backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Daftar Lengkap Lokasi Objek Wisata Alam Super Kece yang Dapat Kamu Kunjungi dengan Trekking di Sentul dan Sekitarnya (Bagian Pertama)

arievrahman

Posted on December 25, 2020

Nama Sentul, mungkin makin terdengar belakangan ini sebagai destinasi wisata yang paling banyak diburu oleh penduduk Jakarta dan sekitarnya, terlebih ketika pandemi corona melanda Konoha. Di awal pandemi, orang-orang banyak yang berdiam diri di rumah, sambil melakukan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan. Setelahnya mereka mulai berolahraga di sekitar rumah sambil tetap menjaga *say the magic words* protokol kesehatan, dan belakangan ini, kebanyakan orang sudah mulai mencari beberapa alternatif lokasi wisata yang dinilai relatif aman untuk dikunjungi semasa pandemi.

Salah satunya Sentul, yang dapat ditempuh dari Jakarta dalam waktu kurang dari satu jam perjalanan, apabila kamu berangkat pagi dan tidak terjebak macet karena demo di depan gedung MPR. Lantas, mengapa Sentul yang dipilih untuk berwisata? Mengapa bukan Depok, Bekasi, ataupun Bantar Gebang?

Jadi seperti ini alasannya. Sentul dipilih, karena menyajikan banyak sekali objek wisata alam super kece yang mungkin sebelumnya kamu tidak sadar kalau pemandangan seperti itu ada di sekitar Jakarta. Berwisata di alam terbuka di bawah sinar matahari yang cukup dan sirkulasi udara yang baik, menurut beberapa penelitian, dapat  mengurangi risiko terpapar corona, apabila dibandingkan di dalam ruangan kantor yang ber-AC dan tertutup dengan ventilasi buruk ataupun di dalam metromini yang penuh sesak dengan manusia. Kemudian, banyak objek wisata alam di Sentul yang dapat dicapai dengan aktivitas trekking sebelumnya, sehingga memungkinkan pengunjung untuk dapat berolahraga sambil berwisata, atau istilah kerennya Sport Tourism.

Trekking Sentul Gunung Pancar

Pun demikian seperti saya –yang saat ini sudah hampir satu tahun tidak melakukan perjalanan jauh dengan pesawat terbang baik ke dalam maupun luar negeri, yang sudah tiga bulan terakhir ini rajin menjelajah setiap jengkal di Sentul, baik untuk berwisata maupun untuk menyiapkan rencana pensiun sambil memelihara burung (burung sendiri, bukan burung tetangga) dan merawat janda bolong di sana. Makin sering ke Sentul, saya makin menyadari bahwa Indonesia ini sangatlah kaya alamnya, karena saya senantiasa menemukan banyak sekali hal-hal baru di Sentul dan sekitarnya. Mulai dari hutan pinus nan rimbun, persawahan hijau kalau sedang tidak musim panen, sungai-sungai jernih dengan gemericik air yang merdu, suasana pedesaan yang ramah, hingga kumpulan air terjun yang menawan, semuanya (ternyata) ada di Sentul.

Seperti kata pepatah “Tiada rotan, Raam Punjabi” maka tiada Seoul, Sentul pun tak mengapa; maka inilah dia daftar lengkap* lokasi objek wisata alam super kece yang telah (saya kunjungi dan) dapat kamu kunjungi dengan trekking di Sentul dan sekitarnya, apabila mampu.

Categories: Domestic, GMT +7, Jawa Barat

Tagged: curug, Sentul, trekking, whatravel

20 Comments

+Read more

Danau Biru Cisoka

Ada Apa di Balaraja dan Cisoka?

arievrahman

Posted on November 28, 2020

Telaga Biru Cisoka. Sebuah ‘objek wisata’ yang pertama kali saya dengar namanya dari Iyoq, melalui sebuah obrolan iseng di WhatsApp. Apabila pada tahun-tahun sebelumnya Iyoq suka berwisata ke tempat yang jauh, maka kali ini dia mengatakan bahwa pandemi ini telah ‘memaksanya’ untuk bepergian ke tempat-tempat wisata yang dekat dengan tempat tinggalnya “Gue kemarin habis dari Kandang Gozilla, dan minggu lalunya lagi habis ke Telaga Biru Cisoka”. Ceritanya dengan semangat, yang diakhiri dengan tertawa a la om-om, wkwkwk.

Saya kurang lebih sependapat dengan Iyoq, teman perjalanan yang saya kenal dalam sebuah perjalanan ke Bhutan dua tahun sebelumnya. Pandemi ini, memang telah mengubah banyak hal, termasuk juga dalam kebiasaan berwisata. Apabila pada tahun-tahun sebelumnya kita dapat dengan mudah bepergian ke mana saja, sekarang ke warung depan komplek saja kita harus memakai masker, mengenakan faceshield, menyemprotkan hand sanitizer, menjaga jarak dengan pengunjung lain, membaca bismillah, dan tak lupa juga mengucapkan salam kepada pemilik warungnya. Tapi tidak masalah, karena semua ini dilakukan demi keamanan dan kenyamanan bersama, termasuk berpahala untuk dua hal terakhir.

