Sedikit Timor Leste dan Lima Alasan Membawa Vivo V5 Ketika Traveling
arievrahman
Posted on January 5, 2017
Bagi seorang traveler masa kini, gadget –atau yang dalam bahasa Indonesia baku disebut dengan gawai, adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. Di manapun berada, kamu akan dapat menemukan para traveler masa kini sedang asyik bermain dengan gawai yang mereka punyai. Ada yang duduk di kafe sambil menikmati secangkir kopi dan Wi-Fi gratis di laptopnya, ada yang santai di pantai sambil mendengarkan musik dari portable speaker yang dibawa, ada juga yang sibuk berpose dengan kamera digital hingga mengalahkan pose model yang difotonya.
Yang menjadi candu paling dahsyat dari semua gawai tersebut, mungkin adalah smartphone, yang hampir tidak pernah lepas dari tangan mereka. Saya sering menemukan beberapa traveler yang asyik ber-selfie (dalam bahasa Indonesia disebut swafoto), merekam video pendek untuk di-upload ke Instagram Stories, menulis status di Facebook (tentang keindahan tempat yang dikunjungi, bukan tentang penistaan agama), memutar video syur hingga mendengarkan musik asyik, yang semuanya dilakukan dengan menggunakan telepon genggamnya.
Apalagi bagi saya, yang mempunyai berbagai macam kesibukan di dunia online, di mana terkoneksi dengan internet melalui telepon genggam adalah sebuah keharusan ketika traveling. Seperti halnya ketika saya mengunjungi Timor Leste, di mana saya membawa Vivo V5 (dan juga istri) sebagai pelengkap traveling saya.
Begitu mendarat di Dili yang panas, saya dan Neng langsung dikerubuti warga bak selebriti, namun bedanya, mereka tidak meminta tanda tangan ataupun foto bersama, melainkan mengucapkan kalimat-kalimat seperti “Kakak, taksinya kakak.”; “Kakak, mau ke mana, kakak?” “Kakak, mari saya antar, kakak.”; “Kakak, Giordanonya kakak.”.
Wah, ternyata di Timor Leste, semuanya bisa berbahasa Indonesia! Sebuah hal yang saya aminkan, karena saya tidak perlu repot-repot untuk berkomunikasi dengan bahasa Tetun, ataupun bahasa Portugis. Saya menerawang ke sekitar, mencari-cari sign yang bertuliskan “Mr. Muhammad Arif Rahman, welcome to Timor Leste” namun tak ada, entah karena saya bukan selebriti, atau karena orang hotel lupa mengirimkan seseorang untuk menjemput kami.
Putus asa, saya celingukan mencari hal lain. Bukan, bukan Kris Dayanti, melainkan toko penjual SIM Card lokal. Namun hasilnya nihil juga. Toko SIM Card tak ada, penjemput entah ke mana. Hingga akhirnya kami duduk pasrah di sudut bandara dan berserah diri ke seorang sopir taksi yang sedari tadi giat menawarkan jasanya kepada kami.
Tagged: Timor Leste, Vivo, Vivo V5



