backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Liburan Lebaran: Ketika Bromo Berbisik

arievrahman

Posted on August 15, 2013

Lebaran, merupakan momen yang paling ditunggu bagi saya –yang notabene adalah seorang karyawan–, karena selain memberikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, juga menyediakan waktu yang cukup panjang untuk berlibur, dalam bentuk cuti. Dan salah satu nilai lebih dari cuti lebaran adalah, saya bisa merayakan liburan bersama keluarga. 

Selepas salat ied dan bersalam-salaman dengan keluarga, saya bersama sebagian saudara telah siap di halaman rumah nenek di Pati untuk bertolak ke Probolinggo, karena kami berencana mengunjungi Bromo di lebaran tahun 2011 itu. Hanya lima orang tersisa yang mempunyai waktu luang ikut dalam liburan kali ini, sisanya tidak ikut karena telah mempunyai acara lain, selain karena faktor fisik, ketampanan, dan usia.

DSCN4817

Urut berat badan (kiri-kanan): Fiki, Mama, Tante, Hamba Allah, Rico

Perjalanan menuju Probolinggo via Tuban dan Lamongan berlangsung lancar, bahkan dapat dikatakan tak ada hambatan sepanjang perjalanan. Jalanan cukup lengang dan bebas dari arus mudik. Godaan pertama datang sebelum memasuki Kota Tuban, perut yang telah berbunyi nyaring memaksa saya untuk menghentikan laju mobil di salah satu rest area berlatarkan hutan, untuk menikmati … mie instan. Perjalanan dilanjutkan kembali setelah ishoma (istirahat sholat makan, bukan istirahat sholat mabuk-mabukan, red), dan godaan kedua pun datang setelah melewati jalan tol lingkar Surabaya, yaitu ketika kami melintas di area bencana Lapindo, Porong, Sidoarjo. Kami ingin menyaksikan secara langsung, sebagaimana besar dampak yang ditimbulkan oleh lumpur Lapindo tersebut.

Ironisnya, di Indonesia, tempat bencana justru dijadikan objek wisata. Misalnya seperti lumpur Lapindo di Sidoarjo, bekas jalur erupsi Merapi –sebelum dibenahi– di Magelang, hingga contoh paling simpelnya adalah ketika adanya kecelakaan di jalan, lebih banyak orang yang berhenti untuk menonton daripada menolong. Ironis, tapi itulah Indonesia.

Seorang pria berpenampilan sangar dengan kulit legam karena matahari menepikan mobil kami tepat di sisi tanggul lumpur Lapindo. “Parkir sini saja.” Serunya. Kami menurut, dan bergegas menaiki tangga yang terbuat dari bambu yang seadanya. Menariknya, ada seorang pria lagi yang meminta kontribusi dari kami sebagai tiket masuk objek wisata bencana tersebut. Indonesia.

Di atas, pemandangan memilukan menyambut kami, tampak lautan lumpur yang telah berangsur mengering terbentang seluas mata memandang. Entah berapa banyak kerugian yang ditimbulkan oleh kue lumpur dari Aburizal Bakery ini, namun kami hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi para korban.

DSCN4857

Tim merah di Lapindo

Setelah menyelesaikan administrasi (baca: membayar parkir liar di objek wisata Lapindo), kami bergegas menuju Probolinggo, ke tempat hotel yang telah kami pesan sebelumnya, yaitu Hotel Paramita dengan rate sekitar Rp. 200.000,00/kamar twin. Godaan ketiga hari itu datang waktu malam ketika perut kembali mengajak kami menikmati hidangan malam di Probolinggo yang sejuk, dan semangkok bakso menjadi pelampiasan keganasan kami malam itu.

Untuk menuju Bromo ada beberapa cara, dan kami saat itu memutuskan untuk menggunakan mobil sewaan dari Probolinggo dengan tarif Rp. 500.000,00 untuk mobil Avanza + hantaran jeep ke Pananjakan pulang pergi melalui jasa Pak Toli (tanpa imbuhan lain). Pada pukul tiga pagi di saat kami sedang tidur pulas, bunyi telepon yang memekakkan telinga berdering di kamar,

0.000000 0.000000
Categories: Domestic, Jawa Timur

Tagged: Bromo, Jawa Timur, Lapindo, Penanjakan, Probolinggo

37 Comments

+Read more

Selamat Lebaran!

arievrahman

Posted on August 7, 2013

Ada yang datang, ada yang pergi.