Tidak bisa pergi jauh tidak mengapa, kita masih bisa pergi ke lokasi-lokasi yang dekat dengan rumah, asalkan *say the magic words* menerapkan protokol kesehatan, yang ditambah juga dengan beberapa anjuran untuk pergi ke daerah-daerah zona hijau COVID-19, mengutamakan ruang terbuka, dan sebaiknya dilakukan ke tempat-tempat yang sepi pengunjung, supaya tetap dapat menjaga jarak, layaknya Korea Utara dan Korea Selatan yang walaupun berdekatan namun tidak bisa bersatu.

“Lalu enaknya gue ke mana nih, Mas?” Saya lanjut bertanya kepada Iyoq “Mumpung besok agak senggang nih.”

“Kayaknya mendingan ke telaga biru deh, kasihan mobil lu kalau ke Kandang Gozilla.” Jawabnya, sembari mengasihani mobil kecil saya yang sudah hampir lima tahun umurnya tapi belum diganti dengan Tesla. Tesla Kaunang. “Kandang Gozilla masuknya susah, jalannya kecil banget. Telaga masih mending, jalannya.”.

Dua Cara Menuju Telaga Biru Cisoka

“Pokoknya, lu lurus aja ke arah Serang, nanti ada pertigaan gede, baru lu belok kiri.” Adalah instruksi terakhir yang saya dapatkan dari Iyoq, yang memang tidak membantu. Mirip dengan bertanya arah di Jogja, “Pokoknya kalau mau ke Malioboro, kamu ke utara dulu, ada pertigaan belok ke timur, lalu belok ke selatan, sebelum ke barat mencari kitab suci.”

Tol Balaraja Merak

Untungnya, ada teknologi yang bernama Google Maps di zaman sekarang, sehingga saya dapat mengecek rute mana yang paling nyaman untuk ditempuh apabila ingin menuju Telaga Biru Cisoka. Saat itu, ada dua cara yang dapat dipilih:

  1. Keluar di Gerbang Tol Balaraja Timur, kemudian menyusuri Balaraja, sebelum menuju Jalan Raya Serang. Rute ini sepertinya lebih panjang, namun lebih nyaman apabila dipilih para pengguna kendaraan pribadi karena tidak banyak truk yang keluar di gerbang tol ini.
  2. Keluar di Gerbang Tol Balaraja Barat, dan langsung menemui Jalan Raya Serang. Rute ini sekilas lebih pendek, namun kita akan beradu dengan truk-truk yang akan keluar bersamaan di sana.

Saya, tentu saja memilih yang panjang. Perjalanannya, bukan ukuran yang lainnya.

Categories: Banten, Domestic, GMT +7

Tagged: Balaraja, Cisoka, DUO, Intiland, pandemi, Talaga Bestari, telaga biru

11 Comments

+Read more

Walking Tour Moshi Tanzania

Penasaran Ikutan Walking Tour di Moshi Tanzania

arievrahman

Posted on October 30, 2020

Saya sedang berjuang untuk menghabiskan sepiring buah segar ketika petugas The Secret Garden Hotel mendatangi restoran pagi itu, “Your walking tour guide is here.” Ucapnya, yang membuat saya dan Nugie segera bergegas untuk menyantap apa saja yang disajikan di atas meja makan, kecuali taplak meja dan piring kotor, tentu saja. Ini adalah hari terakhir kami di Tanzania, dan saat itu kami berpikir bahwa mengikuti walking tour seharga $25 untuk full day tour adalah sebuah pilihan yang tepat untuk menghabiskan hari di Moshi –kota yang juga menjadi rumah dari gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro.

“Hello, Arif.” Sosok hitam, besar, gagah, panjang, dan tidak berbulu, datang menyapa. “My name is Abubakar, your walking tour guide for today.” Widih, sahabat nabi nih, batin saya. Saya menyambut genggaman tangannya untuk kemudian bersalaman, yang berlanjut menjadi sebuah remasan ke jari-jari saya yang terlihat mungil dibandingkan milik Abubakar –selanjutnya akan ditulis sebagai Abu saja, bukan Abu Jahal atau Abu Lahab. Memang, apabila dibandingkan dengan orang-orang Afrika, orang-orang Indonesia pada umumnya akan terlihat seperti Daus Mini di hadapan Ade Rai. Ya walaupun, ukuran tidak dapat menjadi patokan karena yang penting adalah stamina dan variasi gaya, namun minder juga beb!

