backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Thing You Have To Do Before You Die: Safari in Ngorongoro Crater

arievrahman

Posted on April 18, 2018

“Nanti di Tanzania, kalian mau safari ke mana saja?” Tanya Bu Anita, pada malam perjumpaan kami di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) wilayah Nairobi, Kenya. Pertemuan demi pertemuan dengan orang Indonesia dalam perjalanan, berujung membawa kami ke sebuah acara random yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya, yaitu Sosialiasi Pemilu 2019 di KBRI. Bu Anita, adalah satu dari puluhan tamu undangan KBRI, yang telah tinggal cukup lama di wilayah Afrika Timur bersama keluarganya.

“Paling cuma ke Tarangire dan Ngorongoro, Bu.” Jawab saya setelah berdalih bahwa kami memang hanya mempunyai waktu terbatas di Tanzania. Padahal alasan utamanya, adalah biaya safari yang mahal, sehingga kami hanya mampu mengikuti paket safari dua hari satu malam, dengan tujuan utama Tarangire National Park dan Ngorongoro Crater.

“Eh jangan salah, kalau Tarangire dan Ngorongoro sih bukan cuma namanya.” Ibu Anita mengibaskan lengannya ke arah kami, menampik jawaban saya. “Tarangire itu sudah bagus, Ngorongoro apalagi. Itu tempat safari yang paling bagus di Tanzania.”

“Oh, begitu ya, Bu.” Dari obrolan singkat di penghujung malam tersebut, saya mendapat sebuah pencerahan mengenai Ngorongoro, yaitu bahwa “There is no other place in the world, like Ngorongoro.”.

Berbekal obrolan singkat dengan Bu Anita dua hari sebelumnya, saya berangkat ke Ngorongoro pagi itu dengan sebuah ekspektasi yang sangat tinggi supaya dapat menikmati safari dan berjumpa dengan satwa-satwa unik di savana. Benar saja, begitu tiba di pintu masuk Ngorongoro Conservation Area, kami langsung disambut oleh pemandangan menakjubkan yaitu…

Ngorongoro

“Baboon kawin!” Teriak saya dalam hati, ke arah sepasang baboon yang bersenggama pada tembok pembatas parkir. Beberapa detik sebelumnya, baboon pria yang bertubuh lebih besar tiba-tiba melompat ke arah betinanya yang sedang berjalan santai sambil memamerkan pantatnya, dan langsung menusuknya dari belakang sambil memanjatnya sedikit. Baboon style.

Categories: Foreign, Tanzania

Tagged: Arusha, Ngorongoro, Safari, Tanzania

57 Comments

+Read more

e-Visa Kenya

Lika-liku Mendapatkan e-Visa Kenya

arievrahman

Posted on April 1, 2018

Bermodal tiket murah yang telah dipesan beberapa bulan sebelumnya, saya merasa bahwa perjalanan ke Kenya ini akan menjadi perjalanan yang baik-baik saja, tanpa adanya Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan dari berbagai pihak, hingga beberapa orang teman berkata kepada saya hanya dalam beberapa hari menjelang keberangkatan, bahwa untuk mengunjungi Kenya, dibutuhkan e-Visa.

“Ke Kenya kan harus pakai e-Visa.” Kata seorang teman, sementara berdasarkan data yang terdapat pada Timatic Web, Warga Negara Indonesia dapat memperoleh fasilitas Visa on Arrival untuk memasuki Kenya.

“Sungguh?” Tanya saya, memastikan. “Apa tidak bisa Visa on Arrival?”

“Iya, kemarin aku pakai e-Visa.” Jawabnya lagi. “Kalau Visa on Arrival, tidak tahu deh.”

Sebagai warga negara dunia ketiga seperti Indonesia, visa merupakan salah satu syarat mutlak yang dibutuhkan apabila ingin traveling mengunjungi negara lain, selain paspor, tiket pesawat, uang, dan wajah yang meyakinkan, tentunya. Hal yang juga berlaku ketika kamu ingin mengunjungi Kenya, yang terletak di Afrika, just in case kamu belum tahu.

“Sudah, bikin saja” Lanjutnya. “Kamu berangkat kapan sih?”

“Sampai sana harusnya tiga hari lagi. Aku takut kalau bikin e-Visa nanti tidak selesai, karena di situs resminya tertulis bahwa prosesnya adalah dua hari kerja.” Jawab saya, dengan menggunakan aku-kamu, tanpa baper. “Sementara di hari kedua, aku masih ada di pesawat.”

“Tapi, tidak ada salahnya dicoba, kan?”

e-Visa Kenya

Di antara kebimbangan apakah akan mengurus e-Visa ataupun mencoba keberuntungan dengan mengajukan Visa on Arrival di Jomo Kenyatta International Airport —dengan risiko akan ditolak terbang karena tidak memiliki visa, saya akhirnya memutuskan untuk mengurus e-Visa Kenya, dengan waktu terbatas yang dimiliki.

