backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Siapkan Uang Ketika Berkunjung ke Pampang!

arievrahman

Posted on November 1, 2013

Seorang lelaki tua duduk di tangga sebuah rumah adat yang tak kalah tuanya, kedua matanya hampir terpejam, dan hanya menyisakan sedikit celah untuk mengintip apa yang berada di hadapannya. Jubah bermotif loreng dikenakannya dengan apik, lengkap dengan topi kebesaran, juga dua buah paruh burung enggang yang dikalungkannya di dada. Tanda-tanda kebesaran masih terlihat pada sang pangkalima –pewaris budaya nenek moyang suku Dayak yang masih mempertahankan budaya–, walaupun dia mencoba menutupi kelemahan tubuhnya dengan cara memegang erat salah satu tiang pada tangga tersebut.

d102753bf0a31e7a8438cbd7ae0e0cd0

Pangkalima by Agustian Teddy

Lelaki pada foto tersebut saya temukan pada sebuah acara bertajuk Dji Sam Soe POTRET MAHAKARYA INDONESIA: Blogger Gathering  & Live Blogging Competition, dan sekaligus membuka ingatan saya kembali tentang Desa Adat Pampang, yang saya kunjungi beberapa bulan silam.

***

DSCN9316

Pintu Masuk Desa Budaya Pampang

“Sebentar berhenti dulu!” Saya bersorak ke Inul dan Ryan yang berpelukan di atas sepeda motor di samping saya. “Saya mau mengambil gambar.” Ucap saya ketika melihat gerbang pintu masuk Desa Budaya Pampang, salah satu desa yang masih menjaga adat istiadat dari Suku Dayak Apokayan dan Kenyah.

Perjumpaan saya dengan Ryan –yang bekerja di Kalimantan–, adalah perjumpaan saya kembali setelah terpisah lebih dari setahun lamanya. Sementara terhadap Inul, ini adalah kunjungan saya dalam rangka menyemangati dia yang entah secara apes –atau malah beruntung– dimutasi oleh instansinya ke Samarinda. Kami bertiga adalah sahabat lama semasa kuliah dan pernah beberapa kali traveling bersama, di mana salah satunya adalah mengunjungi Macau.

Ketika saya menanyakan “Ada apa sih yang seru di Samarinda?”, mereka berdua menyarankan supaya saya mengunjungi Desa Pampang, untuk bertemu langsung dengan Suku Dayak yang mendiami desa tersebut. Saya pun mengiyakan ajakan mereka, dan menurut untuk menempuh perjalanan sekitar satu jam ke desa ini esok harinya.

***

DSCN9398

Selamat Datang di Desa Budaya Pampang

Pagi itu, Desa Pampang sangat sepi dan bahkan loket tiket masuknya pun tidak ada seorang pun yang menjaga. Di halaman parkirannya pun hanya terdapat sebuah mobil, dan dua buah sepeda motor yang kami pakai. Entah karena kami yang tiba kepagian, atau memang para penduduk Desa Pampang sedang menikmati Doraemon, Sinchan, atau Bima Satria Garuda di Hari Minggu pagi yang terik tersebut. Alhamdulillah, pikir saya ketika dapat masuk ke Desa Pampang tanpa membayar sepeser pun. Inilah yang dinamakan rezeki orang bangun pagi tidak akan dipatok ayam.

DSCN9382

Tangga Masuk Rumah Panjang

Perlahan saya menaiki tangga –dengan perasaan hati-hati supaya tangga tidak patah karena berat badan saya yang dikombinasikan rasa takut ketahuan karena belum memiliki tiket masuk– untuk menuju ke dalam rumah panjang dan satu-satunya rumah yang terdapat di Desa Pampang tersebut. Rumah tersebut seluruhnya terbuat dari kayu yang kokoh, dengan ornamen-ornamen khas Suku Dayak berwarna merah, kuning, hitam dan putih yang menghiasi rumah ini.

