backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Peju: Sebuah Catatan Kehidupan (Part 2)

arievrahman

Posted on April 20, 2013

…Cerita ini adalah kelanjutan dari sini

Macau, Januari 2012

Dengan penuh gegap gempita, saya melangkahkan kaki bersama figuran 2, figuran 7, figuran 8, dan figuran 9 di sekitar Senado Square, tempat yang paling ramai dikunjungi turis — bukan penjudi — di Macau. Suhu udara yang mencapai belasan derajat celsius telah membuat saya mengkerut, maklum waktu itu adalah pertama kali saya bepergian ke luar negeri pada musim dingin. Demikian juga dengan Peju.

Tak mempedulikan hawa dingin yang menjalar di sekujur bulu, saya mengambil beberapa foto dengan menggunakan Peju di depan gereja St. Augustine. Klik!, Klik!, Klik!, mati.

Iya, Peju tiba-tiba tak bisa digunakan kembali. Terdengar suara dengkuran dari arah konektor baterainya, dan sepertinya dia sedang tertidur pulas. Saya mencoba mencabut baterai, berulang kali sampai lecet namun tak berhasil. Saya kesal, karena ternyata Tokocamzone tak berhasil memperbaiki Peju dengan baik, juga karena sebentar lagi kami akan menuju reruntuhan gereja St. Paul yang fenomenal, dan saya tak bisa berpose seperti ini di depan Peju.

IMG_1481

Saya di depan reruntuhan St. Paul church (gambar diambil dengan Canon G-11 milik figuran 2)

 

Mie, Oktober 2012

Dengan gaya traveling nomaden yang kami lakukan, yaitu lebih memilih menginap di bus malam ketika berpindah-pindah tiap kota, wajar jika masalah kelistrikan menjadi problem utama kami. Di Jepang, sangat susah mencari socket/colokan listrik yang available di tempat umum. Dari empat kali naik bus malam, hanya satu kali kami mendapatkan bus yang dilengkapi colokan listrik, lainnya tak ada yang bisa dicolok. Pernah juga kami meminta izin untuk menggunakan socket yang terpasang di tembok stasiun pada penjaga stasiun, namun ditolak. Beberapa rumah makan seperti McD dan KFC memiliki socket yang dapat digunakan secara cuma-cuma, cukup dengan membeli Shaker Fries. Yang paling parah adalah Yoshinoya di Osaka, ketika terang-terangan melarang kami menggunakan socket yang tersedia di sana, walaupun saya dan figuran 10 telah membeli semangkok Unagi Bowl yang sangat lezat seharga ¥640. Huft.

Lalu apa hubungan cerita antara socket dengan Peju? Dengan minimnya pasokan listrik, kami harus pintar menghemat dan membagi-bagi sumber daya yang kami punya seperti baterai kamera, baterai handphone, hingga mesin cuci. Imbasnya, kami pun bergantian dalam menggunakan kamera antara milik saya, figuran 10, atau figuran 11.

Overall, tak ada masalah berarti yang dihadapi saya bersama Peju selama di Jepang, karena saya pun teah menyiapkan baterai cadangan untuk Peju sebagai antisipasi apabila diperlukan. Bahkan Peju masih bisa mengambil gambar saya yang berpose manis di bawah ancaman pedang sang ninja manis di desa ninja, Prefektur Mie.

Categories: Miscellaneous, Others, Survival Kit

Tagged: Camera, Macau, Mie, Mumbai, Nikon, P-7000, Service Center Nikon, Surabaya, Tokocamzone

24 Comments

+Read more

Apa Itu Jailolo?

arievrahman

Posted on April 7, 2013


Tulisan ini diikutkan dalam “Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo

Tak ada yang aneh dari linikala Twitter hari itu. Banyak tweet-tweet random melintas, dan beberapa tweet informatif yang muncul. Hingga akhirnya, saya menemukan sebuah retweet-an yang menggelitik rasa penasaran “RT @jailolofest: JAILOLO, I’M COMING! 2 pemenang akan terbang ke Jailolo untuk menyaksikan #FTJ2013 di Maluku Utara, GRATIS!”