Ketika Ramadan berlalu, maka hari yang suci tiba.

Dengan sangat serius dan dengan segala kesungguhan hati, izinkan segenap admin #backpackstory yang bertugas, yaitu saya sendiri,

mengucapkan:

DSCN8961-001

Semoga kita semua masih diperkenankan untuk bertemu dengan Ramadan tahun depan,

dan jodoh apabila mampu.

Selamat lebaran, selamat liburan, selamat bersenang-senang.

Tabik.


Peluk kering dan cium basah,

Admin.

Categories: Brunei Darussalam

Tagged: Brunei, lebaran

8 Comments

Mamacation: Tentang Esplanade & Regina Spektor

arievrahman

Posted on July 25, 2013

.

They made a statue of us
And it put it on a mountain top
Now tourists come and stare at us
Blow bubbles with their gum
Take photographs have fun, have fun

Kata demi kata mulai mengalun dari pengeras suara di mobil, setelah sebelumnya terdengar intro dari lagu tersebut yang cukup familiar. “Ini Regina Spektor.” Kata Mama, ke Hana dan saya, kemudian Beliau tersenyum sambil berusaha mengingat-ingat peristiwa yang terjadi beberapa bulan silam, di akhir tahun 2012. “Waktu itu kami nonton ini, di Esplanade Singapura.”

***

“Wah, dapat apa saja yang dari menang undian Singasik?” tanya Mama, setelah saya mengumumkan kemenangan saya.

“Tiket pesawat PP, akomodasi di hotel berbintang, terus sama voucher buat event di Singapura sebanyak 200 Dollar.” Jawab saya, sesuai pesan dari Singasik.

“Wah, asyik dong. Terus kamu mau ke mana aja event-nya?”

“Kemarin sih rencananya, mau ke Universal Studio, S.E.A Aquarium, Gardens by The Bay, sama nonton konser gitu, Mah.”

“Konsernya siapa?”

“Regina Spektor.”

Hening sejenak, sebelum mama berkata lagi “Itu siapa?”

Spektor was born in Moscow, Soviet Union, in 1980 to a musical Russian Jewish family. Her father, Ilya Spektor, is a photographer and amateurviolinist. Her mother, Bella Spektor, was a music professor in a Soviet college of music and now teaches at a public elementary school in Mount Vernon, New York. 

Regina learned how to play the piano by practicing on a Petrof upright that was given to her mother by her grandfather. She grew up listening to classical music and famous Russian bards like Vladimir Vysotsky and Bulat Okudzhava. She was also exposed to rock-and-roll bands such as The Beatles, Queen, and The Moody Blues by her father, who obtained such recordings in Eastern Europe and traded cassettes with friends in the Soviet Union.

Spektor has a broad vocal range and uses the full extent of it. She also explores a variety of different and somewhat unorthodox vocal techniques, such as verses composed entirely of buzzing noises made with the lips and beatbox-style flourishes in the middle of ballads, and also makes use of such unusual musical techniques as using a drum stick to tap rhythms on the body of the piano or chair. Part of her style also results from the exaggeration of certain aspects of vocalization, most notably the glottal stop, which is prominent in the single “Fidelity”. She also uses a strong New York accent on some words, which she has said is due to her love of New York and its culture.

…

……

………

Saya membaca halaman Wikipedia tersebut, dan memutuskan tidak membacakannya ke Mama, karena akan butuh bertahun-tahun hingga Nabi Isa turun ke bumi untuk membuatnya mengerti tentang sejarah Regina Spektor. Dan alih-alih membacakannya, saya cuma menjawab singkat “Pokoknya keren deh, Mah. Sumpah deh.”

“Oh gitu, ya.”

“Iya.” Dan bagi saya, Regina Spektor sendiri merupakan satu dari beberapa artis wanita yang saya idolakan –selain Leslie Feist dan Jemma Griffiths–. Bahkan beberapa lagunya sudah stuck di otak saya, seperti Better, Us, Fidelity, hingga Folding Chair.