Categories: Kenya, Visa Kenya

Tagged: e-Visa Kenya, Kenya, Visa Kenya

65 Comments

+Read more

Turkish Ice Cream

40 Hal Seru yang Dapat Dilakukan di Cappadocia (Bagian Kedua)

arievrahman

Posted on March 27, 2018

Hampir dua tahun berselang sejak saya menulis artikel tentang Cappadocia dengan status bersambung selayaknya sinetron Tersanjung, dan belum menyelesaikan tulisannya. Kali ini, saya kembali lagi untuk melanjutkan artikel tersebut, karena pantang rasanya bagi seorang Aquarius untuk tidak menyelesaikan apa yang telah dia mulai. Bukan, ini bukan berbicara tentang kisah cinta, melainkan tentang once in a lifetime journey, to a beautiful place, called Cappadocia.

Sedikit flashback, perjalanan ini saya lakukan di penghujung 2016 bersamaan dengan undangan media trip dari Turkish Airlines yang membawa saya ke Istanbul dan Cappadocia, selama lima hari. Di Istanbul, saya tidak memiliki banyak waktu, hanya sempat main ke sekitaran Blue Mosque, termasuk mencoba dimandikan pria di hammam. Namun, di Cappadocia, saya memiliki lebih banyak waktu, dan bisa melakukan banyak sekali hal-hal terpuji di sana.

Baca: 40 Hal Seru yang Dapat Dilakukan di Cappadocia (Bagian Pertama)

Berikut, saya tuliskan lanjutan kisahnya.

21. Bertualang di Goreme Open Air Museum

Alkisah, lebih dari 2,5 juta tahun yang lalu, terbentuklah formasi batu-batuan lunak di Cappadocia akibat abu dan lava yang tumpah pasca erupsi yang melanda Gunung Erciyes. Berikutnya, batu-batuan tersebut sedikit demi sedikit mengalami erosi karena angin dan air, yang meninggalkan batuan keras di puncaknya.

Penduduk sekitar, tak mau tinggal diam melihat pleuang tersebut. Ya, daripada menunggu rumah DP 0% yang masih tidak jelas, mereka kemudian memahat sendiri tempat tinggalnya di dalam batu-batuan lunak tersebut, termasuk membuat gereja dan sekolah keagamaan di dalam goa yang dibuat sendiri.

Iya, pada zaman dahulu, penduduk Cappadocia adalah penganut Kristen Orthodox, hingga pada tahun 1923, mereka diusir oleh pemerintahan Islam di Turki, yang membuat mereka meninggalkan sebagian wilayah huniannya, yang sekarang menjadi Goreme Open Air Museum.

Goreme Cappadocia
Goreme Cappadocia
Source 1
Source 2

Sekarang, Goreme Open Air Museum telah menjadi satu dari dua destinasi UNESCO World Heritage List di Turki (sejak 1984) dan menjadi rumah dari peninggalan gereja yang dipahat dalam gua batu dengan lukisan-lukisan fresco yang warnanya tetap dibiarkan (atau dirawat) menyerupai aslinya.

Saking bagus perawatannya, kami tidak diizinkan untuk mengambil foto di dalam gereja-gereja yang ada di Goreme Open Air Museum, baik di St. Barbara Church, Apple Church (bukan, ini bukan iChurch buatan mendiang Steve Jobs), maupun Snake Church.

Categories: Foreign, Turkey

Tagged: Cappadocia, Kapadokya, Turkey, Turkish Airlines

19 Comments

+Read more

Perjalanan Menyebalkan ke Teriberka

arievrahman

Posted on February 28, 2018

Satu hal paling menyebalkan ketika traveling adalah keharusan untuk bangun pagi, di mana salah satu alasannya adalah karena jadwal jemputan tur yang mengharuskan saya untuk seperti itu. “We will go to Teriberka at 09.00 from Murmansk.” Kata Ivan dengan bahasa Inggris yang patah-patah, pada malam kedatangan saya di Murmansk, beberapa jam sebelumnya. “But, since your hotel is outside the city centre, we will pick you up at 08.20.”

Ya, saya memang baru tiba di Murmansk pada dini hari, di hari yang sama dengan jadwal tur ke Teriberka. Sedikitnya waktu liburan akibat jatah cuti yang terbatas, membuat saya harus pandai-pandai mengatur jadwal supaya tetap dapat mengunjungi banyak tempat sekaligus. Trik yang saya gunakan adalah dengan menggunakan penerbangan malam dari Moscow, dan lanjut memakai jasa tur di Murmansk untuk pergi ke Teriberka, wilayah paling utara dari Rusia yang langsung berbatasan dengan Samudera Arktik.

