backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Oleh-oleh Macau

10 Alasan Mengapa Sebaiknya Kamu Tak Perlu Membelikan Oleh-oleh, Nomor 5 Akan Membuatmu Tercengang!

arievrahman

Posted on November 30, 2018

Halloween dan Thanksgiving bukanlah budaya kita; budaya kita adalah meminta oleh-oleh kepada kawan, kerabat, dan keluarga yang akan dan sedang jalan-jalan. Benarkah demikian? Lebih sering mana kamu mendengar kawan, kerabat, dan keluargamu berkata “Jangan lupa oleh-olehnya!” dibanding mengucap “Hati-hati di jalan.”, “Take care and have fun!“, “Safe flight!“, ataupun “Titip salam buat Pangeran Charles!” ketika mereka mengetahui kamu akan jalan-jalan?

Atau malah, jangan-jangan perkataan “Jangan lupa oleh-olehnya!” adalah sebuah standar basa-basi yang diucapkan ketika mengetahui seseorang yang kamu kenal akan dan sedang jalan-jalan? Ataukah itu ucapan lain untuk menyatakan “Hati-hati di jalan” seperti saya yang biasa berkata “Sudah makan belum?” untuk menunjukkan rasa sayang. Tapi kalau memang ini adalah sebuah basa-basi, maka ini adalah sebuah basa-basi yang buruk.

Sama buruknya seperti pedagang cendera mata yang terus memaksamu membeli sesuatu yang mereka dagangkan, walaupun kamu sudah bilang tidak. Walaupun tidak lebih buruk dibanding kamu di iklan layanan masyarakat yang berkata tidak, pada(hal) korupsi.

Pedagang suvenir di Perbatasan Kenya - Tanzania

Pedagang cendera mata di Perbatasan Kenya – Tanzania

Seperti laiknya rayuan pedagang cendera mata yang menyebalkan, tangisan mantan yang mengajakmu untuk balikan, ataupun doktrin dari para pengantin bom, permintaan membawa oleh-oleh tersebut secara tidak langsung akan masuk ke dalam pikiran dan relung hati yang terdalam, yang kemudian menjadi sebuah beban tersendiri yang akan terus menghantui si pejalan sepanjang liburan.

Pejalan ini, sebut saja saya, adalah seseorang yang memang kerap mendapatkan permintaan untuk membelikan oleh-oleh setiap kali saya jalan-jalan. Bayangkan, kalau misalkan pada 2017 saya jalan-jalan sesering ini, berapa banyak permintaan oleh-oleh yang saya dapatkan?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oleh-oleh berarti “sesuatu yang dibawa dari bepergian; buah tangan”. Walaupun sudah disebutkan bahwa oleh-oleh berarti sesuatu yang dibawa dari bepergian, namun mengapa mereka menolak kalau saya berikan pakaian yang kotor untuk dicuci, dompet yang kosong untuk diisi, dan fisik yang lelah untuk dipijat?

"Oleh-olehnya mana?"

"Tempelan kulkas gak ada?" 

"Kok gak bawa makanan khas sana?"

Saya kan jalan jalan pakai uang sendiri dan pakai jatah cuti sendiri, tapi mengapa kalau tidak membawa apa-apa, mereka yang marah? Herman deh. Herman Kardon.

Sebagai seorang pejalan, saya mempunyai 10 alasan, mengapa tidak sebaiknya kamu membelikan oleh-oleh bagi kawan di kantor, kerabat di rumah, dan keluarga di kampung halaman, yaitu:

Categories: Miscellaneous, Survival Kit

Tagged: Oleh-oleh, Suvenir

96 Comments

+Read more

Red Square Moscow

Panduan Lengkap Mengurus Sendiri Visa Rusia

arievrahman

Posted on November 11, 2018

“Maaf, tapi visa support yang Mas lampirkan, tidak dapat dipergunakan sebagai syarat pengajuan Visa Rusia.” Seorang petugas wanita berbaju putih menjelaskan sambil terus mengecek kelengkapan dokumen yang saya lampirkan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Visa Rusia. “Visa support yang dilampirkan, tidak mencakup keseluruhan perjalanan yang akan dilakukan, melainkan hanya di Murmansk saja.”

Saya mengambil visa support yang dikembalikan si petugas dalam gerakan dramatis, dan mengecek kembali data-data yang terdapat di sana. Pada perjalanan yang rencanananya akan saya lakukan selama lima hari, saya berencana mengunjungi dua kota di Rusia, yaitu Moscow dan Murmansk, namun Visa Support yang saya dapatkan dari sebuah biro perjalanan di Murmansk, hanya menjelaskan perihal rencana kunjungan saya di sana saja.

“Lalu solusinya bagaimanakah, Mbak?” Sambil memasang wajah sedih namun tetap optimis, saya berusaha tegar. Perlahan, saya ambil semua dokumen yang sudah saya siapkan sebelumnya.