DSCN9384

Ornamen Khas Suku Dayak

Konon, warna-warna tersebut diambil dari warna Burung Enggang, yang merupakan burung yang dianggap sakral bagi suku dayak, dan bahkan tidak diperbolehkan untuk diburu maupun dimakan. Sebagian dari mereka bahkan percaya bahwa burung ini adalah wujud penjelmaan dari Panglima Burung yang akan turun ketika perang dan membantu Suku Dayak.

***

Di dalam rumah, saya menyaksikan beberapa anak kecil yang sedang asyik bermain dan berlatih tari. Sementara di sudut yang lainnya, perhatian saya tercuri oleh sesosok pria berusia senja yang duduk di kursi panjang, dengan salah satu kaki diangkat ke atas kursi. Saya pun mendekatinya secara perlahan dan malu-malu.

“Sini-sini.” Ujar pria itu ketika melihat beberapa langkah kaki mendekat, sementara di belakang kami beberapa anak perempuan mengikuti sambil tersenyum kecil.

“Boleh ngobrol, Kek?” Tanya saya kepada si kakek.

“Boleh, sini duduk saja di samping saya.” Jawabnya sambil menggeser sedikit letak duduknya. “Saya ini sudah tak bisa melihat lagi. Sudah rusak semua.” Ucapnya.

Obrolan kami pun berlanjut –walaupun dengan sedikit kendala bahasa, namun terbantu dengan si bocah perempuan yang membantu menerjemahkan bahasa saya ke si kakek, dan sebaliknya– dengan cukup menyenangkan. Dia bercerita bahwa saat ini desa masih sepi karena sebagian besar penduduk (termasuk istrinya) pergi ke gereja (yang membuat saya terkejut bahwa Suku Dayak ternyata sudah menganut agama), bercerita bahwa dia sudah menetap di sini selama beberapa tahun setelah sebelumnya mengembara dari gunung ke gunung ketika muda (yang membuat saya terkejut akan ketangguhan Suku Dayak yang mirip Ninja Hattori), juga tentang bagaimana dia menghidupi dirinya saat ini, yang membuat saya terkejut karena…

0.000000 0.000000
Categories: Domestic, Kalimantan Timur

Tagged: Dji Sam Soe, Pampang, Potret Mahakarya Indonesia, Samarinda

28 Comments

+Read more

Sejumput Kepingan Kenangan di Golden Triangle

arievrahman

Posted on October 26, 2013

Ungaran, Pertengahan 1995

Saya mengambil kartu pos yang terselip di bawah pintu depan rumah, mengangkatnya, dan memandangnya bolak-balik. Pada bagian muka, terpampang foto sungai besar dengan airnya yang cokelat di mana pada tengah sungai tersebut terdapat delta yang memisahkan sungai tersebut menjadi tiga bagian. GOLDEN TRIANGLE, begitulah tulisan yang terletak di bawah gambar tersebut.

Di baliknya, terdapat tulisan yang sangat familiar buat saya. Tulisan bersambung yang saya kenali sebagai tulisan Papa. Menjumpai: Ananda Muhammad Arif Rahman. Demikian tajuk kartu pos itu. Isinya singkat hanya menceritakan kabar Beliau di sana, dan memberikan alamat tempat training selama kunjungan dinas di Thailand. Tanpa menyebutkan lokasi yang tertera pada kartu pos tersebut.

Saya menyimpan Kartu Pos tersebut di atas meja belajar, dan meninggalkan tanda tanya besar mengenai Golden Triangle.

Chiang Saen, September 2012

DSCN6138

Golden Triangle’s boat

Hanya butuh waktu kurang dari lima menit dengan perahu untuk mencapai bagian tengah dari  Sungai Mekong yang Naudzubillah lebarnya, dan di sana pandangan saya menyapu luas delta di depan saya.

“Golden Triangle itu titik pertemuan antara tiga negara.” Kalimat dari Papa tersebut terngiang kembali di telinga saya. “Yaitu Thailand, Myanmar, dan Laos.”

