.

They made a statue of us
And it put it on a mountain top
Now tourists come and stare at us
Blow bubbles with their gum
Take photographs have fun, have fun

Kata demi kata mulai mengalun dari pengeras suara di mobil, setelah sebelumnya terdengar intro dari lagu tersebut yang cukup familiar. “Ini Regina Spektor.” Kata Mama, ke Hana dan saya, kemudian Beliau tersenyum sambil berusaha mengingat-ingat peristiwa yang terjadi beberapa bulan silam, di akhir tahun 2012. “Waktu itu kami nonton ini, di Esplanade Singapura.”

***

“Wah, dapat apa saja yang dari menang undian Singasik?” tanya Mama, setelah saya mengumumkan kemenangan saya.

“Tiket pesawat PP, akomodasi di hotel berbintang, terus sama voucher buat event di Singapura sebanyak 200 Dollar.” Jawab saya, sesuai pesan dari Singasik.

“Wah, asyik dong. Terus kamu mau ke mana aja event-nya?”

“Kemarin sih rencananya, mau ke Universal Studio, S.E.A Aquarium, Gardens by The Bay, sama nonton konser gitu, Mah.”

“Konsernya siapa?”

“Regina Spektor.”

Hening sejenak, sebelum mama berkata lagi “Itu siapa?”

Spektor was born in Moscow, Soviet Union, in 1980 to a musical Russian Jewish family. Her father, Ilya Spektor, is a photographer and amateurviolinist. Her mother, Bella Spektor, was a music professor in a Soviet college of music and now teaches at a public elementary school in Mount Vernon, New York. 

Regina learned how to play the piano by practicing on a Petrof upright that was given to her mother by her grandfather. She grew up listening to classical music and famous Russian bards like Vladimir Vysotsky and Bulat Okudzhava. She was also exposed to rock-and-roll bands such as The Beatles, Queen, and The Moody Blues by her father, who obtained such recordings in Eastern Europe and traded cassettes with friends in the Soviet Union.

Spektor has a broad vocal range and uses the full extent of it. She also explores a variety of different and somewhat unorthodox vocal techniques, such as verses composed entirely of buzzing noises made with the lips and beatbox-style flourishes in the middle of ballads, and also makes use of such unusual musical techniques as using a drum stick to tap rhythms on the body of the piano or chair. Part of her style also results from the exaggeration of certain aspects of vocalization, most notably the glottal stop, which is prominent in the single “Fidelity”. She also uses a strong New York accent on some words, which she has said is due to her love of New York and its culture.

……

………

Saya membaca halaman Wikipedia tersebut, dan memutuskan tidak membacakannya ke Mama, karena akan butuh bertahun-tahun hingga Nabi Isa turun ke bumi untuk membuatnya mengerti tentang sejarah Regina Spektor. Dan alih-alih membacakannya, saya cuma menjawab singkat “Pokoknya keren deh, Mah. Sumpah deh.”

“Oh gitu, ya.”

“Iya.” Dan bagi saya, Regina Spektor sendiri merupakan satu dari beberapa artis wanita yang saya idolakan –selain Leslie Feist dan Jemma Griffiths–. Bahkan beberapa lagunya sudah stuck di otak saya, seperti Better, Us, Fidelity, hingga Folding Chair.

Dan akhirnya, hari kemenangan pun tiba.

***

DSCN3135

Esplanade, dilihat dari puncak Marina Bay Sands.

Kami memasuki Esplenade pada sore harinya, sekitar pukul empat sore. Anehnya, setelah celingak-celinguk beberapa saat, kami tak menemukan baik poster, maupun banner yang menunjukkan akan ada show Regina Spektor di malam harinya.Esplanade sendiri –yang sering juga disebut theatres on the bay, karena letaknya– merupakan gedung pertunjukan kebanggaan Singapura, di sana sering dilangsungkan beberapa pertunjukan, baik pameran kesenian, drama musikal, hingga konser para penyanyi dunia. Sekadar informasi, sebelum heboh di Indonesia, teater Matah Ati terlebih dahulu dikenal karena mengadakan pertunjukan di sini. Bagi saya sendiri, Esplanade lebih terlihat seperti buah durian yang belum terbelah. Membuat saya lapar, dan ingin segera belah duren. Ha-lah.

DSCN0643

Pameran di Esplanade waktu itu.

“Kok gak ada tanda-tandanya ya?” Tanya saya.

“Mungkin karena masih sore, jadi belum dipasang poster-posternya.” Mama menjawab.

“Tapi, ini kan kurang tiga jam lagi sebelum show dimulai.” Gerutu saya. “Ya udah, kita cari makan dulu deh. Di sekitar sini, ada tempat makan enak, namanya Makansutra.”

Dan kami pun melangkah dengan perut kelaparan, menyusuri Singapore River, ke arah Olympic Walk, sejauh dua ratus meter, sebelum menemukan Makansutra Gluttons bay di kiri jalan.