GRATIS!

Hari gini siapa yang gak suka gratisan? Bahkan Aburizal Bakrie sekalipun tak akan menolak jika diberikan Lamborghini Gallardo LP550-2 secara gratis.

Terbang ke Maluku Utara

Saya belum pernah ke Maluku, dan terbang ke sana adalah ide yang bagus.

JAILOLO

Apakah itu Jailolo? Saya diam beberapa saat sebelum bertanya kepada beberapa kawan: “Apa itu Jailolo?”

Orang pertama mengatakan “Saya tidak tahu mengenai Jailolo.”

Orang kedua balik bertanya “Emang apaan Jailolo?”

Orang ketiga malah menjawab: “Jailolo? Yang istrinya Marc Anthony itu?”

Kecewa dan sakit hati dengan jawaban mereka, saya memutuskan mencari tahu tentang Jailolo di Google. Dan beberapa hasil pencarian yang muncul mengatakan:

  1. “Jailolo is a volcanic complex on a peninsula (Jailolo Bay), west of Halmahera island.” Oh, di Jailolo ada gunung dan teluk.
  2. “Jailolo is a town and former sultanate on Halmahera in Indonesia‘s Maluku Islands. It is located on the island’s west coast approximately 20 km north of Ternate.” Oh, di Jailolo ada kota dan bekas kesultanan yang terletak di Halmahera Kepulauan Maluku, sekitar 20 kilometer di utara Ternate.
  3. “Gilolo atau yang disebut Jailolo adalah nama pulau di Provinsi Maluku Utara. Jailolo atau Gilolo adalah nama lain yang diberikan penduduk setempat untuk Pulau Halmahera di Provinsi Maluku Utara. Di sini digelar Festival Teluk Jailolo yang merupakan festival tahunan dan didukung komunitas budaya, pemerintah daerah, dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.” Cukup jelas.

Cukup jelas dengan tulisan, saya berinisiatif mencari foto-foto Jailolo di internet, dan apa yang saya dapatkan di sana dan di sini sungguh membuat saya semakin berdecak kagum.

Categories: Events

Tagged: Festival Teluk Jailolo 2013, Halmahera, Jailolo, Maluku

19 Comments

+Read more

Peju: Sebuah Catatan Kehidupan (Part 1)

arievrahman

Posted on March 27, 2013


Jakarta, Desember 2010

Dua orang pemuda tanggung (gantengnya, bukan ukurannya. -red) berjalan santai memasuki riuhnya ITC Fatmawati, mereka mencari sebuah toko kamera yang saat itu cukup terkenal secara on-line yang bernama Tokocamzone. Salah seorang pemuda itu, sebut saja saya (sementara pemuda lainnya, sebut saja figuran 1. -red) sedang mencari sebuah kamera yang bisa memuaskan hasrat duniawinya akan fotografi. Kriterianya jelas, yang bisa memotret di berbagai suasana, hasil fotonya bagus dan tajam, bodinya kuat dan ringkas, serta penampilannya keren.

“Ini saja, Mas.” Kata seorang pria berlogat Jawa medok penjaga Tokocamzone, kepada saya sambil mengeluarkan dua buah pilihan kamera dari etalase. “Kalau ndak Canon G12 ya Nikon P-7000.”

“Apik sing endi, Mas?” Jawab saya, tak kalah medok-nya. “Bentuk dan bodinya hampir sama. Terus bedanya apa?”

“Yang satu Canon, satunya Nikon.” Ujar si penjaga yang disambut suara jangkrik di kolong etalase.

Krik krik.

“Aku serius, Mas.”

“Iya aku juga serius, Dik. Apa perlu aku kenalkan kepada kedua orang tuaku?”

Krik krik.

“Secara overall hampir sama fiturnya.” Pria penjaga toko tersebut menjelaskan yang sekaligus membuyarkan lamunan saya seketika.  “Cuma bedanya kalau Canon ada LCD yang bisa diputar-putar jadi lebih mudah kalau mau mengambil sudut foto, sementara Nikon lebih panjang zoom-nya jadi bisa lebih puas kalau nge-zoom cewek dari jauh.”

