backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Membandingkan Tur Stadion Liverpool FC dan Manchester United

arievrahman

Posted on September 2, 2017

Ada berbagai alasan orang berwisata ke Inggris, ada yang penasaran dan ingin melihat Stonehenge dari dekat (lalu tetap bingung apakah sebenarnya Stonehenge itu?), ada yang ingin sungkem ke Ratu Elizabeth (dan kemungkinan besar gagal), ada yang ingin napak tilas jejak The Beatles (dengan mengunjungi museum, mengikuti tur, dan datang ke Cavern Club versi KW Super), ada yang ingin mengikuti tur hantu di York (ya, siapa tahu, kan?), dan yang paling populer tentu saja adalah berkunjung ke markas klub sepakbola favorit.

Hal yang wajar, mengingat Inggris dikenal sebagai negara tempat lahirnya sepakbola di tahun 1800-an, ketika sekelompok pria berlarian sambil bergantian menendang bola dan mencetak gol. Saat itu, “football” dilahirkan bukan karena mereka bermain bola dengan kaki, melainkan karena permainan dilakukan sambil berdiri (dan) menggunakan kaki –alih-alih dilakukan di atas punggung kuda, seperti Jon Snow.

Berikutnya, Football Association (FA) dibentuk, dan klub-klub sepakbola di Inggris bermunculan dengan cepat, bagai akun-akun media sosial provokatif buatan Saracen. Dalam sejarah sepakbola moderen, Inggris dikenal karena produktif menghasilkan beberapa klub sepakbola besar, seperti Liverpool FC dan Manchester United.

Eh maaf, maksud saya, yang satunya adalah mantan klub besar.

Dalam kunjungan pertama saya ke Inggris pada 2015 silam, saya menyempatkan diri untuk bertandang ke Anfield yang merupakan markas Liverpool FC dan juga Old Trafford yang menjadi markas Manchester United, klub sepakbola yang dikenal sebagai yang terbesar di dunia, menurut pendukungnya sendiri.

Berdasarkan kunjungan singkat –dengan hanya mengikuti paket stadium tour versi standar, saya mencoba membandingkan mengenai pengalaman spiritual yang saya dapatkan di kedua stadion tersebut. Berikut ini adalah liputannya.

Categories: England, Foreign

Tagged: Anfield, Liverpool, Manchester United, Old Trafford, Stadium Tour

34 Comments

+Read more

Coldplay Paris

Konser Coldplay Paris dan Owa-owa Berjamaah

arievrahman

Posted on August 12, 2017

“Coldplay?” Tanya si petugas pria di loket imigrasi ketika saya beranjak maju ke hadapannya. Siang itu, saya mengenakan kaus Coldplay yang saya beli ketika menonton konser mereka di Stade de France, Paris, Perancis, dua hari yang lalu. Sambil menyerahkan paspor dan boarding pass yang akan digunakan untuk terbang kembali ke Indonesia, saya menjawabnya.

“Yes, I watched their concerts.” Jawab saya sedikit ragu, bagaimana kalau gara-gara menonton konser, saya sampai tidak diizinkan keluar dari Perancis. Hei, tapi ini kan konser, bukan ceramah radikalisasi agama dan penyebaran ajaran ISIS, sehingga seharusnya akan aman-aman saja.

“I was there too.” Sahutnya. “On Sunday.”

“Oh yeah? We were on the same stage then, because I watched on Sunday too.” Saat itu, Coldplay memang menggelar tiga kali konser di Paris, dan kebetulan memang saya mendapatkan tiket untuk hari Minggu. “But I did not see you.”

“Yekeles, yang nonton kan banyak, shaaay.” Mungkin itu adalah pikiran si petugas terhadap kalimat yang baru saja saya lontarkan. Obrolan singkat siang itu, berakhir dengan stempel pada paspor saya dan gelengan kepala petugas wanita di loket sebelah setelah mengetahui bahwa saya terbang ribuan mil dari sebuah negara di Asia yang dekat dengan Bali, hanya untuk menonton sebuah konser.

