Seorang lelaki tua duduk di tangga sebuah rumah adat yang tak kalah tuanya, kedua matanya hampir terpejam, dan hanya menyisakan sedikit celah untuk mengintip apa yang berada di hadapannya. Jubah bermotif loreng dikenakannya dengan apik, lengkap dengan topi kebesaran, juga dua buah paruh burung enggang yang dikalungkannya di dada. Tanda-tanda kebesaran masih terlihat pada sang pangkalima –pewaris budaya nenek moyang suku Dayak yang masih mempertahankan budaya–, walaupun dia mencoba menutupi kelemahan tubuhnya dengan cara memegang erat salah satu tiang pada tangga tersebut.
Lelaki pada foto tersebut saya temukan pada sebuah acara bertajuk Dji Sam Soe POTRET MAHAKARYA INDONESIA: Blogger Gathering & Live Blogging Competition, dan sekaligus membuka ingatan saya kembali tentang Desa Adat Pampang, yang saya kunjungi beberapa bulan silam.
***
“Sebentar berhenti dulu!” Saya bersorak ke Inul dan Ryan yang berpelukan di atas sepeda motor di samping saya. “Saya mau mengambil gambar.” Ucap saya ketika melihat gerbang pintu masuk Desa Budaya Pampang, salah satu desa yang masih menjaga adat istiadat dari Suku Dayak Apokayan dan Kenyah.
Perjumpaan saya dengan Ryan –yang bekerja di Kalimantan–, adalah perjumpaan saya kembali setelah terpisah lebih dari setahun lamanya. Sementara terhadap Inul, ini adalah kunjungan saya dalam rangka menyemangati dia yang entah secara apes –atau malah beruntung– dimutasi oleh instansinya ke Samarinda. Kami bertiga adalah sahabat lama semasa kuliah dan pernah beberapa kali traveling bersama, di mana salah satunya adalah mengunjungi Macau.
Ketika saya menanyakan “Ada apa sih yang seru di Samarinda?”, mereka berdua menyarankan supaya saya mengunjungi Desa Pampang, untuk bertemu langsung dengan Suku Dayak yang mendiami desa tersebut. Saya pun mengiyakan ajakan mereka, dan menurut untuk menempuh perjalanan sekitar satu jam ke desa ini esok harinya.
***
Pagi itu, Desa Pampang sangat sepi dan bahkan loket tiket masuknya pun tidak ada seorang pun yang menjaga. Di halaman parkirannya pun hanya terdapat sebuah mobil, dan dua buah sepeda motor yang kami pakai. Entah karena kami yang tiba kepagian, atau memang para penduduk Desa Pampang sedang menikmati Doraemon, Sinchan, atau Bima Satria Garuda di Hari Minggu pagi yang terik tersebut. Alhamdulillah, pikir saya ketika dapat masuk ke Desa Pampang tanpa membayar sepeser pun. Inilah yang dinamakan rezeki orang bangun pagi tidak akan dipatok ayam.
Perlahan saya menaiki tangga –dengan perasaan hati-hati supaya tangga tidak patah karena berat badan saya yang dikombinasikan rasa takut ketahuan karena belum memiliki tiket masuk– untuk menuju ke dalam rumah panjang dan satu-satunya rumah yang terdapat di Desa Pampang tersebut. Rumah tersebut seluruhnya terbuat dari kayu yang kokoh, dengan ornamen-ornamen khas Suku Dayak berwarna merah, kuning, hitam dan putih yang menghiasi rumah ini.
Konon, warna-warna tersebut diambil dari warna Burung Enggang, yang merupakan burung yang dianggap sakral bagi suku dayak, dan bahkan tidak diperbolehkan untuk diburu maupun dimakan. Sebagian dari mereka bahkan percaya bahwa burung ini adalah wujud penjelmaan dari Panglima Burung yang akan turun ketika perang dan membantu Suku Dayak.
***
Di dalam rumah, saya menyaksikan beberapa anak kecil yang sedang asyik bermain dan berlatih tari. Sementara di sudut yang lainnya, perhatian saya tercuri oleh sesosok pria berusia senja yang duduk di kursi panjang, dengan salah satu kaki diangkat ke atas kursi. Saya pun mendekatinya secara perlahan dan malu-malu.
“Sini-sini.” Ujar pria itu ketika melihat beberapa langkah kaki mendekat, sementara di belakang kami beberapa anak perempuan mengikuti sambil tersenyum kecil.
“Boleh ngobrol, Kek?” Tanya saya kepada si kakek.
“Boleh, sini duduk saja di samping saya.” Jawabnya sambil menggeser sedikit letak duduknya. “Saya ini sudah tak bisa melihat lagi. Sudah rusak semua.” Ucapnya.
Obrolan kami pun berlanjut –walaupun dengan sedikit kendala bahasa, namun terbantu dengan si bocah perempuan yang membantu menerjemahkan bahasa saya ke si kakek, dan sebaliknya– dengan cukup menyenangkan. Dia bercerita bahwa saat ini desa masih sepi karena sebagian besar penduduk (termasuk istrinya) pergi ke gereja (yang membuat saya terkejut bahwa Suku Dayak ternyata sudah menganut agama), bercerita bahwa dia sudah menetap di sini selama beberapa tahun setelah sebelumnya mengembara dari gunung ke gunung ketika muda (yang membuat saya terkejut akan ketangguhan Suku Dayak yang mirip Ninja Hattori), juga tentang bagaimana dia menghidupi dirinya saat ini, yang membuat saya terkejut karena…
Tagged: Dji Sam Soe, Pampang, Potret Mahakarya Indonesia, Samarinda
