“Oke Mas, saya ambil yang Nikon!”

“…”

nikon-p7000-e1

Penampakan Nikon P-7000 (gambar diambil dari internet)

Dan itulah awal mula kehadiran Nikon P-7000, yang kemudian secara sophisticated saya namakan dengan “Peju” yang merupakan singkatan dari P-7000. Pengucapan Peju sendiri adalah “Pe” bukan seperti pada “petualangan” atau pada “perjalanan” melainkan seperti “Pe” pada “Jupe” atau pada “Julia Perez.”


Penang, Januari 2011

“Jadi mau bawa kamera siapa nih? Biar gak repot di sana nanti.” Tukas figuran 2 kepada saya, sehari sebelum kami bertolak ke Penang untuk berlibur. “Kameramu, atau kameraku?”

“Kameraku aja bro, ini ada manual mode-nya, banyak setting-nya, bisa panorama, dan bisa … nge-zoom cewek dari jauh.”

“…”

DSCN0830

Peju goes to Penang

Hari hampir gelap, ketika kami sampai di halaman Masjid Kapitan Keling. Saya memandang ke layar Peju, mengingat banyaknya peristiwa yang telah kami abadikan hari itu. Indikator baterai pun berkedip di layar, menandakan bahwa baterai sudah mau habis. Saya menekan tombol shutter setengah, mengunci fokus pada kubah masjid tersebut. Dan … KLIK!

Baterai habis, sehingga terpaksa Peju harus beristirahat di hari itu.

Penang, di awal tahun 2011 adalah saat pertama kali Peju bertualang ke luar negeri. Dan dari hasil pembicaraan saya dengan Peju, dia mengaku sangat deg-deg-an waktu pertama kali keluar Indonesia, maklum dia pergi bersama orang yang baru dikenalnya, dan saat itu dia pergi tanpa membawa paspor.

Categories: Miscellaneous, Others, Survival Kit

Tagged: Ayutthaya, Bromo, Camera, DKI Jakarta, Mui Ne, Nikon, P-7000, Penang, Tokocamzone

36 Comments

+Read more

Bukan Cuma Komodo yang Ada di Flores

arievrahman

Posted on March 18, 2013

DSCN0044

Dermaga kayu di Loh Buaya

Selepas siang, kapal kami berangkat kembali dari Loh Buaya, meninggalkan ribuan komodo di Pulau Rinca yang tak tampak sedih dengan kepergian kami. Tak ada satupun komodo tersebut yang mengetahui bahwa ketika berada di Loh Buaya, saya bertemu dengan salah seorang legenda diving Indonesia yaitu Bapak Wally (Wilhelm) Siagian.

Dengan wajahnya yang selalu terkekeh, pria bertelanjang dada itu datang dengan rokok dan sebotol bir yang hampir habis di tangan kanannya.

“Itu Pak Wally.” Salah seorang anggota rombongan memberi tahu saya.

“Wally who? Yang nyanyi Cari Jodoh, Baik-baik Sayang, Dik?”

“Bukan Mas, Wally Siagian, beliau … diver legendaris Indonesia.”

“Oohh..”

*long silence*

“Konon, dia bisa menyelam sambil minum sebotol bir itu di dalam laut.”

“Bisa ngerokok juga di dalam laut?”

*longer silence*

DSCN0058

Salah satu legenda diving Indonesia

Dari hasil survey sana-sini berikutnya, saya mendapatkan fakta bahwa dari hasil penyelaman yang telah dilakukannya lebih dari 7.000 kali, Pak Wally telah menemukan empat spesies baru di lautan, yaitu tiga jenis ikan, dan satu kepiting mini berbulu yang berwarna ungu cantik yang dinamakan dengan namanya sendiri untuk menghormati penemuannya. Sebagai diver senior, Beliau telah berkeliling nusantara untuk  menjelajahi keindahan alam bawah lautnya. Dan salah satu favoritnya adalah Flores.

Pertanyaan pun berkecamuk di pikiran saya, “Ada apakah di Laut Flores?”

DSCN9994

Kiri, Bang!

