“Pesan apa, Pak?” Sang pelayan melempar tanya dengan wajah malu-malu.

“Mie Aceh satu, Mas.” Jawab saya, tak kalah memalukan. “Yang spesial, dengan daging dan udang.”

“Rebus, atau Goreng, Pak?”

Saya sempat berpikir sejenak, sebelum memutuskan bahwa saya memesan “Tumis, Mas.”

Tak perlu menunggu lama, pesanan saya pun datang. Sepiring mie tumis khas Aceh, dengan kuah kaldu beraroma rempah yang kental kecoklatan, lengkap dengan daging, udang, timun, dan emping yang tersaji manis. Jika ingin lebih nikmat, tambahkan perasan jeruk nipis serta potongan bawang merah dan cabe rawit yang disajikan terpisah.

Nyam!

IMG-20130211-02167

Mie Tumis Aceh yang Mempesona

Di rumah makan yang terletak di bilangan Bendungan Hilir Jakarta Pusat ini, Mie Aceh — bersama dengan sambal ganja dan ayam tangkap — memang menjadi primadonanya. Hanya dengan dua puluh dua ribu rupiah, kita bisa menikmati kenikmatan sepiring mie aceh spesial ini. Dan saking lezatnya, konon para pejabat Aceh, mulai dari Gubernur hingga Bupati yang kebetulan sedang bertugas di Jakarta sering mampir ke tempat ini.

Lantas, apakah pesona yang ditawarkan sepiring Mie Aceh ini seindah dengan daerah asalnya, Aceh?

Adis, Seorang backpacker asal Bandung, mengatakan bahwa tak banyak tempat yang bisa bikin dia menganga sampai liur menetes bergalon-galon, dan Sabang — yang terletak di wilayah Aceh — adalah salah satunya.

_MG_7422

Adis di Sabang

Sabang, telah membuat Adis jatuh cinta dengan lautnya yang berwarna hijau toska, terumbu karang yang cantik, dan ikan yang berwarna-warni. Saking terpesonanya dengan batu karang yang berwarna-warni, dia memuji Tuhan yang telah dengan telaten memberi warna yang berbeda pada setiap inci bebatuan itu.

Keren!

(Catatan: Abaikan perkataan Adis yang mengaku telah jatuh cinta dengan ikan di laut)

 

Pemandangan yang indah akan menyegarkan mata dan makanan yang lezat akan memanjakan perut. Bagi seorang traveler, tak ada yang lebih menyenangkan selain mendapat kepuasan mata dan perut ketika traveling. Dan kepuasan ini bisa kamu dapatkan dengan cara mengunjungi Aceh.

I-Love-Aceh-Story

Lomba Menulis di Blog 2013

Sehubungan dengan Tahun Kunjungan Wisata atau Visit Aceh Year 2013, @iloveaceh mengadakan Lomba Menulis di Blog 2013 yang bertujuan untuk mengenalkan Aceh secara khas lewat tulisan dan gambar yang tidak banyak dilihat orang, mulai dari pedesaan sampai dengan berbagai destinasi yang belum diketahui orang banyak. Dari lomba ini, nantinya akan dipilih tiga orang pemenang untuk mengikuti rangkaian acara HUT #3thiloveaceh di Banda Aceh pada tanggal 23 Februari 2013.

I Love Aceh sendiri, adalah sebuah komunitas yang lahir dari maraknya penggunaan media sosial — dalam hal ini Twitter — di Aceh, dan sekarang berkembang pesat menjadi pusat informasi di Aceh pada khususnya dan masyarakat luar pada umumnya.

Dari sabang sampai merauke

Berjajar pulau-pulau

Sambung menyambung menjadi satu

Itulah Indonesia

 

Indonesia kita yang indah ini membentang dari Sabang di Aceh, hingga Merauke di Papua. Semua berawal dari Tugu Nol kilometer di Sabang yang diprakarsai pendiriannya pada tahun 1987 oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi pada waktu itu, Prof. DR. ING. B.J Habibie. Di sinilah Indonesia bermula, dan di sinilah saya akan memulai petualangan yang baru bersama pesona sepiring Mie Aceh, segera.

 


Can I get an Amen? Or two, or more.

Advertisements