicoba. Supaya terlihat seperti membaur dengan warga lokal.

P1040433

A local girl, preparing Thanakha.

Si gadis memegang sepotong kayu, yang kemudian digosok-gosokkan pada sebuah alas yang mirip dengan talenan namun terbuat dari batu. Kawannya. si kecil berbaju merah yang selalu tertawa, menuangkan beberapa tetes air dari botol bekas minuman bersoda, ke atas talenan tersebut. Sementaa tangan satunya lagi memegang sebuah cermin. Setelah lapisan kayu tersebut tercampur dengan air, maka thanakha pun siap digunakan. Dan korban pertama adalah Eki.

Si gadis menempelkan ujung-ujung jarinya di atas talenan, membiarkan lapisan thanakha menempel pada permukaan kulitnya, sebelum mengusapkannya pada pipi Eki, dan menyebarkannya ke seluruh wajah Eki. Tangan kiri bertugas memegang kepala Eki, sementara tangan kanan bertugas mengoleskan thanakha. Mulai dari pipi, dagu, kening tak luput dari keberingasan tangan si gadis. Sementara teman-temannya tertawa melihat kelakuan kami. Mungkin dalam hati mereka berpikir, bahwa buat apa sih pelancong melakukan hal konyol seperti ini. Repot-repot mengikuti kebiasaan lokal, bersama orang lokal.

But trust me, following the local customs, with local people around, is the best experience you can get in a journey.

Berikutnya, giliran saya dan Hardi merasakan sentuhan si gadis. Dengan semangat, dia menggarap saya. Rambut saya digenggam dan ditekan sedemikian rupa supaya kepala saya tidak bergeser, sementara dia mengoleskan thanakha dengan seksama ke seluruh wajah.

Rasanya dingin, ketika thanakha tersebut menentuh wajah. Berikutnya, saya merasakan lapisan-lapisan tersebut mengeras dan mengering, mirip parem kocok tanpa bau yang menyengat. Menurut informasi setempat, penggunaan thanakha dimaksudkan untuk menangkal sinar matahari yang dapat merusak kulit. Maka tak heran, mengapa wajah wanita Myanmar putih dan cantik-cantik.

Setelah selesai, saya menatap wajah sendiri melalui cermin kecil di hadapan saya. Rambut berantakan seperti Nicholas Saputra, menghiasi wajah yang berwarna tak karuan. Warna dasar cokelat tua layaknya sawo matang di pohon sebelum dimakan kelelawar, berpadu dengan warna krem keputihan yang menempel tak rata di wajah tanpa bau amis. Saat itu saya merasa pantas tampil di Simon Cabaret, sebagai bencong yang baru mletek.

P1040438

Am I pretty? No, thanks.

P1040441

Surrounding with locals.

Thanakha memang terpasang ala kadarnya, namun keceriaan kami yang berbaur dengan warga lokal terpampang nyata bukan buaian. Kami sangat menikmati bagaimana rasanya menjadi lokal bersama warga lokal.

We love being local with locals

Sebagaimana yang saya baca pada blog Teppy, saat ini telah hadir sebuah portal yang membantu para pelancong untuk berbaur dengan warga lokal. Namanya www.withlocals.com, sebuah startup project yang berasal dari Belanda yang saat ini berkonsentrasi di wilayah Asia. Withlocals menawarkan pengalaman baru yang berbeda dengan konsep sharing economy antara warga lokal dengan para pelancong.

Ada tiga kategori utama yang bisa dilakukan di Withlocals, yaitu Eat Withlocals, Tours Withlocals, dan Activities Withlocals. Di sini, warga lokal berperan sebagai host yang akan mengakomodir kebutuhan para pelancong sebagai tamu mereka. Menariknya, kamu pun bisa berperan sebagai host (dan mendapat tambahan penghasilan juga pengalaman tak terlupakan) dengan mendaftar di Withlocals!

nz2jwrafg7wnxuohsrzf

One of experiences you can get in Withlocals.

Menarik, bukan?

Kembali ke Mandalay, saya yang sudah full make up pun berkeliling layaknya warga lokal, dan beberapa bahkan menyapa saya dalam bahasa setempat “Mingalaba!” Ucap mereka, yang berarti halo. Saya yang disapa pun hanya cengar-cengir, tak tahu harus menjawab apa, selain “SorryI am not a Burmese.“. Berjalan-jalan bersama Eki dan Hardi yang berwajah oriental, membuat saya yang –berkulit cokelat tua dan– mengenakan longjyi juga thanakha tampak seperti tour guide lokal yang mengantarkan mereka berkeliling Mandalay, mulai dari Mandalay Hill, Mandalay Palace, hingga ke U-Bein Bridge Amarapura.

Di U-Bein Bridge, yang merupakan jembatan kayu jati terpanjang dan tertua di dunia yang masih aktif digunakan, saya bertemu lagi dengan wanita lokal yang menjajakan suvenir khas Myanmar seperti lukisan dan magnet kulkas, namun kali ini saya menahan iman sehingga tidak tergoda seperti di Bago. Bukan, bukan karena si wanita tidak cantik atau karena bau ketiak, tapi karena barang yang dijajakannya mahal.

P1040572

Souvenirs seller at U Bein Bridge

P1040569

Me, wearing longjyi and –almost faded– thanakha, like locals do.

Di Bagan, saya bertanya kepada Aung Min Thun, supir minibus bertubuh gempal yang kami sewa untuk pergi ke Mount Popa “Mister, why don’t you use thanakha?”

Dan dengan santainya dia menjawab “Thanakha is only for girl. Men don’t use it.“.

FAK!

 

Advertisements