“Wah, jadi sekali ke sana bisa langsung dapat tiga negara dong, Pa?” Tanya saya dengan polosnya waktu itu, sembil memainkan sebuah kartu pos di tangan.

“Iya dong. Papa ke sana waktu itu pakai perahu, rame-rame sama teman training.”

“Waaah, serunya.” Gumam saya. Membayangkan suatu tempat yang terletak di antara tiga negara sungguh membuat saya penasaran, bagaimana rasanya hidup di antara tiga kultur yang berbeda, apa bahasa yang digunakan, dan bagaimana rupa penduduk di sana.

DSCN6131

Welcome to Golden Triangle

Ada tiga landmark menarik di tepian sungai ini, yang sekaligus menandai lokasi tiap-tiap negara. Patung Buddha yang duduk di atas bahtera pada sisi Thailand, dan dua buah kasino –masing-masing milik Myanmar dan Laos– pada sisi yang lain.

DSCN6164

Mekong River, Thailand side.

DSCN6156

Myanmar’s Casino

“Nanti kamu ke sana sendiri ya.” Ucap Papa sambil mengusap kepala saya, dan kami berdua tersenyum.

Jakarta, Pertengahan 2009

Sebuah telepon yang berdering di telepon genggam saya pada tengah malam, mengabarkan berita bahwa Papa telah berpulang ke sisi-Nya.

19.907166 99.830955
Categories: Foreign, Laos, Thailand

Tagged: Chiang Rai, Don Sao, Golden Triangle, Karen, Lao Beer, Laos, Long Neck, Mae Sai, Mekong, Myanmar, Tachileik, Thailand

22 Comments

+Read more

Kisah Tragis Kuda-kuda Jeneponto

arievrahman

Posted on October 20, 2013

[WARNING: THIS POST CONTAINS SOME DISTURBING MATERIALS, READ AT YOUR OWN RISK.]

“Ada tiga hal yang membuat Jeneponto terkenal, yaitu ballo’ –minuman fermentasi yang terbuat dari buah talak–, garam, dan kuda.” Mas Wahyu, driver kami dalam perjalanan menuju Bira, menjelaskan ketika mobil kami memasuki Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. “Oleh karena itu, banyak penduduk setempat yang berprofesi sebagai pedagang ballo’, petani garam, dan penjual kuda.”

Mendengar kata kuda, yang terbayang dalam pikiran saya adalah kuda-kuda perkasa yang digunakan untuk pacuan, maupun dimanfaatkan untuk menarik delman. Namun ternyata yang terlintas di mata saya adalah kuda Janeponto yang…

IMGP1796

…tercabik-cabik di atas meja.

Pandangan saya terpusat pada pemandangan yang tersaji di pinggir jalan raya Jeneponto, di mana sebuah meja panjang menyajikan potongan-potongan daging kuda segar, lengkap dengan kepalanya yang masih utuh. Saya meminta Mas Wahyu menepikan mobil, dan menemani saya untuk melihat lapak yang dijaga beberapa orang daeng Jeneponto tersebut.

“Permisi, Mas.” Sapa saya ke penjual yang mengenakan polo shirt bergaris horizontal. “Boleh lihat-lihat, ya?”

Si penjual tersenyum, dan berkata sesuatu dalam bahasa –yang saya duga sebagai bahasa– Bugis atau Makassar. Kemudian Mas Wahyu menjelaskan maksud kedatangan saya ke si penjual, dan dia pun mempersilakan saya untuk melihat-lihat.

IMGP1798

Sesuatu yang tak dijual di TokoBagus.

“Kalau kayak gini, berapa sekilonya, Mas?” Tanya saya.

“Ini sekilonya 75.000 rupiah.” Jelasnya, sembari bercerita bahwa semua yang tersaji di meja berasal dari satu ekor kuda yang baru saja disembelih. Dia juga mengatakan bahwa penduduk Jeneponto sangat suka makan kuda dan haram hukumnya –serta dapat menjadi cemoohan– jika pada suatu pesta pernikahan tidak ada sajian kuda. Walaupun belum ada kajian medis yang akurat, masyarakat Janeponto percaya bahwa daging kuda memiliki beberapa khasiat untuk tubuh. Misalnya untuk menambah stamina pria, hingga mampu menghindarkan pemakannya dari penyakit tetanus karena daging kuda memiliki zat-zat anti tetanus.