“Ya berarti, Mas harus lengkapi dulu visa support yang mencakup perjalanan ke Moscow dan Murmansk, baru kembali lagi ke sini untuk mengurus visanya.” Jawabnya. “Kalau saran saya, bisa beli visa support di sini.” Wanita itu menuliskan dua buah nama dalam selembar kertas Post-It kecil berwarna kuning. Yang beli, bukan yang gratis, ya.

Sialan, jadi ketahuan kalau saya mendapatkan visa support secara gratis dari biro perjalanan di Rusia, kan? Saya memperhatikan dua buah nama yang tertulis di kertas tadi ‘BRONEVIK’ dan ‘AVEX TOUR’ tanpa sempat berargumen mengapa tidak ada Abu Tour di sana. Setelahnya, saya meninggalkan Kedutaan Besar Federasi Rusia untuk Indonesia bagian Konsuler, dengan janji akan kembali secepatnya.

Kedubes Rusia

Nama Rusia, muncul sebagai salah satu destinasi wisata yang ramai dibicarakan di tanah air dalam 2-3 tahun ke belakang sejak munculnya tiket murah dari Thai Airways, yang memungkinkanmu untuk bepergian ke Moscow dari Jakarta dengan tiket yang hanya seharga lima jutaan Rupiah, untuk penerbangan pulang pergi. Saya, termasuk yang beruntung karena berhasil mendapatkan tiket ke Rusia untuk liburan natal di penghujung 2017 dengan harga enam jutaan saja, –lebih murah dari cicilan bulanan rumah di Bintaro, atau setara dengan rata-rata harga tiket ke Jepang dengan menggunakan maskapai full-board.

Categories: Foreign, Russia, Survival Kit, Visa, Visa Rusia

Tagged: Rusia, Visa, Visa Rusia

99 Comments

+Read more

Backpackstory

Panduan Membuat Travel Blog (dan Memulai Hidup Sebagai Seorang Travel Blogger)

arievrahman

Posted on October 26, 2018

Apakah kamu berencana membuat travel blog? Berminat mengais rezeki dengan menjadi travel blogger bibit unggul? Atau malah kagum dengan salah satu travel blogger yang mana adalah bukan saya? Apabila jawabanmu adalah iya, maka selamat, kamu sudah berada pada jalur yang benar, pada salah satu artikel terpenting blog ini yang InsyaAllah akan memberikan pencerahan untukmu.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kamu punya mimpi?

Kalau punya dan kamu ingin cepat kaya, kebetulan saya sedang merintis bisnis MLM Young Living bernama Young & Glad. Namun kalau mimpimu menjadi seorang travel blogger yang (ingin kaya namun) tidak kaya-kaya seperti foto di bawah (foto di bawah ini adalah foto sebelum kaya (dan belum kaya-kaya sampai sekarang) –red), mungkin kamu harus membaca artikel ini dari awal sampai habis, jika mampu.

Siem Reap

Sejarah kehidupan travel blogging saya, sebenarnya bermula secara tidak sengaja, ketika saya menemukan bahwa ternyata saya menikmati proses menulis dan mampu menjadikan proses ini sebagai sebuah ‘pelarian’ dari rutinitas pekerjaan kantor. Diawali dari membuat akun Twitter di 2009 dan bergabung dengan komunitas menulis pendek bernama Fiksimini, saya belajar bagaimana sebuah tulisan pendek (hanya 140 karakter saat itu) dapat memberikan cerita yang fantastis. Kurang lebih seperti ini fiksimini yang pernah saya buat:

SEJAK BERCERAI. Aku dan Ibu mendapat rumah, sedangkan Bapak yang memegang kuncinya.

MILESTONE. Seribu tahun sejak Vitamin A ditemukan, cinta masih saja buta.

KELUARGA KAMI TERHARU. Setelah sekian lama menuntut ilmu, Ayah akhirnya memperoleh gelar. Almarhum.

Sebuah cara bercerita sederhana yang sebenarnya hanya terdiri dari tiga bagian, judul, set-up, dan punchline —seperti Six Word Stories kalau di luar negeri. Dari fiksimini yang singkat, saya mengembangkan tantangan menulis ini menjadi puisi dan cerita pendek di Tumblr sembari menulis beberapa cerita pendek fiksi penuh kegalauan yang juga untuk diterbitkan di buku berkelas internasional menurut penduduk Nigeria.

Ketika mulai ketagihan jalan-jalan di tahun 2011, sebuah tantangan baru muncul di benak saya –yang ternyata menyukai proses menulis ini (dan mungkin bisa stres sendiri kalau sudah beberapa minggu tidak menulis), “Bagaimana kalau saya gabungkan hobi jalan-jalan ini dengan kecintaan saya terhadap dunia tulis-menulis?”

Categories: Survival Kit

Tagged: Blog Perjalanan, Travel Blog, Travel Blogger

157 Comments

+Read more

Tantangan untuk Toyota Agya: One Day Trip ke Cirebon dan Kuningan

arievrahman

Posted on October 18, 2018

Dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, saya termasuk salah satu orang yang menganggap remeh Toyota Agya. Bodinya yang mungil, cc –kapasitas mesinnya yang kecil, dan harganya yang murah –sehingga digolongkan sebagai mobil LCGC (Low Cost Green Car) membuat saya pesimis bahwa mobil ini bisa dipakai untuk perjalanan jauh ke luar kota. “Ah, mungkin hanya bisa untuk antar jemput anak sekolah saja.” Saya membatin. “Kalaupun bisa dipakai untuk ke Bekasi atau Kelapa Gading, nyaman gak ya?”

