backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Amsterdam Red Light District

Wisata Malam Amsterdam (2) – Menjelajah Red Light District

arievrahman

Posted on October 2, 2016

Malam itu, kami keluar dari Venustempel, Amsterdam Sex Museum, dengan perasaan yang berbeda. Neng mengaku jijik dan geleuh setelah mendapati berbagai macam benda-benda berbau porno di dalam museum, sementara saya justru merasakan hal yang sebaliknya, yaitu senang dan excited, karena mendapatkan beragam pengetahuan baru tentang seks yang menjejali diri saya yang masih innocent. Beragam pengetahuan baru untuk segera diterapkan ke pasangan, maksudnya. Maklum, namanya juga pengantin baru, jangan iri.

Angin dingin yang bertiup sepanjang Damrak Street, membuat Neng harus melilitkan syal di leher, dan memaksa saya untuk mengenakan kupluk hingga menutupi kuping. Saya memegang tangan Neng yang terasa lebih dingin dari Amsterdam, mencoba untuk memberikan sedikit kehangatan malam itu. Sambil mendekatkan badan ke arah Neng, saya membisikkan sesuatu kepadanya.

“Neng, ke Red Light District, yuk.”


“Aku lapar, Mas.”

KRUCUUUK! Sebuah suara muncul dari perut saya, mengindikasikan bahwa saya juga lapar. Ternyata kami mirip: Neng lapar, saya lapar, mungkinkah ini yang disebut jodoh? Maklum saja, ini adalah hari pertama kami di Amsterdam, dan saya langsung mengawalinya dengan mengunjungi Sex Museum, tanpa memedulikan urusan perut, hanya memikirkan kepentingan bawah perut.

Restaurant and Pastry Shop Amsterdam

Pandangan saya menyapu sekeliling Damrak Street dan langsung tertumbuk pada sebuah restoran dengan logo berwarna merah dan kuning yang nampak sangat familiar. “Kayak kenal ya.”. Konon, logo berwarna merah dapat membuat orang yang melihat menjadi lapar, sementara warna kuning dapat mengingatkan saya pada Setya Novanto.

“Iya.” Berikutnya, kami melangkah memasuki McDonald’s dan memesan sepasang burger dengan dua kotak kentang goreng. Sepertinya, malam ini kami akan butuh banyak tenaga untuk menjelajah Red Light District.

Beruntungnya, kami berada di pusat kota Amsterdam, di mana banyak restoran dan toko-toko penganan lain berada. Dalam perjalanan ke Red Light District, kami sempat mampir ke sebuah toko kue dan mencicipi beberapa kue buatannya.

Amsterdam Red Light District
Amsterdam Red Light District

“Buset, ada Nutella segede gentong!” Tunjuk saya ke sudut toko, tempat berdrum-drum Nutella berada. Di Indonesia, kalau ada yang sebesar ini pasti sudah habis dirubung semut, atau habis dimakan bersama nasi putih.

Categories: Foreign, Netherlands

Tagged: Amsterdam, Condomerie, Museum of Prostitution, Red Light District, Red Light Secrets

92 Comments

+Read more

My Trip My Adventure - Wae Rebo

Panduan Mengikuti Trip MTMA untuk Pemula

arievrahman

Posted on September 23, 2016

Sebelas orang pilihan; Enam pembawa acara berjiwa petualang; Dua travel blogger bermuka pas-pasan yang sedikit obesitas, berkumpul di desa di atas awan, Wae mebo, untuk mengikuti perayaan ulang tahun ketiga MTMA (My Trip My Adventure), sebuah acara televisi bertema petualangan produksi TRANS TV. Muka-muka tegang menyelimuti wajah mereka. Bukan, bukan karena sedang menahan pipis, melainkan karena diminta oleh produser MTMA.

“JANGAN KETAWA-TAWA!” Teriaknya. “…AND ACTION!”

Salah seorang tetua desa Wae Rebo berpakaian adat turun dari singgasana batunya, berjalan melewati saya dan orang-orang pilihan dengan sehelai kain tradisional yang dibentangkan di tangannya, sementara sebuah kunci tergeletak di atasnya. Dengan lantang, pria itu berseru ke arah para host MTMA yang berdiri di hadapannya.

“Selamat datang di desa di atas awan, Wae Rebo.”

DSCF2067


Sebetulnya, saya tak akan pernah menyangka untuk mengikuti trip ini. Bahkan sebelumnya, saya sedikit menganggap remeh akan adanya acara MTMA, yang membuat populasi alay di Indonesia bertambah. Tapi itu dulu, sebelum saya mengikuti trip ini, akibat sebuah email yang berbunyi:

"Kami mengundang Sdr. Muhammad Arif Rahman untuk mengikuti kegiatan Open Trip dan Shooting bersama para host MTMA sebagai seorang Blogger."