“Tu es fou.”

Coldplay Paris

Saya, adalah salah seorang yang tumbuh dewasa dengan lagu-lagu Coldplay. Ketika teman-teman seumuran merasa asyik ketika mendengarkan Crawling milik Linkin Park (RIP Chester) sambil berjoget membungkuk dengan rambut yang dijabrik-jabrikkan, saya lebih memilih menonton MTV sambil menunggu video clip tidak menarik dari band bernama Coldplay, yang saat itu baru mempunyai hits berjudul Yellow, yang konon dinamakan demikian karena Chris Martin melihat “Yellow Pages” saat akan menamai lagu ini.

Di dalam video tersebut, Chris Martin yang saat itu masih kurus –mungkin karena masih miskin dan hanya mampu makan Indomie, diceritakan sedang berlari-lari di pantai setelah menonton bintang, sambil menunggu matahari terbit. Pakaian yang dikenakannya sangat “enggak banget”, masa lari-lari di pantai sambil mengenakan jas hujan, celana gombrong, dan sepatu hitam yang sekilas membuatnya mirip dengan pekerja minyak lepas pantai.

Categories: Events, Foreign, France

Tagged: Coldplay, Coldplay Paris, Paris, Stade de France

66 Comments

+Read more

Armenia

Lika-Liku Mendapatkan e-Visa Armenia

arievrahman

Posted on July 26, 2017

Malam itu, kala sedang mengantre pembayaran di Big Bad Wolf Jakarta 2017, saya mendapat kabar buruk. Bukan, bukan kabar buruk bahwa antrean preview sale malam itu sangat parah yang mengakibatkan para pengantre harus bersabar selama lebih dari dua jam sebelum bisa melakukan pembayaran, namun sebuah kabar mengenai aplikasi Visa Armenia yang saya ajukan dua hari sebelumnya.

Your E-VISA application is DECLINED. Saya membaca kembali email tersebut, dan huruf-huruf yang terdapat di sana masih tetap sama. Tidak ada yang berubah, dari DECLINED menjadi APPROVED. Sebuah hal yang wajar, mengingat saya tidak tinggal di negeri dongeng.

“Yah, visa Armeniaku ditolak.” Gerutu saya, yang menambah situasi antrean malam itu menjadi semakin buruk. “Huvt.”

e-visa Armenia

Mengapa sih, kok bisa sampai ditolak? Entahlah, saya hanya mengajukan e-visa sebagaimana biasanya, mengisi permohonan dengan baik dan jujur, tanpa ada tambahan kata-kata kotor yang mengarah ke penistaan, pencemaran nama baik, dan perbuatan tidak menyenangkan.

Memangnya, bagaimana cara mengajukan e-Visa Armenia ini? Mudah kok, yang jelas kamu harus terlebih dahulu masuk ke website resmi pengajuan e-visa tersebut, yaitu: evisa.mfa.am

Untuk yang baru pertama kali mengunjungi website tersebut mungkin akan proses masuk (loading halaman) akan terasa sedikit lambat, namun tetaplah bersabar, karena sabar adalah kunci mencapai Ridha Ilahi. Setelah berhasil masuk, tanpa ena-ena, langsung saja klik “Apply for E-Visa” dan kamu akan dibawa ke halaman pengajuan berikut ini.

Catatan: Sebelum memulai mengisi, sebaiknya siapkan dulu softcopy foto dan scan halaman depan paspor kamu, pada laptop/PC Warnet tempat kamu online.
Categories: Armenia, Foreign, Survival Kit, Visa, Visa Armenia

Tagged: Armenia, e-visa Armenia, Visa, Visa Armenia

66 Comments

+Read more

Portuguese Egg Tarts, and Where to Find Them (in Macau)

arievrahman

Posted on July 12, 2017

There are three things that remind me of Macau. Sparkling casino, Ruins of the majestic St. Paul’s Church, and the Portuguese Egg Tart that is spread around Macau. Frankly speaking, I do not really put my heart into the first two. Firstly, I do not do gamble, because it is haram (if I lose). Then, I do not really like the ruins, because it is always full of people, so I can not find my perfect selfie spot. But the case for the Portuguese Egg Tart is different, since it is one of my favourite foods in the world.