Makansutra, adalah salah satu solusi tempat makan dengan harga terjangkau yang bisa ditemukan di Singapura. Di sini, terdiri dari beberapa food stall yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, mulai dari satay hingga seafood, mulai dari air mineral hingga es kelapa muda. Dan pilihan kami saat itu jatuh ke nasi goreng seafood bersama cumi goreng.

DSCN0650

Suasana di Makansutra Gluttons Bay

[Catatan: Stall di ujung jalan yang berdekatan dengan Raffles Ave selalu berucap bahwa cuma dia yang menjual makanan halal, padahal di stall ujung satunya menjual makanan berjenis seafood, yang menurut saya halal.]

***

Menjelang pergantian tahun –dan melewati hari ibu internasional, hari natal, dan tahun baru– ada beberapa kegiatan seru yang dilakukan warga Singapura, salah satunya adalah mengapungkan bola-bola plastik raksasa di Singapore River di yang diapit Merlion Park, Marina Bay Sands, dan Esplanade. Di balon-balon itu, akan ditulis harapan-harapan (atau apa saja) untuk tahun mendatang (2013, red.). Namun serunya, tak hanya warga Singapura yang boleh menulis di balon itu, melainkan semua orang yang berada di Esplanade pada saat itu boleh melakukannya. Tak terkecuali saya dan Mama.

DSCN0672

Apa yang Mama tulis…

DSCN0673

…dan apa yang saya tulis.

***

Sekitar pukul setengah delapan, kami masuk lagi ke dalam Esplanade, mencari-cari di manakah ruangan tempat Regina Spektor akan mengadakan pertunjukan, juga mencari-cari di manakah banner show tersebut. Setelah ke sana kemari mencari alamat banner, akhirnya kami menemukan papan pengumuman kecil, yang cuma ditempel dengan kertas seukuran A3 dan cuma ditulis seadanya –seperti ditulis biasa oleh anak SMK yang sedang magang di kantor dengan menggunakan Microsoft Word–, bertuliskan: REGINA SPEKTOR WITH SPECIAL GUEST — Theatre 8 pm, tanpa anyelir tanpa melati.   Pupus sudah harapan saya, untuk berpose di depan poster raksasa, seperti layaknya konser di Indonesia. Di Singapura, sepertinya jarang sekali mempromosikan pertunjukan musik secara besar-besaran, tak ada banner raksasa, tak ada promosi yang berlebih, dan tak ada Adri Soebono, mirip seperti yang saya alami ketika menonton Duran Duran sebelumnya.

DSCN0676

Regina Spektor with Special Guest

Memasuki malam kemenangan, kami dihentikan oleh petugas security yang menunjuk tanda peringatan dilarang membawa kamera ke dalam ruangan konser. O..ow! “You can’t bring camera inside, so you have to keep it here.” Ujarnya, sambil menunjuk ke arah locker yang sudah disediakan panitia. Saya bimbang, dan beradu pandang dengan Mama.

“Sudah kameramu masukin tasku aja, nanti kameraku yang dititip di locker.” Usul Mama.

Ide yang bagus. Dengan sedikit teknik mengelabui, akhirnya kami berhasil masuk ke theatre tepat waktu dengan membawa kamera saya. Iya, kamera saya, si Peju. Saya sempat termangu menyaksikan betapa megahnya panggung yang disediakan malam itu, dengan balkon yang berlapis-lapis, ruangan tersebut nampak mewah dengan aksen merah. Penonton dari berbagai ras memadati ruangan tersebut, dan sejauh mata memandang tidak nampak bendera Slank maupun Oi di situ.

PLEASE DON’T TAKE A PHOTO!” Seorang petugas mendekati sepasang kekasih yang berfoto dengan menggunakan telepon genggam di ruangan tersebut. “Photograph is not allowed here.” Lanjutnya lagi. Hal yang menarik di sini adalah, semua petugas keamanan adalah wanita. Sungguh, R.A. Kartini pasti bangga.

Dan tak berapa lama, lampu pun dimatikan.

***

Lima menit kemudian.

“Yeaaay!” Penonton bersorak ketika nampak seseorang melintasi panggung. Ternyata kru pertunjukan.

Dua menit berikutnya.

“Yeaaaay! Suit Suiiitt!” Penonton bersorak ketika sekelompok orang memegang alat-alat di panggung. Ternyata check sound.

Lima menit berikutnya.

“YEAAYYY! REGINA SPEKTOR!” Penonton bersorak ketika sesosok bayangan memasuki panggung, ternyata seorang laki-laki.

Dan lampu pun menyoroti pria di atas panggung.

HELLO THERE!” Serunya, sambil memegang gitar. John Mayer? Batin saya “I’M THE SPECIAL GUEST!” Oh, ternyata bukan. Namanya special guest. “NO, I’M KIDDING. MY NAME IS NOT SPECIAL GUEST. I’M THE ONLY SON!” Lah, kok sama kayak saya. Anak tunggal.