Wah, belum apa-apa, saya sudah dipanggil Saudara, bagaimana kalau sudah kenal dekat nih. Pada email tersebut, tertulis pula tentang destinasi yang dituju, yaitu Wae Rebo, salah satu desa favorit saya di Indonesia. (Baca: Legenda Asal-Usul Kampung Wae Rebo). Selain itu, dikatakan pula bahwa trip ini akan dilangsungkan pada akhir pekan, yang berarti bahwa saya tidak perlu mengajukan cuti kantor. Kemudian, diundang sebagai seorang blogger berarti saya akan mendapatkan perjalanan gratis, dengan semua biaya ditanggung. Lumayan bukan? Tak perlu mengambil dana kredit apartemen dan tabungan istri.

Categories: Domestic, Events, GMT +8, Nusa Tenggara Timur

Tagged: MTMA, My Trip My Adventure, Trans TV, Wae Rebo

98 Comments

+Read more

The Ghost Hunt of York

Berburu Hantu di York

arievrahman

Posted on September 17, 2016

Ting Ting Ting! Ting Ting Ting! Ting Ting Ting! Seorang pria tinggi berjubah hitam panjang menjuntai muncul dari balik remangnya Shamble –sebuah gang yang sudah ada sejak abad pertengahan di York, dengan lonceng di tangannya. Topi tinggi hitam terpasang di kepala si pria, sementara di tangannya yang lain mengapit sebuah tas kulit berwarna hitam, sambil menenteng sebuah kursi lipat yang juga berwarna hitam.

Saat itu, sudah pukul 19.25 di York, dan tepat di ujung Shambles, tepatnya di tengah-tengah trotoar yang memisahkan pub Golden Fleece dan Marks & Spencer, pria itu mendadak berhenti. Matanya nanar menatap sekelilingnya, sedikit melotot ke arah orang-orang yang kini berkumpul memperhatikannya. Wajahnya yang tirus dengan jenggot dan jambangnya yang memutih karena usia, semakin memperkuat aura horornya.

Berikutnya, si tua mendirikan kursinya, dan perlahan naik ke atasnya.

“ARE YOU HERE FOR THE GHOST HUNT?!” Suaranya menggelegar, membuat jantung saya berdegup kencang, dan memaksa orang-orang lain untuk memperhatikannya.

Saya menatap selembar voucher yang telah saya bawa dari Indonesia, di sana tertulis “The Ghost Hunt, Shambles 7.30PM. Save £1.” Voucher diskon tur berburu hantu. Dasar orang Indonesia, mau berburu hantu saja masih minta diskon. Satu Pound-sterling pula. Mirip sama kaus kaki Uniqlo yang didiskon seribu Rupiah kalau membeli tiga pasang.

“YESSSS!” Saya bersorak, bersama puluhan orang lainnya, yang juga tertarik akan hal yang sama.

“GREAT!” Ucap si tua, dengan wajah tak acuh yang misterius. “NOW FOLLOW ME.“

The Ghost Hunt York

Jalanan York yang kuno dan misterius.

York, adalah sebuah kota mungil yang ditemukan oleh bangsa Romawi, sebagai benteng pada tahun 71 sekaligus menjadi ibu kota dari kependudukan Romawi di wilayah Britania. Kemudian, pada abad pertengahan, di bawah kerajaan Northumbria dan Jórvík, York berkembang menjadi pusat perdagangan wol sekaligus menjadi ibu kota dari ‘Ecclesiastical Province’ dari Church of England. Selanjutnya, pada abad ke-19, York tumbuh menjadi jalur perhubungan kereta api dan salah satu pusat manufaktur konfeksi di Inggris.

Saya yang tertarik dengan arsitektur Romawi, –terutama yang berada di luar negara Italia, langsung menempatkan York pada urutan pertama kota yang akan saya datangi di Inggris. Apalagi ketika menemukan adanya The Ghost Hunt of York di buku Lonely Planet, yang masih ditambah diskon £1 pula, dengan voucher yang saya dapat dari situs resminya.

Di sana, disebutkan bahwa pula bahwa “The Ghost Hunt is the only York ghost walk to win ‘City Tour of the Year Award’ from ‘Visit York’.”. Menarik bukan? Apalagi saya memang tertarik dengan wisata-wisata mistis semacam itu, terlebih sejak saya mengikuti wisata horor Kota Bandung.

Categories: England, Foreign

Tagged: Andy Dextrous, Ghost Hunt, York, York Minster

54 Comments

+Read more

8 Cara Traveling Murah di Indonesia

arievrahman

Posted on September 7, 2016

Sejak memulai blog ini kurang lebih empat tahun silam, banyak sekali pertanyaan yang masuk ke saya, baik melalui surel ataupun kolom komentar di blog. Selain tentang mengurus visa, dan tip tentang pacaran beda negara, pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah tentang budgeting atau masalah pendanaan. Bukan, bukan tentang bagaimana cara saya mencari penghasilan, melainkan tentang…

“Bagaimana sih caranya biar bisa traveling murah (terutama di Indonesia)?”