Wait, Portuguese egg tart, in Macau? How come?

Taken from Wikipedia, there was a time when Macau became a colony of Portuguese, and later, became an overseas province under Portuguese administration. It was from 1557 to 1999, that made Macau was both the first and last European colony in China.

Portuguese traders first settled in Macau in the 16th century, then in 1557 Macau was rented to Portugal by the Chinese empire as a trading port. The Portuguese administered the city under Chinese authority and sovereignty until 1887, when Macau became a colony of the Portuguese Empire. Sovereignty over Macau was transferred back to China on 20 December 1999.

Macau

Back in 2012, when I was visiting Macau for the first time, I  got curious with the sweet-smelling aroma that teased my sense of smell on my way to the ruins. I followed it, and found out that the aroma came from a display case in front of a snack store named Pastelaria Koi Kei. Inside the case, I saw many small yellow tarts with their burnt creamy custard on the top and layers of crispy crust around it.

“It’s an egg tart.” Said the lady inside the store. “Portuguese egg tart.”

Categories: Culinary, Foreign, Macau, Miscellaneous

Tagged: Koi Kei, Lord Stow, Macau, Margaret E Nata, Portuguese Egg Tart, San Hou Lei

34 Comments

+Read more

Internetan di Luar Negeri

8 Alasan Mengapa Harus Memakai XL Pass di Luar Negeri

arievrahman

Posted on June 19, 2017

Pagi itu –masih beberapa menit selepas bangun tidur, saya masih tak percaya akan apa yang saya lihat di layar ponsel. Sebuah pesan masuk, mengatakan bahwa pemakaian data internet saat ini sudah melebihi satu juta Rupiah. Ketika itu saya sedang berada di Jaipur, India, dan masih berpikir keras, kok bisa ya saya tiba-tiba dikenakan tagihan sebanyak ini? Sementara saya tidak merasa mengaktifkan International Roaming, hanya bermodalkan jaringan Wi-Fi gratis semata.

Saya mengucek-ucek mata sambil mengacak-acak rambut (rambut sendiri), mencoba mencerna apa yang baru saja saya alami. Memang, saat itu saya adalah pengguna layanan pasca bayar, sehingga terkadang pemakaian internet bisa saja melebihi perkiraan. TAPI YA GAK SAMPAI SATU JUTA JUGA YA ALLAH!

Selidik punya selidik, ternyata ketika saya tidur malam itu, si ponsel pintar saya ini melakukan update software secara otomatis, dan juga melakukan auto-restart. Ketika hidup kembali, ponsel pintar ini tiba-tiba menonaktifkan “Airplane Mode” yang saya aktifkan selama perjalanan, dan menghidupkan jaringan data dan selular saya. Sungguh sebuah tindakan yang sangat pintar, dari sebuah ponsel pintar ber-merk Blackberry.

AARGGGHHHH!

Hawa Mahal - Jaipur

Sebagai seorang travel blogger dan social media enthusiast (hazeg!), adalah wajib hukumnya untuk selalu terkoneksi dengan internet di mana saja dan kapan saja. Ya maklum saja, karena semua pekerjaan hanya dapat dilakukan dengan menggunakan jaringan internet. Singkat kata, kalau tak ada internet, tak akan ada pekerjaan, dan tak akan ada penghasilan untuk jalan-jalan.

Categories: Survival Kit

Tagged: Internet di luar negeri, XL, XL Easy Roaming, XL Pass

94 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Tentang Mengurus Visa Cina
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!

Archives

Blog Stats

  • 5,485,508 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...