10 Alasan Mengapa Sebaiknya Kamu Tak Perlu Membelikan Oleh-oleh, Nomor 5 Akan Membuatmu Tercengang!
arievrahman
Posted on November 30, 2018
Halloween dan Thanksgiving bukanlah budaya kita; budaya kita adalah meminta oleh-oleh kepada kawan, kerabat, dan keluarga yang akan dan sedang jalan-jalan. Benarkah demikian? Lebih sering mana kamu mendengar kawan, kerabat, dan keluargamu berkata “Jangan lupa oleh-olehnya!” dibanding mengucap “Hati-hati di jalan.”, “Take care and have fun!“, “Safe flight!“, ataupun “Titip salam buat Pangeran Charles!” ketika mereka mengetahui kamu akan jalan-jalan?
Atau malah, jangan-jangan perkataan “Jangan lupa oleh-olehnya!” adalah sebuah standar basa-basi yang diucapkan ketika mengetahui seseorang yang kamu kenal akan dan sedang jalan-jalan? Ataukah itu ucapan lain untuk menyatakan “Hati-hati di jalan” seperti saya yang biasa berkata “Sudah makan belum?” untuk menunjukkan rasa sayang. Tapi kalau memang ini adalah sebuah basa-basi, maka ini adalah sebuah basa-basi yang buruk.
Sama buruknya seperti pedagang cendera mata yang terus memaksamu membeli sesuatu yang mereka dagangkan, walaupun kamu sudah bilang tidak. Walaupun tidak lebih buruk dibanding kamu di iklan layanan masyarakat yang berkata tidak, pada(hal) korupsi.

Pedagang cendera mata di Perbatasan Kenya – Tanzania
Seperti laiknya rayuan pedagang cendera mata yang menyebalkan, tangisan mantan yang mengajakmu untuk balikan, ataupun doktrin dari para pengantin bom, permintaan membawa oleh-oleh tersebut secara tidak langsung akan masuk ke dalam pikiran dan relung hati yang terdalam, yang kemudian menjadi sebuah beban tersendiri yang akan terus menghantui si pejalan sepanjang liburan.
Pejalan ini, sebut saja saya, adalah seseorang yang memang kerap mendapatkan permintaan untuk membelikan oleh-oleh setiap kali saya jalan-jalan. Bayangkan, kalau misalkan pada 2017 saya jalan-jalan sesering ini, berapa banyak permintaan oleh-oleh yang saya dapatkan?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oleh-oleh berarti “sesuatu yang dibawa dari bepergian; buah tangan”. Walaupun sudah disebutkan bahwa oleh-oleh berarti sesuatu yang dibawa dari bepergian, namun mengapa mereka menolak kalau saya berikan pakaian yang kotor untuk dicuci, dompet yang kosong untuk diisi, dan fisik yang lelah untuk dipijat?
"Oleh-olehnya mana?" "Tempelan kulkas gak ada?" "Kok gak bawa makanan khas sana?"
Saya kan jalan jalan pakai uang sendiri dan pakai jatah cuti sendiri, tapi mengapa kalau tidak membawa apa-apa, mereka yang marah? Herman deh. Herman Kardon.
Sebagai seorang pejalan, saya mempunyai 10 alasan, mengapa tidak sebaiknya kamu membelikan oleh-oleh bagi kawan di kantor, kerabat di rumah, dan keluarga di kampung halaman, yaitu:
