DSCN0044

Dermaga kayu di Loh Buaya

Selepas siang, kapal kami berangkat kembali dari Loh Buaya, meninggalkan ribuan komodo di Pulau Rinca yang tak tampak sedih dengan kepergian kami. Tak ada satupun komodo tersebut yang mengetahui bahwa ketika berada di Loh Buaya, saya bertemu dengan salah seorang legenda diving Indonesia yaitu Bapak Wally (Wilhelm) Siagian.

Dengan wajahnya yang selalu terkekeh, pria bertelanjang dada itu datang dengan rokok dan sebotol bir yang hampir habis di tangan kanannya.

“Itu Pak Wally.” Salah seorang anggota rombongan memberi tahu saya.

“Wally who? Yang nyanyi Cari Jodoh, Baik-baik Sayang, Dik?”

“Bukan Mas, Wally Siagian, beliau … diver legendaris Indonesia.”

“Oohh..”

*long silence*

“Konon, dia bisa menyelam sambil minum sebotol bir itu di dalam laut.”

“Bisa ngerokok juga di dalam laut?”

*longer silence*

DSCN0058

Salah satu legenda diving Indonesia

Dari hasil survey sana-sini berikutnya, saya mendapatkan fakta bahwa dari hasil penyelaman yang telah dilakukannya lebih dari 7.000 kali, Pak Wally telah menemukan empat spesies baru di lautan, yaitu tiga jenis ikan, dan satu kepiting mini berbulu yang berwarna ungu cantik yang dinamakan dengan namanya sendiri untuk menghormati penemuannya. Sebagai diver senior, Beliau telah berkeliling nusantara untuk  menjelajahi keindahan alam bawah lautnya. Dan salah satu favoritnya adalah Flores.

Pertanyaan pun berkecamuk di pikiran saya, “Ada apakah di Laut Flores?”

DSCN9994

Kiri, Bang!

Sejak sebelum mendarat di Labuan Bajo hari kemarin, saya telah melihat pemandangan menawan dari kaca jendela pesawat yang saya naiki. Gradasi lautan biru ke hijau toska tampak kontras dengan pulau-pulau khas wilayah Indonesia Timur yang kebanyakan kering dan tandus. Pemandangan tersebut membuat saya tak sabar ingin segera menceburkan diri ke lautnya. Sungguh, andai saya menggunakan Kopaja ke Flores, pasti saya tak akan segan untuk langsung berteriak “KIRI BANG!” ketika melihatnya.

Penantian saya untuk mencicipi laut Flores akhirnya terjawab ketika kapal merapat ke sebuah pulau bernama Pulau Kanawa. Sebuah dermaga kayu dengan hammock yang tergantung menyambut kedatangan kami di sana. “No Parkir No Jangkar” demikian papan pengumuman di sana berkata karena sejatinya, jangkar akan merusak keindahan terumbu karang di lautan yang indah tersebut. Akhirnya kapal kami hanya merapat sejenak, sebelum nantinya kembali untuk menjemput kami lagi.

DSCN0184

No Parkir, No Jangkar!

Lautan yang bening dan dangkal membuat kami tak sabar untuk segera menceburkan diri ke sana, walaupun beberapa peserta akhirnya memutuskan hanya berjalan-jalan di pinggir pantainya yang panjang karena malas atau tak bisa berenang. Saya, termasuk yang malas. Dan hanya memutuskan untuk menikmati keindahannya dari pinggir pantai sambil sesekali membasahi kaki di lautnya.

DSCN0217

Umm, ini … apa ya?

Kunjungan kami di sini berakhir ketika sunset menjemput, kami berjalan di dermaga menuju kapal sembari menyaksikan matahari turun lamat-lamat di kejauhan, indah. Dan akan lebih terasa indah kalau ke sini bersama pasangan, lalu bergandengan tangan.

DSCN0239

Sunset di Kanawa

Ada yang bilang, belum ke Flores kalau belum mampir ke Pink Beach. Dan itulah yang kami lakukan di hari berikutnya, mengunjungi Pink Beach yang merupakan salah satu dari (kabarnya) tujuh pantai berwarna langka di dunia. Pink Beach, dinamakan seperti ini karena memang pantai ini memiliki pasir berwarna merah muda, yang konon terbentuk dari batuan laut berwarna merah yang terkikis selama bertahun-tahun. Lihatlah ketika ombak datang, dan menyapu pasirnya kembali ke daratan, maka kamu akan mendapatkan warna pink yang menawan.

DSCN0461

Pasir merah muda dan bule bertato

Selepas makan siang, — dengan ikan bakar, cumi-cumi raksasa, dan sambal kecap yang lezat — saya pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Pink Beach sebelum terjun untuk snorkeling. Di sebelah kiri pantai — jika dilihat dari arah kapal datang — ada bukit yang cukup tinggi, yang menawarkan keindahan pemandangan laut di bawahnya. Dan setelah saya mendaki ke atas, saya capek menemukan sebuah semenanjung yang seakan terletak di ujung dunia. Di sana saya bersyukur bahwa Tuhan menciptakan alam yang indah ini.

DSCN0442

God creates the earth, and traveling; is how we appreciate it.

Saya mengenakan goggle dan mulai snorkeling di Pink Beach, sengaja saya tidak memakai life vest karena ingin sesekali menyelam ke dasar lautan yang cukup dangkal tersebut. Saya membiarkan arus laut membawa saya dari satu sudut ke sudut lainnya, dan walaupun visibility hari itu kurang jernih, namun saya masih mampu melihat terumbu karang berwarna-warni dan ikan-ikan yang berlarian centil seperti ABG melihat Om-om senang datang. Kunjungan saya di pantai ini diakhiri dengan mendaki bukit di sebelah kanan pantai yang relatif lebih pendek dari bukit sebelumnya. Bak anak kecil di Laskar Pelangi, saya berlari semangat ke puncak bukitnya. Bukan karena girang, tapi karena kepanasan akibat lupa memakai sandal di atas rerumputan yang mengering karena terbakar terik matahari Indonesia Timur.

I am hot.

DSCN0487

Tolong fokus ke pantainya.

Petualangan saya di Flores kali ini berakhir dengan sebuah kesimpulan bahwa bukan cuma Komodo yang ada di sana, melainkan ada pantai yang menawan, lautan yang mempesona, dan Pak Wally Siagian yang selalu ceria.

*longest silence*

Artikel ini, adalah lanjutan dari petualangan saya di sini, dan di sini.

Advertisements