Dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, saya termasuk salah satu orang yang menganggap remeh Toyota Agya. Bodinya yang mungil, cc –kapasitas mesinnya yang kecil, dan harganya yang murah –sehingga digolongkan sebagai mobil LCGC (Low Cost Green Car) membuat saya pesimis bahwa mobil ini bisa dipakai untuk perjalanan jauh ke luar kota. “Ah, mungkin hanya bisa untuk antar jemput anak sekolah saja.” Saya membatin. “Kalaupun bisa dipakai untuk ke Bekasi atau Kelapa Gading, nyaman gak ya?” Anggapan saya, bisa benar, bisa juga salah, karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan hadas besar. “Agya punya gue enak-enak saja kok.” Kata Stejo, seorang yang akan menjadi teman seperjalanan saya hari itu. “Biasa gue bawa ke luar kota pula.” Tambah cewek yang tinggal di…