Anggapan saya, bisa benar, bisa juga salah, karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan hadas besar. “Agya punya gue enak-enak saja kok.” Kata Stejo, seorang yang akan menjadi teman seperjalanan saya hari itu. “Biasa gue bawa ke luar kota pula.” Tambah cewek yang tinggal di Kalideres, Jakarta Barat dan bekerja di Bintaro, Tangerang Selatan ini.

“Luar kotanya, Kalideres ke Bintaro?” Yeah, right. “Tapi kan kita hari ini mau ke Cirebon dan Kuningan!”

“Nanti coba elu tes sendiri deh, kalau gak percaya.” Sungutnya, sambil memberikan sebuah kunci milik Toyota Agya TRD-S tahun 2017 berwarna merah mengilap yang diparkir di halaman dealer Toyota Trust di Kawasan Niaga Bintaro Sektor 7, Jalan MH Thamrin Blok B No. 2, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, itu. Ya, hari itu, saya akan menantang Toyota Agya ini untuk bepergian ke luar kota, dengan menempuh jarak lebih dari 200 kilometer sekali jalan, dari Bintaro ke Cirebon, dengan menambahkan Kuningan ke dalam daftar perjalanan kami. Kuningan Jawa Barat, bukan Kuningan in the South Jakarta, guys.

 

Toyota Trust Bintaro
Toyota Trust Bintaro
Toyota Trust Bintaro
Toyota Trust Bintaro

Saya mengitari si merah satu kali tanpa sempat beribadah tawaf, dan mulai mengagumi kemolekan tubuhnya, tanpa bermaksud seksis. Dari luar terlihat mulus, tidak terlihat bekas operasi seperti halnya tahi lalat Eno Lerian. Namun bagaimana dengan kondisi mesinnya? Saya kan juga harus mencobanya –kalau kata anak zaman sekarang, test drive dulu, sebelum dibeli.

“Kalau mobil bekasnya Toyota Trust sih dijamin mantul!” Seru Stejo, seolah bisa membaca pikiran saya, seperti Alan Parsons.

Categories: Domestic, GMT +7, Jawa Barat, Miscellaneous, Survival Kit, Transportation

Tagged: Agya, ASTRA, Auto 2000, Cirebon, Kuningan, Toyota Trust

12 Comments

+Read more

Summer in Hong Kong

Musim Panas di Hong Kong? Siapa Takut!

arievrahman

Posted on October 7, 2018

Saya menyeka keringat yang mengucur di dahi, dan membiarkan buliran-buliran lain mengalir hingga membuat kaus saya menjadi basah. Saat itu adalah musim panas di Hong Kong, di mana temperatur bisa mencapai lebih dari empat puluh derajat Celsius, dan membuat orang yang besar di kawasan pegunungan seperti saya, harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Panas, bukan berarti akhir dari segalanya, karena di Hong Kong, musim panas justru adalah saat untuk memulai semuanya.

Bagi saya, musim panas adalah musim yang sangat tepat untuk mengunjungi Hong Kong, karena ini musim di mana langit berwarna biru cerah sepanjang hari tanpa hujan, dengan awan-awan putih beriringan di langit, burung-burung berkicau di kandang, dan matahari yang bersinar lebih lama daripada musim yang lain.

Setahun sebelumnya, 2012, saya mengunjungi Hong Kong di awal tahun pada musim dingin, dan hanya mendapatkan langit kelabu dengan suhu yang membuat badan menggigil. Belum lagi hujan yang mengguyur Disneyland Hong Kong kala itu, membuat saya yang datang salah kostum dengan kaus oblong dan celana pendek terpaksa cemberut karena rugi bandar.

Pengalaman yang membuat kunjungan musim panas di Hong Kong selanjutnya menjadi sangat spesial dan so #summerfun.

Summer in Hong Kong

Tak usah kamu hiraukan panas yang menyengat, tetaplah #soulcool, karena itu masih lebih baik daripada hujan yang mengurung kamu seharian di hotel, toh kamu masih dapat berjalan-jalan dengan baju yang simpel tanpa perlu membawa jaket tebal seperti di musim dingin. Paling kamu hanya perlu menyiapkan sunblock, kacamata hitam, ataupun topi dan payung untuk melindungimu dari panas matahari; air mineral untuk membuatmu tetap terhidrasi sepanjang perjalanan.

Juga persiapkanlah fisik dan stamina yang prima karena banyak sekali aktivitas yang dapat kamu lakukan untuk #DiscoverHongKong ketika musim panas.

Categories: Foreign, Hong Kong

Tagged: Discover Hong Kong, Hong Kong, summer, Wego

36 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • 10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara
  • 9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya
  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,397 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...