Tiga ekor komodo betina berukuran masing-masing sepanjang 1,5 meter sedang berebut babi hutan yang telah tercabik-cabik dengan ganas, ketika kami melintasi semak belukar tersebut. Saya tak tahu dari mana sang ranger mengetahui bahwa komodo-komodo tersebut adalah komodo betina, tanpa meraba kemaluannya. Dalam jarak kurang dari dua meter dari lokasi pembantaian tersebut, suasana semakin mencekam, dan perebutan pun semakin seru hingga tanpa sadar komodo-komodo tersebut sudah semakin dekat dengan saya.

….

Welcome to Komodo National Park!

Loh Buaya

Selamat Datang di Taman Nasional Komodo!

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Labuan Bajo, tibalah kami pada sebuah dermaga kecil di Loh Buaya — dalam bahasa setempat, Loh berarti teluk dan Buaya berarti komodo, bukan Loh Buaya Gueh Orang, red. — yang merupakan pintu masuk Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca (salah satu pulau yang merupakan habitat alami Komodo di Kepulauan Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia).

Setelah memasuki pulau lebih dalam, saya terkejut ketika mendapati ada sekitar lima ekor komodo sedang leyeh-leyeh di bagian bawah sebuah rumah panggung dan mereka tampak tidak berbahaya, walaupun mereka adalah predator.

Dapur

Para komodo yang mengendus aroma masakan

“Rumah itu,” Ranger kami menjelaskan “Adalah dapur umum, yang digunakan untuk memasak makanan kebutuhan penduduk sekitar. Dan komodo mendekati rumah tersebut karena adanya bau masakan yang tercium, karena konon komodo dapat mencium bau darah sejauh lima kilometer jauhnya.”

Lima kilometer? Tenang, belum termasuk LDR kok.

Dan benar saja, tak lama kemudian saya mendapati seekor komodo merayap perlahan, memasuki toilet wanita dikarenakan ada yang membuang pembalut bekas di sana.

Buanglah pembalut bekas pada tempatnya.

“Nanti yang sedang halangan, jangan jauh-jauh dari saya.” Ranger kami menjelaskan, dan saya bersyukur karena sudah memasuki masa menopause. Sejak lahir.

Petualangan kami di Pulau Rinca berlanjut dengan menyusuri jalan setapak yang melewati kawasan penuh lubang yang biasa ditempati komodo untuk bertelur. Komodo betina, menggali banyak lubang sekaligus untuk menipu pemangsa lainnya, dan hanya menggunakan satu lubang untuk menetaskan telurnya. Salome.

“Sekarang kalian lihat pohon ini.” Si ranger berhenti di bawah sebuah pohon besar yang mirip pohon beringin. “Bayi komodo, yang berusia sampai dengan tiga bulan, biasa memanjat pohon dan mencari makan di sana. Sampai akhirnya mereka cukup dewasa untuk mencari makan sendiri. Nah, salah satu pohon yang digunakan, adalah pohon ini.” Jelasnya.

DSCN0121

Di pohon inilah bayi komodo tumbuh besar

Seketika kami menengok ke atas, membayangkan bagaimana jika ternyata ada anak komodo yang tiba-tiba jatuh dari atas, lalu hinggap di leher kami dan mengisap darah kami hingga tetes terakhir. Merinding.

Namun pemandangan berikutnya, justru membuat kami semakin merinding.

Tiga ekor komodo betina berukuran masing-masing sepanjang 1,5 meter sedang berebut babi hutan yang telah tercabik-cabik dengan ganas, ketika kami melintasi semak belukar tersebut.

“Tolong, jangan dekat-dekat.” Sang ranger meletakkan tongkat ajaibnya yang bercabang dua — disebut ajaib, karena komodo enggan mendekati tongkat dengan ujung yang bercabang tersebut, walaupun kata sang ranger tidak ada apa-apa pada tongkatnya (tongkat, bukan “tongkat” -red) — ke arah komodo tersebut. “Ini adalah kesempatan langka, karena jarang-jarang pengunjung bisa melihat dalam jarak sangat dekat bagaimana komodo memangsa makanannya.”

Ya asal jangan kita aja yang jadi makanannya, Pak!

Perjalanan kami hari itu diakhiri dengan santap siang di sebuah rumah panggung, dekat dengan dapur. Dan di sela-sela waktu makan, guide kami mengatakan bahwa besok kami akan mengunjungi Pulau Komodo, yang terkenal dengan komodo-komodonya yang lebih lincah dan besar.

Glek. Saya merinding lagi.

DSCN0073

Hello Komodo!

DSCN0297

Hello again, Komodo!

Menurut penuturan sang ranger, jumlah populasi komodo yang berada di Pulau Komodo adalah sekitar 2.000-an komodo, lebih sedikit daripada Pulau Rinca yang dihuni kurang lebih 2.300-an komodo.

Pertanyaan: Sebutkan nama masing-masing komodo?

DSCN0319

Silent (road to) Hill

Menelusuri jalan setapak di Pulau Komodo, kami menemukan banyak terdapat rusa liar yang berlarian menjauhi kami namun ada sebagian rusa yang terkulai lemas.

“Nah, rusa yang tergeletak itulah yang akan menjadi mangsa komodo.” Ranger kami menjelaskan “Saat akan memakan mangsanya, komodo menggigitnya terlebih dahulu.”

Bukan dirayu dengan kata-kata manis lalu ditembak, Pak?

“Di dalam air liur komodo, terdapat sekitar 60 bakteri berbahaya.” Pria itu menambahkan “Bakteri inilah yang akan melumpuhkan sang mangsa, sehingga komodo hanya butuh menunggu binatang itu lumpuh, dan kemudian menyantapnya.”

Pertanyaan: Jika dalam sebotol Yakult mengandung 6,5 milyar bakteri, maka ada berapa komodo di dalam botolnya?

“Komodo ini bisa bertahan hidup hanya dengan makan satu kali selama sebulan.” Berminat menjadikan komodo sebagai pasangan supaya irit? “Dan jika lapar, komodo ini tak segan-segan memangsa kaumnya sendiri.” Pikir lagi deh.

Petualangan kami di Pulau Komodo ditempuh dengan rute yang lumayan panjang melewati jalur Medium Trek, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Perjalanan ini menembus hutan, naik turun bukit, dan menuju puncak Sulphurea Hill yang menawan. Di atas bukit, kami dapat melihat laut lepas yang indah, berpadu dengan hijaunya pepohonan yang tetap tumbuh di pulau yang gersang ini.

DSCN0362

Nice view from top of the hill

Dua ekor komodo menyambut kedatangan kami di pos terakhir, hal ini makin memperkuat fakta bahwa keberadaan komodo bukanlah sekadar mokodo atau omong kosong doang. Namun mengingat jumlahnya yang kian hari semakin sedikit, dibutuhkan peran serta kita untuk menjaga kelestarian komodo, sang naga dari Indonesia.

Pertanyaan: Lalu mana foto sama komodonya?

Enjoy!

DSCN0385

I feel and I believe that that’s A KOMODO!

Artikel ini adalah lanjutan dari petualangan saya di sini.

Advertisements