“Biasanya dimasak apa Mas?”

“Wah ya macam-macam, hehehe.” Jawabnya sambil terkekeh. “Tergantung selera si pembeli mau diapakan. Namun yang umum ya dibuat konro atau coto, juga ataupun gantala jarang.”

“Gantala jarang?”

Mendengar kebingungan saya, Mas Wahyu menjelaskan bahwa gantala jarang adalah makanan wajib yang harus disediakan dalam suatu pesta pernikahan, di mana daging kuda direbus dengan garam dan bumbu-bumbu khusus, dan terkadang dicampur dengan darah untuk menambah cita rasanya.

“Eh Mas, boleh ambil fotonya lagi?”

Pemuda yang lain langsung mendekati kepala kuda, mengangkat bibir bagian atas kuda yang masih dihinggapi beberapa ekor lalat –sehingga muncullah seringai dari si kepala kuda– dan terkekeh “Ini biar senyum, kudanya.”.

“……………”

IMGP1797

Smile, you’re on my camera.

“Kalau untuk cowok atau cewek, sama harganya, Mas?”

“Sama saja sih.” Pria yang lain menjelaskan. “Tergantung selera. Cuma kalau yang cewek lebih banyak lemaknya.”

“Ooh.” Saya mengangguk, dan sempat berpikir kalau cewek memang ditakdirkan memiliki lebih banyak lemak, mengapa mereka sering marah kalau dibilang gemuk?

“Oh iya, kalau beli satu ekor kuda memang berapa harganya?”

“Ya kalau yang seukuran ini, sekitar tujuh setengah juta per ekornya.” Lebih murah dibanding harga sapi kurban, batin saya.

“Kalau kepalanya sendiri, biasanya dimasak apa, Mas?”

“Tergantung selera sih, cuma biasanya dimakan otaknya, dan itu sangat enak.” Tukasnya lagi sambil menjambak rambut kuda yang masih menempel di kepala yang terpenggal dan mengangkatnya.

Zombie eats human’s brain, and Janeponto’s man eats horse’s brain. Brain food chain.

IMGP1800

Bodyless horse!

“Kepala ini saja beratnya bisa tiga puluh kilo!” Pria itu berseru, yang saya balas dengan membidikkan lensa kamera saya padanya.

“Kalau gini biasanya sehari habis gak, Mas?” Saya menunjuk potongan daging yang tersisa di atas meja.

“Ya mudah-mudahan saja habis, hehehe.” Jawabnya, yang kemudian saya aminkan dalam hati.

Sekadar informasi, bagian paling mahal dan favorit dari seekor kuda jantan adalah penisnya, yang berukuran jumbo –dan membuat minder sebagian besar pria Asia– dan bisa mencapai berat satu kilo yang dipercaya berkhasiat menambah vitalitas pria dewasa. Sama seperti kelapa yang bermanfaat mulai dari akar hingga daun, kuda pun demikian. Rambut kepala dan ekornya bisa dimanfaatkan untuk sapu, kotorannya bisa untuk pupuk tanaman, sementara kulitnya bisa dijual kepada pengrajin kulit, walaupun harganya tidak lebih mahal dari kulit kerbau atau sapi.

I wonder if Jeneponto has Family Mart, maybe they will sell crispy (horse) skin as daily snack.

[CAUTION: IF YOU FEEL SICK, PLEASE STOP READ HERE. BUT YOU CAN CONTINUE IF YOU’RE BRAVE ENOUGH.]