Sejak sebelum mendarat di Labuan Bajo hari kemarin, saya telah melihat pemandangan menawan dari kaca jendela pesawat yang saya naiki. Gradasi lautan biru ke hijau toska tampak kontras dengan pulau-pulau khas wilayah Indonesia Timur yang kebanyakan kering dan tandus. Pemandangan tersebut membuat saya tak sabar ingin segera menceburkan diri ke lautnya. Sungguh, andai saya menggunakan Kopaja ke Flores, pasti saya tak akan segan untuk langsung berteriak “KIRI BANG!” ketika melihatnya.

Categories: Domestic, Nusa Tenggara Timur

Tagged: Flores, Kanawa, Komodo, Nusa Tenggara Timur, Pink Beach

24 Comments

+Read more

Cinta dalam Sebuah Perjalanan

arievrahman

Posted on March 7, 2013


Sebagian orang melakukan perjalanan untuk mencari cinta, sebagian lainnya untuk melupakan cinta, sementara mereka yang beruntung menempuh perjalanan untuk menikmati cinta.


Singapura, 2010

Berbekal paspor yang masih perawan, — yang setelah perjalanan ini, menjadi tak perawan lagi karena perlakuan senonoh pihak imigrasi — saya memantapkan diri mengunjungi Singapura, tempat di mana seorang wanita yang saya cintai pergi dan kemudian melupakan cintanya saya kehilangan cintanya.

Perjalanan tersebut berlangsung menyenangkan sekaligus menyedihkan, menyenangkan karena saya mendapat pengalaman baru bepergian ke luar negeri, namun menyedihkan karena sejauh kaki melangkah saya masih tak dapat menemukan jejak di mana cinta saya ditinggalkan — dan ditanggalkan — olehnya di Singapura.

Mulai dari Serangoon Road, saya berjalan ke arah selatan, melewati Bugis Street yang ramai dengan pasarnya, berhenti sejenak untuk mengagumi Merlion Park yang merupakan landmark paling terkenal dari Singapura, sebelum melanjutkan perjalanan saya menuju Sentosa Island.

Sentosa Beach

Perjalanan mencari cinta.

Saya duduk terdiam selama beberapa saat pada sebuah pantai buatan di Pulau Sentosa, memikirkan ke mana perginya cinta itu. Saya memang tak menemukan cinta tersebut, namun saya mendapatkan sebuah cinta yang baru — yang menjadi alasan saya untuk terus bepergian — yaitu, saya jatuh cinta dengan keindahan alam ciptaan Tuhan yang dengan keanekaragaman budaya dan suku bangsanya, telah membuat saya menyadari bahwa dunia, bukan cuma sekadar Jakarta yang penuh sesak dan macet.

Karimunjawa, 2012

Saya menatap lembaran kertas di tangan, di mana beberapa kalimat telah tergores di sana. Mengingat hal-hal baik di masa lalu, sebagai upaya melupakan kenangan buruk yang pernah dialami. Deburan ombak pagi itu membawa saya berkeliling Kepulauan Karimunjawa, menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, dan melupakan cinta yang telah lalu.

Karimun Jawa

Perjalanan melupakan cinta

Mulai dari snorkeling di Gosong Kemlaka dengan terumbunya yang beragam, menikmati ikan bakar di Pulau Tengah yang berpasir putih, — yang sayangnya hari itu ramai sekali, karena bertepatan dengan long weekend — hingga mencelupkan diri ke kolam hiu, berharap ikan-ikan buas tersebut akan mencaplok ingatan saya tentang cinta di masa lalu.

Dan semuanya berhasil, kenangan-kenangan kelam di masa silam tersebut akhirnya tertumpuk dengan keseruan-keseruan baru yang terjadi saat itu. Saya, secara resmi telah berhasil melupakan cinta.

Lombok, 2013

Categories: Domestic, Events, Foreign, Jawa Tengah, Miscellaneous, Singapore, Transportation

Tagged: Cinta, Garuda Indonesia, Holycow Radal, indtravel, Jawa Tengah, Karimunjawa, kompasiana, Lombok, Singapore

16 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!

Archives

Blog Stats

  • 5,485,861 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...