Dan akhirnya, hari kemenangan pun tiba.

***

DSCN3135

Esplanade, dilihat dari puncak Marina Bay Sands.

Kami memasuki Esplenade pada sore harinya, sekitar pukul empat sore. Anehnya, setelah celingak-celinguk beberapa saat, kami tak menemukan baik poster, maupun banner yang menunjukkan akan ada show Regina Spektor di malam harinya.

0.000000 0.000000
Categories: Events, Foreign, Mamacation, Singapore

Tagged: Esplanade, Jack Dishel, Makansutra Gluttons Bay, Mamacation, Only Son, Regina Spektor

29 Comments

+Read more

Hati-hati ke Ujung Genteng!

arievrahman

Posted on July 16, 2013

.

[DISCLAIMER: KISAH INI TERJADI BEBERAPA TAHUN SILAM]

BRAK!!!

Saya membuka mata sejenak, namun kesadaran saya yang masih belum kembali dan ditambah suara yang berdenging begitu kencang di telinga memaksa saya untuk menutupnya lagi, sampai akhirnya saya mendengar suara teman-teman yang berteriak mengumpat kesakitan –juga sebagian berdzikir–, dan mencium bau asap yang mulai merasuk ke hidung. Saya berharap bahwa ini cuma mimpi, namun rasa nyeri yang menjalar di seluruh tubuh membuat saya tersadar. Saya memaksakan membuka mata, dan mendapati mobil APV yang kami gunakan menabrak sebuah pohon di sisi kanan jalan, yang membuat kap mobil tersebut terbelah dan menyangkut ke pohon tersebut. Asap mengepul tanpa henti dari kap mobil yang terluka.

Adi, teman kami yang mendapat giliran menjadi supir mendapati kepalanya tersandar di kemudi. Ainul, yang duduk di sampingnya terus memegang kepalanya yang menerpa kaca depan mobil, dan darah bercucuran dari batoknya. Mario yang duduk di belakangnya, mengerang setelah kakinya terjepit di bawah jok dan bengkak hebat karena menghantam dongkrak yang tersimpan di situ. Di sampingnya, ada Wulan yang hidungnya terus mengucurkan darah, dan Handa yang langsung sesak napas karena kaget setelah guncangan hebat tersebut. Di barisan belakang, terdapat Ika, Petty, dan saya, yang memar-memar karena benturan tersebut.

Sejurus kemudian, saya dan Adi –yang paling sadar di antara semuanya– membantu mengevakuasi teman-teman dari mobil nahas itu, dan meminggirkannya di warung yang telah tutup di pagi buta tersebut. Tak berapa lama, mobil kami telah menjadi tontonan orang yang lewat di daerah tersebut, dan kemudian polisi pun datang.

— Malam Sebelumnya —

Sekitar pukul sepuluh, mobil APV telah membawa kami menembus kemacetan Jakarta untuk bertolak menuju Sukabumi sebelum melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng. Kami berniat untuk menyusul rombongan rekan sejawat yang telah berangkat sore harinya, namun karena ada kuliah malam, maka kami memutuskan untuk menyusul di malam harinya setelah kuliah. Saya mengendarai mobil tersebut dari Jakarta, dan menyerahkan kuncinya ke Adi, ketika mobil telah berhasil tiba di Sukabumi –setelah tersesat di tepian hutan dan jurang, dan kembali ke rute yang benar setelah bertanya ke pos polisi setempat yang masih buka– beberapa jam kemudian. Saat itu, saya tak tahu kejutan apa yang telah menanti di Ujung Genteng.

Adzan subuh mulai bergema di telinga, ketika kami memasuki Pantai Ujung Genteng.

Di ujung jalan yang berangsur-angsur tertimpa cahaya matahari, kami menemukan lokasi penginapan yang dicari yaitu Mama Losmen, yang entah apakah ada hubungannya dengan Mama Lauren dan Mama Lemon.

IMG_5365

Penginapan Mama Losmen, Ujung Genteng.