Pria itu mulai memainkan gitar, dan bersenandung diiringi gitar. Para penonton, pun menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan, tanpa bersuara. Karena tak tahu liriknya. Nama pria itu adalah Jack Dishel, gitaris dari The Moldy Peaches, dan memilih nama Only Son untuk project solo-nya. Bagi yang belum tahu, dia juga dikenal sebagai suami dari Regina Spektor.

Iya, suami. Yang cuma dianggap tamu spesial. Wanita itu kejam.

Setelah menyanyikan kurang dari sepuluh lagu, sang pria berpamitan, dan lampu stadion gelap kembali.

***

DSCN0684

Regina Spektor!

Seorang wanita muncul di tengah panggung, menghadap sebuah grand piano dan duduk santai di atas kursi pianonya. Namun alih-alih memainkan pianonya, dia malah menyanyikan beberapa bait lagu hanya dengan suaranya saja, tanpa iringan alat musik, maupun penonton DahSyat yang berjoget cuci-jemur di belakangnya. Lagu itu berjudul “Ain’t no Cover” dan wanita itu adalah sosok yang telah lama ditunggu-tunggu. Idola saya, Regina Spektor.

Selepas lagu pertama, jemari demi jemarinya menghentak tuts di piano, dan langsung menggebrak seluruh ruangan dengan “The Calculation” membuat penonton berjoget setengah badan sambil menghentakkan kaki, karena semuanya duduk. Belum sempat istirahat, Regina langsung menghajar penonton dengan “On The Radio” yang membuat seisi theatre bersorak “Ow Ow Ow!” di ujung bait lagunya. Dan di lagu berikutnya, Regina Spektor menurunkan tempo, sambil memainkan “Small Town Moon”.

Di enam lagu pertama, Mama masih bisa bergoyang ke kanan dan ke kiri, lalu diam pada enam lagu berikutnya, mengajak ngobrol pada enam lagu kemudian, dan tidur di sisa pertunjukan.

Di sela-sela obrolan kami, saya memberikan komentar: “Ini Regina Spektor bagus nyanyinya, dan kalau diperhatikan pas jalan agak bungkuk.” dan Mama pun menanggapi dengan “Mungkin kebanyakan main piano, lihat saja main pianonya kan sambil bungkuk-bungkuk gitu.” Oh, iya juga sih.” Pikir saya.

Sepanjang pertunjukan, petugas keamanan hilir mudik mengawasi penonton supaya tidak terjadi kegaduhan. Dan saya sambil sembunyi-sembunyi, berusaha mengambil gambar dengan kamera. Sebelum Mama terlelap, kami berbagi tugas. Saya yang fokus mengambil gambar, Mama yang mengawasi gerak-gerik petugasnya, sehingga Beliau akan berkata “Awas, wonge ndelok rene!” ketika si petugas melihat ke arah kami. Dan ketika Mama tidur, saya mengambil pashmina yang dibawanya, menutupi moncong Peju supaya tidak terlihat petugas, dan mengarahkan kamera ke arah panggung. Salah satu hasilnya adalah video ini, yang direkam dengan perasaan was-was seperti anak SD yang mencontek ketika ujian.

Lagu tersebut adalah, lagu favorit saya, yaitu “Better” (yang juga di-cover oleh Dashboard Confessional, yang —I hate to admit it— menurut saya lebih bagus daripada versi aslinya). Mengapa? Lihat saja liriknya. Overall, penampilan Regina Spektor malam itu sangatlah prima dan menjadi salah satu konser yang tak terlupakan buat saya. Dengan mengenakan dress ungu bermotif bunga, dia membawakan lagu-lagunya dengan grand piano seorang diri, berkolaborasi dengan band-nya sambil memainkan keyboard, juga berduet dengan suaminya di lagu “Call Them Brothers”. Dengan tiga buah lagu tambahan yang dinyanyikan sebagai encore, Regina menutup malam itu dengan lagu “Samson” yang menceritakan kisah suci cinta masa lalu Samson dengan seorang wanita yang –tragisnya– tidak tercatat di sejarah dan tidak disebutkan dalam bible. Sebagai kenangan terindah.

***

Screen Shot 2013-07-19 at 1.52.42 PM

Which song, do you want to hear? Me, all the songs.

“Rif, minta copy-in lagu-lagu yang kemarin didengerin dong.” Titah Mama pada suatu hari.

“Siapa Ma? Sabrina?”

“Bukan, yang kemarin kita nonton di Singapura.”

“Oh, Regina Spektor.”

“Iya. Regina.”

Dan sejak saat itu, Mama menjadi fan Regina Spektor, yang selalu membawa lagu-lagunya dalam mobil, dan membanggakannya sebagai “Waktu itu, aku sama anakku nonton Regina Spektor di Singapura.”.

Terima kasih, Singasik.

***

I never loved nobody fully
Always one foot on the ground
And by protecting my heart truly
I got lost in the sounds

Advertisements