“So, this will be your room, here.” Ucap Nico, host airbnb kami di Venezia, sambil menunjukkan sebuah kamar mungil nan rapi yang terletak di lantai tiga bangunan tersebut. “If you want some magic, just open the window.” Setelah dia membuat kami, atau saya tepatnya, menggotong koper seberat dua puluh kilo naik ke laantai tiga tanpa adanya lift, eskalator, maupun ojek gendong, kini apa lagi yang dia tawarkan?
Saya yang penasaran langsung bergegas membuka jendela kamar tersebut, dan menemukan pemandangan khas Venezia dalam satu bingkai. Gondola yang melaju melalui kanal-kanal sempit, dengan rumah-rumah beratap merah bata berjejer di sampingnya. Sepertinya pilihan saya untuk berbulan madu di Venezia cukup tepat dengan hadirnya pemandangan tersebut.
“The view is fantastic.” Puji saya, yang sesaat melupakan penat di bisep kekar yang kini bertelur “…and also romantic.”

“And now, I will show you some information in Venice.” Pria necis tersebut membuka peta lipat yang sudah disiapkannya, dan melingkari beberapa tempat-tempat menarik di Venezia. Mulai dari objek wisata, terminal gondola, hingga restoran-restoran lokal yang unik. “My favorite restaurant is La Zucca. They have specialization in cooking pumpkins.”
“What, pumpkins?”
“Yes, pumpkins.” Nico menjelaskan dengan menggambar sebuah lingkaran imajiner dengan tangannya. “The owner is my friend. And if you want, I can make a reservation for you, because the place is always full.”
Saya melirik Gladies, istri saya, yang saat itu sedang melirik Nico yang lebih ganteng.
Tagged: Bulan Madu, Honeymoon, Venezia, Venice