-5.554579 119.673094
Categories: Culinary, Domestic, Sulawesi Selatan

Tagged: Coto Kuda, Jeneponto, Konro Kuda, Makassar, Sulawesi Selatan

71 Comments

+Read more

Di Bawah Langit Manado Kami Menanti Senja

arievrahman

Posted on October 11, 2013

Saya melihat arloji yang terpasang di lengan kiri saya, walaupun bukan jam dinding, jarum-jarum jam yang menunjuk tiap angka dapat saya lihat dengan jelas dari mata telanjang saya. Jarum pendek di angka 5, dan jarum panjang di angka 1, pukul 17 lewat 5 menit. Sial, sudah lewat lima menit dari waktu berakhirnya seminar dari yang tertera di jadwal. Saya semakin cemas, menantikan kapan seminar ini akan berakhir, karena ingin segera menikmati suasana Manado di sore hari itu.

Sejak hari pertama di Manado, saya telah terpesona dengan keindahan alam yang disajikan Tuhan di sana. Pada pagi hari, view inilah yang saya dapatkan melalui jendela kamar saya di Hotel Aryaduta. Awan putih berarak menuju gunung berwarna hijau di kejauhan yang terefleksikan dengan jernih melalui air di bawahnya, juga jejeran bangunan beraneka warna dan usia yang berdiri tak simetris di tepian laut, di mana pada ujungnya berdiri sebuah tugu yang tinggi menjulang.

DSCN7802

Stunning view from my room.

Saya sempat bertanya kepada beberapa kawan yang berada di Manado, apa nama tugu tersebut, siapa pendirinya, dan mengapa bisa berdiri lama tanpa obat kuat. Namun semua berkata hal yang sama “Hah, tugu apa? Emangnya ada tugu di situ?”. Hal ini semakin membuat saya penasaran, akan eksistensi tugu tersebut. Semoga bukan hanya saya yang melihatnya.

Pukul 17:15, akhirnya seminar berakhir dan saya segera turun ke kamar untuk mengambil Peju. Sebelumnya saya sempat menawarkan kepada beberapa kolega apakah mereka mau ikut JJS (Jalan Jalan Sore, bukan Jalang Jalan Sore. -red), namun tak ada yang mengiyakan. Sebagian dari mereka hanya berucap “Ah, malas, ah.”,  “Ah, sebentar lagi kan makan malam.”, atau bahkan “Ah, ah, ah.”, hingga akhirnya hanya jiwa raga saya sendiri yang menjawab “Ah, yok!“. Saya heran pada orang-orang yang telah dibiayai oleh kantor seminar di luar kota, namun hanya memilih untuk berdiam diri di hotel, tanpa berinteraksi atau berkeliling di kota tersebut. Mubazir, mending uangnya untuk memberi makan anak yatim, misalnya saya.

Setelah hanya sempat mengganti sepatu dengan sandal –tanpa sempat berganti baju dan berdandan–, saya buru-buru turun ke lantai dasar dan keluar dari hotel. Hari perlahan mulai gelap ketika saya mempercepat laju langkah saya. Saya khawatir tak akan mendapat pengalaman jalan-jalan yang seru, apabila matahari telah tenggelam ditelan bumi. Tujuan saya kali ini adalah menuju tugu misterius yang terlihat dari jendela kamar hotel. Dan sepanjang perjalanan, saya mengamati orang-orang yang saya lewati.

Melewati kerumunan pekerja yang baru pulang kerja. Ada yang cantik.

Melewati gerombolan anak SMA yang entah baru pulang main, atau baru akan main. Ada yang cantik.

Menyeberang jalan, melewati beberapa polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Ada yang cantik.

Melewati beberapa orang bertampang seram yang duduk-duduk di pinggir jalan, di depan spanduk “Brenti Jo Bagate“. Tak ada yang cantik. Saya bergidik.

Ternyata perjalanan beberapa ratus meter tersebut, telah membawa saya ke sudut jalan, di mana trotoar tak lagi berjaya, berganti dengan jalan berdebu yang ramai di mana mobil dan motor lalu lalang.