Pada dasarnya, ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Misalkan dengan mengakali transportasi, konsumsi, hingga akomodasi. Namun, apabila kamu masih penasaran bagaimana penerapannya dalam dunia nyata, berikut ini saya bagikan 8 cara untuk traveling murah di Indonesia.

1. Melakukan Road Trip bersama Teman-teman

Road Trip di sini diartikan sebagai melakukan perjalanan antar kota di Indonesia dengan menggunakan mobil, baik mobil sendiri, mobil pinjaman, mobil sewaan, asal jangan menggunakan mobil curian. Dalam road trip, saya biasa menggunakan prinsip berbagi, baik berbagi secara biaya, maupun berbagi secara penugasan.

Untuk biaya, yang bisa dibagi adalah biaya bahan bakar, parkir, juga biaya apabila kamu melewati jalan tol, yang terkadang malah lebih macet daripada jalur biasa. Sementara untuk penugasan, saya biasa berbagi peran sebagai berikut:

  • Depan Kanan: Sopir
  • Depan Kiri: Asisten Sopir
  • Belakang Kanan: Seksi Konsumsi
  • Belakang Tengah: Tut Wuri Handayani, yang bertugas memberikan dukungan moral, sekaligus sebagai pembaca doa.
  • Belakang Kiri: Tempatnya molor, sesuai sunnah Rasul.
Road Trip Indonesia

Road Trip ke Cirebon bersama para figuran.

Satu hal yang harus diperhatikan ketika traveling murah dengan road trip adalah masalah kehati-hatian di jalan, jangan menyopir ketika ngantuk, dan sebisa mungkin sopir jangan ikut tidur ketika yang lain juga tidur. Atau hal-hal tidak mengenakkan seperti kecelakaan di Ujung Genteng ini akan terulang kembali.

Categories: Domestic, Survival Kit

Tagged: Air Asia GO, Traveling Murah

92 Comments

+Read more

37 Hal yang Bisa Dilakukan di Palembang (bagian kedua)

arievrahman

Posted on September 4, 2016

Walaupun saya sudah memberikan daftar 17 hal yang dapat dilakukan di Palembang pada akhir pekan, daftar hal-hal tersebut masih berlanjut, karena ternyata masih banyak sekali hal-hal yang dapat kamu lakukan di Palembang yang juga diketahui sebagai kota tertua di Indonesia –berdasarkan prasasti Kedukan Bukit, Palembang telah ada sejak tahun 682 Masehi.

Hey, bahkan saya belum mencantumkan pempek pada daftar sebelum ini. Belum lagi ada Museum Bala Putera Dewa, atau Jembatan Ampera, atau bahkan Martabak HAR.

Baca dulu: 37 hal yang bisa dilakukan di Palembang (bagian pertama)

So, apabila kamu berencana mengunjungi Palembang, dan memiliki waktu terbatas –mungkin hanya di akhir pekan (kemungkinan karena kamu karyawan seperti saya, ataupun kamu terlalu sibuk dengan urusan duniawi), maka berikut ini adalah lanjutan hal-hal yang bisa kamu lakukan di sana.

18. Mendaki Bukit Seguntang

Secara geografis, Bukit Seguntang adalah bukit setinggi sekitar 30 meter dari permukaan laut, yang terletak sejauh 3 kilometer dari Sungai Musi yang menjadi jantung kota Palembang. Sementara secara administratif, lokasinya berada di kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.

Yang menarik dari bukit mungil ini adalah sejarah yang menyelimutinya, karena di sekitar tempat ini ditemukan banyak sekali artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya juga beberapa arca yang berkaitan dengan Agama Buddha.

Bukit Siguntang Palembang

Dari Wikipedia, diketahui bahwa di daerah Bukit Seguntang juga ditemukan fragmen arca Bodhisattwa dengan kepala arca digambarkan memiliki rambut tersisir rapi dengan ikatan seutas pita yang berhiaskan kuntum bunga. Di bukit ini juga ditemukan reruntuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, fragmen prasasti, arca Bodhisattwa batu, arca Kuwera, dan arca Buddha Wairocana dalam posisi duduk lengkap dengan prabha dan chattra. Selain itu, di daerah Bukit Seguntang ditemukan pula fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno.

Oh, iya, saya belum bilang ya kalau di puncak bukit ini juga memiliki beberapa makam yang dipercaya sebagai makam leluhur warga Palembang?

Categories: Domestic, GMT +7, Sumatera Selatan

Tagged: Bukit Seguntang, Festival Sriwijaya, Jakabaring, Jembatan AMPERA, Museum Bala Putera Dewa, Palembang, Pesona Sriwijaya, Rumah Limas

54 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!
  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,700 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...