Pagi harinya, kami telah berkumpul bersama rombongan besar yang telah tiba terlebih dahulu malam hari kemarin. Rencananya kami akan mengunjungi dua curug (Air Terjun) yang terkenal di Ujung Genteng. Yang satu bernama Curug Cikaso, dan satunya bernama Curug Cigangsa. Selepas sarapan, berangkatlah kami menggunakan bus berukuran sedang yang sudah dicarter dari Jakarta oleh rombongan besar. Saat itu, kami tak tahu kejutan apa yang telah menanti di Ujung Genteng.

0.000000 0.000000
Categories: Domestic, Jawa Barat

Tagged: Cigangsa, Cikaso, Jawa Barat, Sukabumi, Ujung Genteng

132 Comments

+Read more

Dunia Imitasi dari Cina

arievrahman

Posted on July 9, 2013

.

God makes everything,

Chinese can make almost everything,

and some people believe that God is a Chinese.

 

Siapa sih yang tak kenal dengan Cina? Negeri tirai bambu ini terkenal dengan kepiawaiannya membuat beraneka macam barang, mulai dari piranti elektronik hingga perabot rumah tangga, hampir semuanya bertuliskan Made in China. Bukan hanya itu, Cina juga terkenal dengan barang-barang counterfeit atau imitasinya. Mulai dari pakaian, hingga handphone canggih pun bisa dibajaknya. Pada saat SMP, saya bisa membedakan sepatu bajakan buatan Cina dari jarak 5 meter, namun sekarang lebih susah, karena mereka semakin pintar. Setelah ratusan tahun memproduksi berbagai pernak-pernik tersebut, kini Cina kembali dengan rencana maha besarnya, menciptakan dunia.

IMG_2067

$!$@(^#@ (&#*^* $*&*& (*#(*
(baca: Window of The World)

Tangga berjalan yang sangat tinggi menyambut kami di ujung terowongan subway stasiun Shijiezhichuang, –yang entah bagaimana cara melafalkannya, atau memang sengaja dibuat rumit namanya oleh penduduk Cina sehingga tak ada yang berminat memalsukannya.– stasiun terakhir sebelum lokasi tujuan kami. Di pucuk eskalator tersebut terdapat pyramid kaca yang sepertinya (karena saya belum pernah ke sana) “mirip” seperti yang terdapat di Louvre Paris Perancis, cuma dengan ukuran lebih kecil, dan material yang terlihat lebih murahan, bertuliskan “Window Of The World”.

DSC_7224

Welcome to Our World!

“WELCOME TO OUR WORLD” Begitulah tulisan super besar yang terpampang di pintu masuk Window of The World, Shenzen, Cina. Suhu musim dingin yang rendah, tak mengecilkan kema(l)uan kami untuk segera menjelajah imitasi dunia yang dibuat oleh Cina tersebut. Bermodal tiket masuk –pada saat itu– seharga CNY 160 per orang, dan peta yang didapatkan di loket, kami mulai menjelajah dunia mereka.

Dari Wikipedia, saya mengetahui bahwa Window of The World ini terdapat pada bagian barat Shenzen, atau tepatnya pada wilayah China selatan, sebelah utara Hong Kong, dan berada di timur kota Guangzhou. Theme Park seluas 48 hektar ini menyajikan lebih dari 130 replika bangunan ternama dunia dengan skala rata-rata 1:15, dan menjadi salah satu objek wisata kebanggaan Shenzen, dengan atraksi utamanya adalah replika menara Eiffel setinggi 108 meter yang terletak di tengah-tengahnya.

[Catatan: Beberapa foto yang tampak pada postingan ini adalah imitasi dari bangunan aslinya, jika ada kesamaan tempat, nama, dan lokasi, mungkin hanya Tuhan yang tahu. Tip: Tambahkan kata “Miniatur dari” di awal judul beberapa foto pada artikel ini.]

DSC_7236

Landscape view of Window of The World

Secara garis besar, Window of The World ini dapat dibagi menjadi:

0.000000 0.000000
Categories: China, Foreign

Tagged: China, Shenzen, Window of The World

60 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan
  • Legenda Restoran Padang Sederhana

Archives

Blog Stats

  • 5,485,846 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...