Sebelum saya ke sana, ada dua nama terkenal yang pernah mengunjungi Air Terjun Mata Jitu. Nama pertama adalah Diana Frances, yang dahulu bergelar The Princess of Wales, namun sekarang telah berganti gelar menjadi almarhumah Lady Di, sementara nama kedua adalah Maria Sharapova, yang berprestasi menggantikan Anna Kournikova di dalam mimpi-mimpi basah saya.
Lantas apakah alasan mereka mengunjungi Air Terjun Mata Jitu? Well, saya pun tak tahu, karena saya belum pernah bertanya langsung kepada mereka, melainkan hanya mampu memimpikan mereka layaknya saya memimpikan Aryati, sang mawar asuhan rembulan.
Jujur, tak mudah untuk mengunjungi Mata Jitu yang terdapat di Pulau Moyo, karena kamu harus berganti moda transportasi sedikitnya lima kali apabila berangkat dari Jakarta. Saking susahnya, saya menyebut bahwa perjalanan menuju Air Terjun Mata Jitu ini ibarat perjalanan untuk menemukan cinta sejati, yang walaupun susah, kamu akan terus berjalan, karena kamu tahu bahwa cinta sejati itu ada.

Pagi itu, kami tiba di Pelabuhan Pantai Goa (dinamakan demikian karena ada goa di pinggiran pantai) setelah pada hari sebelumnya terbang dari Jakarta menuju Lombok yang kemudian dilanjutkan menyeberang ke Sumbawa Besar menggunakan kapal feri. Dari sini, perjalanan ke Mata Jitu masih harus dilanjutkan dengan kapal nelayan lokal menuju Pulau Moyo, lokasi Mata Jitu berada.
Dari janji kapal yang berangkat pukul tujuh, yang ternyata molor karena harus membeli bahan bakar dan menunggu rombongan piknik lain –walaupun sebenarnya kami telah memesan kapal tersebut hanya untuk rombongan kami saja–, akhirnya kami baru berangkat pukul sembilan lewat, di saat matahari mulai terik.
“Maaf, mereka tiba-tiba datang, padahal sebelumnya aku pikir mereka gak jadi ke Moyo.” Jelas si pemandu tur kepada kami. Ya sudahlah, kasihan juga kalau rombongan yang salah seorang anggotanya mengenakan atribut My Trip My Adventure itu sampai tak jadi ke Pulau Moyo karena kami.
Tagged: Mata Jitu, prewedding, Pulau Moyo