1.491701 124.842843
Categories: Domestic, Sulawesi Utara

Tagged: Aryaduta Manado, Boulevard Manado, Manado, Senja, Sulawesi Utara, Tugu Lilin

31 Comments

+Read more

5 Kaus Traveling Paling Menarik

arievrahman

Posted on October 8, 2013

Manusia memang diciptakan tanpa sehelai benang pun, namun sejak ditemukannya kain linen di Mesir yang berasal dari tahun 5000 SM, tekstil Woolen di Skandinavia dan Swiss yang berasal dari Zaman Perunggu Awal, juga tenunan India yang berasal dari tahun 3000 SM hingga sutra Cina yang berasal dari tahun 1000 SM, kita menemukan fakta bahwa manusia telah menggunakan benang, yang kemudian dipintal menjadi kain, dan diolah menjadi tekstil untuk mempercantik dan mempertampan penampilannya.

Sekarang, tekstil telah berkembang sedemikian rupa dan mempunyai bermacam olahan, mulai dari celana dalam, celana bermuda, hingga jegging; kaus dalam, kaus v-neck, hingga kaus oblong (selanjutnya akan disebut sebagai “kaus” dalam postingan ini); juga bikini, rompi tukang ojek berbendera parpol, hingga jaket beludru berumbai-rumbai.

DSCN8773

Some of My Traveling T-Shirt

Saya adalah penganut paham voyeurism sempit, di mana saya hanya berani menunjukkan lekuk tubuh saya pada tempat-tempat tertentu seperti kamar mandi atau onsen. Dan untuk itulah saya memilih kaus untuk menutupi aib (baca: lemak perut) karena berbagai alasan, yaitu:

  1. Ringan, jika dibandingkan kemeja atau jaket wol, kaus memiliki bobot yang cukup ringan dan tidak memakan tempat dalam tas ketika packing, cukup lipat tiga kali dan gulung.
  2. Nyaman, apabila dibuat dengan material yang cocok (seperti katun), kaus akan menempel dengan pas di badan, dan akan menyerap keringat ketika beraktivitas. Apabila ingin kaus yang lebih menyerap keringat, pertimbangkanlah untuk membeli kaus berbahan dasar Kanebo.
  3. Trendy, kaus akan membuat pemakainya beberapa tahun terlihat lebih muda, daripada mengenakan kain lurik atau kain kafan.
  4. Murah, apabila dibandingkan dengan tekstil olahan lain dari merk sejenis, kaus oblong adalah olahan yang paling murah, selain kaus dalam dan kaus kaki.
  5. Pesan, sablon yang terpampang pada kaus terkadang menyampaikan pesan yang unik dan lucu, seperti kaus yang menyatakan “I am Serious Traveler” atau kaus yang mengatakan bahwa Singapore is a “fine” country.
DSCN8772

Who am I?

Ketika traveling, saya suka menghadiahi diri saya sendiri dengan kaus yang saya dapatkan dari tempat-tempat yang saya kunjungi, mulai Curug Cikaso hingga Bunaken, juga Kamboja hingga Jepang. Semuanya menciptakan kenangan tersendiri akan tempat tersebut dalam hati. Dan ketika traveling, saya juga memakai beberapa kaus yang saya anggap memiliki karakter yang cocok dengan saya. Pernah suatu ketika seorang bule meminta saya untuk berbalik, karena dia ingin memotret bagian punggung kaus “a tourist” saya, dia mengatakan bahwa tulisan yang saya print di bagian belakangnya kaus custom tersebut cukup unik. Tulisan tersebut berbunyi “Don’t follow me, I’m lost.“.

Saya percaya, bahwa setiap kaus memiliki kisahnya sendiri. Beberapa koleksi kaus yang saya perlihatkan di sini, adalah kaus yang saya pakai dan/atau saya peroleh ketika traveling, dan inilah 5 kaus dengan kisah paling menarik:

0.000000 0.000000
Categories: Survival Kit

Tagged: Ben Thanh, Bugis Street, Elephanta Island, Kaka Shop, Kaus Traveling, National Stadium Thailand, Oleh-oleh

54 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan
  • Sebuah Perjalanan Menuju Kebebasan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,837 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...