Berbeda dengan tourist guide lain yang pernah saya temui –seperti misalnya ketika mengikuti Ghost Hunt Tour di York, atau Stadium Tour di Anfield dan Old Trafford, di mana para guide selalu berpakaian rapi dan necis, penampilan Abu tidak seperti mereka. Kaos hitam lusuh dengan sablon logo 6RAFIKI Walking Tours yang sudah pecah-pecah tanda terlalu sering dipakai, dijemur, dan mungkin disetrika; celana jeans hitam ukuran 3/4 yang sudah mengkerut di bagian lutut dan betisnya, pertanda mungkin celana itu sebenarnya sudah tidak muat lagi menampung pertumbuhan betisnya; dan bagian paling menariknya adalah sandal jepit yang dikenakannya, iya ini adalah pertama kalinya saya mengikuti tur dengan pemandu yang mengenakan sandal jepit. Bukan Havaianas, bukan Swallow, bukan pula Miniso, melainkan sandal jepit kesempitan tanpa merek berwarna oranye Persija dengan sol yang sudah menipis dan meninggalkan bentuk kaki Abu pada permukaan sandalnya. Lah kok malah kayak Olinga Atangana.

Walking Tour Moshi Tanzania

Dengan tinggi badan yang hampir dua meter dan kakinya yang jenjang, sepertinya Abu lebih cocok menjadi atlet lari marathon, bodyguard, maupun tiang gawang dibandingkan menjadi guide, namun ya c’est la vie. Inilah hidup, kamu tidak akan pernah menyangka apa yang akan terjadi pada hidupmu, sebelum kamu menjalaninya.

Bagaimanakah Walking Tour di Moshi Tanzania?

Menurut saya, walking tour atau apapun jenis tur yang dilakukan pada sebuah kota bersama warga lokal, adalah cara yang paling tepat untuk dapat mengenal lebih dekat destinasi yang kamu kunjungi. Tidak ada yang paling mengenal sebuah lokasi, selain warga lokalnya sendiri. Selain itu, dengan bersama warga lokal, maka keamanan kamu ketika jalan-jalan juga akan dijamin, Insha Allah tapi, karena yang namanya nasib tidak ada yang tahu, selain Allah dan malaikat Izrail.

Categories: Foreign, Tanzania

Tagged: moshi, Tanzania, walking tour, whatravel

5 Comments

+Read more

Whatravel Maroko

Unravel Whatravel: Cerita, Perjalanan, dan Rahasia Membangun Bisnis Perjalanan Dari Nol

arievrahman

Posted on September 28, 2020

Belakangan ini, saya sedang banyak diundang sebagai narasumber mulai dari talkshow dan webinar, Instagram Live, hingga untuk artikel media baik online maupun cetak. Menariknya, saya diundang tidak lagi sebagai travel blogger, namun sebagai cofounder dari Whatravel Indonesia, sebuah perusahaan startup di Indonesia, yang bergerak dalam bidang perjalanan dengan spesialisasi menyediakan paket open trip ke seluruh dunia.

Ini adalah tahun ke-10 sejak saya mulai ketagihan jalan-jalan, tahun ke-8 sejak saya mulai menulis kisah perjalan ke dalam blog yang Alhamdulillah masih ada yang baca ini, dan tahun ke-3 sejak saya memulai bisnis perjalanan di bawah naungan Whatravel Indonesia. Selama lebih dari tiga tahun perjalanan, Whatravel yang dibesarkan hampir dari 0, telah tumbuh cukup cepat hingga akhirnya menjadi cukup dikenal di Indonesia.

Menurut para founder dan cofounder-nya.

Starting Whatravel

Founder & Cofounder of Whatravel Indonesia

Namun tahukah kamu awal mula berdirinya Whatravel Indonesia? Sama seperti Roma yang tidak dibangun dalam satu malam dan cinta yang seharusnya tidak berakhir satu malam, diperlukan bermalam-malam untuk bisa membuat Whatravel Indonesia menjadi seperti sekarang ini.

Kira-kira seperti inilah tahun demi tahun yang sudah kami lewati.

Whatravel 1.0 – The Idea (2016)

Tak akan ada Whatravel kalau tidak ada sosok pria yang bernama Mochamad Takdis atau yang lebih akrab disapa sebagai Adis atau Takdos ini. Adis ‘mendirikan’ Whatravel sebagai misi balas dendamnya akan seorang wanita yang mematahkan hatinya dan memutuskan cintanya. Ketika cinta itu masih ada, mereka sempat bermimpi untuk traveling bersama, ke berbagai destinasi eksotis yang ada di dunia. Namun ternyata mereka berpisah tak lama kemudian, EMANG ENAK?