Ivan, adalah trip handler yang bertugas melayani berbagai kebutuhan saya (selain kebutuhan biologis) selama di Murmansk. Bukan, dia bukan Ivan Gunawan.

Murmansk Hotel

Pukul enam kurang, saya sudah terbangun pada penginapan yang saya pesan karena bentuknya yang lucu dan terlihat hangat di internet, yaitu sebuah hut kayu dengan kamar yang hangat di dalamnya, yang sayangnya hanya saya tempati sendiri tanpa Anna Kournikova dan Maria Sharapova yang menemani.

Entah mengapa, ketika liburan, saya selalu bisa bangun lebih pagi daripada ketika hari kerja di Jakarta.

Pukul tujuh pagi, saya sudah selesai mandi dan bersiap di kamar –yang nampak lebih cantik dengan adanya ornamen berbentuk wanita cantik di tembok, menyiapkan pakaian winter yang harapannya dapat menghangatkan saya di suhu antara -20º hingga -30º. Sambil menunggu jemputan, saya mulai melapisi tubuh saya dengan berbagai bahan yang dipercaya dapat menimbulkan kehangatan.

Categories: Foreign, Russia

Tagged: Arctic, Russia, Teriberka

99 Comments

+Read more

Kaleidoskop 2017 – Tahun Pertaruhan Karier

arievrahman

Posted on February 17, 2018

Tahun 2017, dapat dikatakan sebagai tahun yang bersejarah bagi karier saya, baik sebagai pegawai kantoran, maupun sebagai travel blogger. Bagaimana tidak, pada tahun 2017, saya telah resmi bekerja sebagai pegawai kantoran selama sepuluh tahun, dan telah lima tahun berselang sejak artikel pertama (yang tentu saja masih alay) diunggah pada blog ini. Iya, artikel pertama yang terkadang membuat saya malu, jijik, dan gatal-gatal apabila membacanya lagi.

But hey, writing is a process, right? Look at me now, sama saja sih.

Sekadar intermeso pada 2017 lalu, terjadi beberapa peristiwa penting yang menggemparkan Indonesia, juga dunia. Mulai dari saga Pilkada DKI yang hangat dengan isu-isu agama dan kesukuan, pelantikan Donald Trump –sahabat Fadli Zon– sebagai Presiden Amerika Serikat, hingga terkuaknya kasus korupsi e-KTP yang diwarnai dengan drama pelarian Setya Novanto –yang juga teman baik Fadli Zon– sebagai tokoh yang diduga menjadi aktor penting (yang layak mendapatkan Oscar sebagai pemeran pria terbaik) pada kasus tersebut. Selain peristiwa di atas, 2017 juga menghembuskan kabar duka bagi saya, dan rekan-rekan travel blogger di Indonesia, karena berpulangnya dua sahabat baik saya, yaitu Cumi Lebay dan Ipink Ibupenyu.

Saya menyebut tahun 2017 ini sebagai tahun pertaruhan karier, baik sebagai pegawai kantoran maupun sebagai travel blogger. Setelah sepuluh tahun bekerja, rasanya wajar apabila saya terkadang bimbang apakah masih harus ngantor, atau bisa quit your job and chase your dream. Kemudian, seusai lima tahun menulis secara rutin di blog ini, saya juga melontarkan pertanyaan ke dalam diri “Bagaimana cara saya mempertahankan eksistensi di dunia travel blogging yang saya pilih ini?”

Jawabannya, klise, tentu saja adalah dengan terus traveling dan terus menulis, supaya tidak dilupakan. Oleh karenanya, saya mencoba memberikan tantangan ke diri sendiri pada tahun 2017, yaitu, mampukan saya traveling ke luar negeri terus setiap bulannya? Let’s see.

Januari: Hong Kong

Negara pertama yang saya kunjungi (bersama Neng) tahun 2017 adalah Hong Kong, dengan bermodal tiket promo Malaysian Air seharga dua jutaan untuk penerbangan pulang pergi dari Jakarta. Berhubung jatah cuti yang tidak banyak, mau tidak mau saya harus sepintar mungkin memanfaatkan weekend, long weekend, dan Harpitnas untuk bepergian ke luar negeri.

Apakah bisa? Ya Insha Allah.

Disneyland Hong Kong

Akhir pekan di Hong Kong diwarnai dengan berkunjung ke Disneyland dan menonton pertunjukan kembang api di malam harinya. Selain Disneyland, Neng juga menyempatkan diri untuk berburu kosmetik dan skincare, sama seperti yang dilakukannya ketika berburu skincare di Myeongdong, Korea.

Categories: Domestic, Foreign

Tagged: Kaleidoskop

57 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!
  • 10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara
  • 9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya

Archives

Blog Stats

  • 5,485,438 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...