Namun, mimpi tetap menjadi mimpi kalau tidak diwujudkan. Adis yang patah hati, memutuskan untuk tetap mewujudkan mimpi tersebut dengan mengunjungi berbagai destinasi tersebut, sambil membuat paket perjalanan berbentuk ‘open trip’ yang dijualnya melalui forum traveler yang dikelolanya. Dimulai dari penghujung 2016, sedikit demi sedikit, Adis berhasil mengunjungi beberapa destinasi yang sempat menjadi mimpi mereka bersama.

Adis jalan-jalan, mantannya di rumah saja, rebahan. Bersama pacar barunya, eh.

Categories: Survival Kit

Tagged: bisnis, Open Trip, pandemi, travel agent, whatravel

14 Comments

+Read more

North Korea Whatravel

Kaleidoskop 2019: Mungkin Adalah Pertanda Awal yang Baru

arievrahman

Posted on August 30, 2020

Tahun 2019 menjadi tahun penutup dari perjalanan traveling saya dalam satu dekade terakhir. Memulai jalan-jalan pada tahun 2010 karena tidak sengaja –yang ternyata malah membuat saya ketagihan, saat ini, satu dekade kemudian, saya telah mengunjungi lebih dari 40 negara yang tersebar pada lima benua di dunia, juga puluhan provinsi yang ada di Indonesia. Berbagai cara dan metode pun saya lakukan untuk berjalan-jalan, mulai dari menabung hingga mengikuti kuis, mulai dari jalan-jalan sendiri hingga membawa rombongan Whatravel, juga mulai dari menebeng hingga mendapatkan sponsor. Mungkin cuma tinggal pesugihan yang belum saya coba hingga saat ini.

Pertanyaannya, apakah ini akan berakhir? Well, kalau melihat perjalanan saya selama tiga tahun terakhir, maka kamu akan mendapatkan tren perjalanan yang kurvanya menurun. Mulai dari tahun 2017, di mana saya menantang diri sendiri untuk bisa pergi ke luar negeri setiap bulannya, yang alhasil membuat saya menjadi miskin harta namun kaya pengalaman. Kemudian, pada tahun 2018, negara yang saya kunjungi dalam setahun jumlahnya berkurang, walaupun memang menjadi semakin berkualitas destinasinya.

Lalu bagaimana dengan 2019 sendiri? Ternyata memang semakin berkurang lagi jumlah negara yang saya kunjungi tahun ini. Sebelum masuk ke kaleidoskop perjalanan saya pada 2019, mari kita melihat apa saja peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia dan juga dunia pada tahun lalu.

Di Indonesia, tahun 2019 terjadi beberapa peristiwa seru, di antaranya adalah pernikahan Syahrini dan Reino Barack, pemilihan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, juga penyelundupan Brompton dan Harley-Davidson di dalam pesawat Garuda Indonesia. Sementara di dunia mancanegara, tercatat adanya beberapa peristiwa luar biasa yaitu kebakaran Gereja Notre-Dame di Paris, pertikaian yang semakin memanas antara Presiden Amerika Serikat, you know who dengan Korea Utara dan juga Cina, hingga kerusuhan di Hong Kong yang tak kunjung usai.

Semua peristiwa yang mungkin saja menjadi pertanda, akan adanya awal yang baru.

Januari: Apakah Saya Akan Menjadi Bapak?

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di mana saya biasa jalan-jalan jauh ke luar pulau atau ke luar negeri, tahun ini saya tidak bisa ke mana-mana. Bukan, bukan karena saya tidak punya cuti atau tidak punya uang –ya walaupun alasan kedua itu cukup benar, namun alasan utamanya adalah karena Neng sedang hamil besar, dan sudah sepantasnya saya menemaninya sebagai seorang suami yang sudah menikahinya secara sengaja tiga tahun silam.

Lalu bagaimana ganti jalan-jalannya? Selayaknya bisnis yang sedang stuck, saya harus memutar otak untuk pivot supaya bisa tetap fun walau sedang tak bisa jauh-jauh dari keluarga. Lalu solusinya adalah: Whatravel Indonesia Proudly Presents: Heritage Walking Tour in Tangerang.

Udaya Halim Museum Benteng

Inilah awal mula Whatravel yang biasa mengadakan trip ke luar negeri, membuat acara walking tour pertamanya, dengan destinasi Tangerang Kota –bukan Tangerang Selatan. Semua demi menjawab kegelisahan saya yang sedang tak bisa jalan-jalan jauh. Lumayan, saya yang berperan sebagai trip buddy saat itu, jadi bisa jalan-jalan gratis, ke tempat menarik, dan bisnis saya Whatravel tetap mendapat pemasukan. Not bad lah, ya?

Categories: Events

Tagged: 2019, Kaleidoskop, whatravel

6 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia dengan Bantuan Dwidayatour

Archives

Blog Stats

  • 5,485,377 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...