Saya yakin jika saya bertanya kepada orang-orang yang sudah pernah ke Singapura tentang bagaimana metode yang digunakan untuk menjelajah Singapura, pasti 90% dari mereka akan menjawab menggunakan kereta dalam kota atau yang sering disebut dengan MRT (Mass Rapid Transit) maupun bus kota, sementara sisanya memilih golput. Hal ini sangatlah wajar, mengingat mudah dan murahnya mencapai tempat-tempat tertentu di Singapura dengan MRT, juga karena tingginya harga mobil di Singapura yang tidak terjangkau oleh orang-orang yang berlibur ke Singapura.

Angka 90% tadi, termasuk saya.

Namun semua berubah, pada kunjungan terakhir saya ke Singapura beberapa waktu lalu.

Indonesian's Luckiest Persons

Indonesia’s Luckiest Persons

Pada kunjungan saya bersama para pemenang Skyscanner Bloscars Award 2014 dari Indonesia tersebut, saya mencoba beberapa cara yang mungkin jarang digunakan turis-turis (terutama, yang berasal dari Indonesia) untuk menjelajah Singapura, dan menikmati objek-objek yang terdapat di kotanya.

Sejak pukul sembilan pagi, kami telah berkumpul tepat di bawah Singapore Flyer, yang juga merupakan icon kebanggan Singapura. Pada awalnya, saya mengira akan diajak sarapan nasi uduk romantis di atas bianglala terbesar di Singapura tersebut, namun perkiraan saya tidak terbukti ketika seorang encik-encik Singaporean memberikan tiket bertuliskan “City Tours” dan memberikan briefing singkat mengenai kegiatan apa yang akan dilakukan hari itu.

Dan hasilnya, kami akan berkeliling Singapura menggunakan…

A. FunVee Open Top Bus

Funvee

Funvee City Tours

Beroperasi sejak tahun 1971, Funvee –yang merupakan akronim dari Fun Vehicles– menawarkan sebuah pengalaman berkeliling Singapura dengan beberapa jenis moda transportasi unik, yang meliputi FunVee Single Deck Open Top Bus, Double Deck Open Top Bus, dan Captain Explorer DUKW Amphibious Vehicle. Saat ini, Funvee memiliki tiga rute utama yaitu:

  • Funvee City Hopper Green Route (CH)
  • Funvee Sentosa Hopper Red Route (SE)
  • Funvee Marina Hopper Orange Route (MH)

Untuk penggunaannya, saya mengambil contoh jika menggunakan City Travel Pass, pengunjung dapat menggunakan Funvee City Hopper –yang tersedia setiap 20-30 menit sekali– selama 24 jam. Bus akan berhenti pada beberapa perhentian strategis, yang berlokasi dekat dengan atraksi-atraksi wisata yang tersebar seantero Singapura, dan bahkan beberapa diantara perhentiannya terkoneksi langsung dengan stasiun MRT.

Menarik, bukan?

View from the top

View from the top of the bus

Saat itu, saya bersama Leony, Dhea, dan Alfandy Firsta, Indri, dan Fahmi berkesempatan untuk mencoba salah satu rute unggulan Funvee ini, yaitu Green Route, yang menembus kota Singapura. Petualangan kami dimulai dari Singapore Flyer dengan menggunakan Double Deck Open Top Bus, dan kami sepakat untuk mengambil tempat di lantai atas bus beratapkan langit.

Karena sesungguhnya lelaki sejati tidak takut hitam, tapi takut kehilangan cinta sejati.

Perjalanan diawali dengan mengambil jalur Raffles Avenue yang berlanjut ke Esplenade Drive melewati beberapa landmark unggulan Singapura seperti Esplenade Theatre dan Merlion Park, sambil menatap Marina Bay Sands di kejauhan. Kemudian berlanjut ke Raffles Quay tempat salah satu pusat makanan langganan saya, Lau Pa Sat Festival Market berada.

Suasana di lantai atas bus cukup gaduh, dengan hadirnya kami –selaku tim Indonesia di Skyscanner Bloscars Awards 2014– bersama dengan para peserta dari negara lainnya. Kami pun menikmati perjalanan Funvee sambil mengobrol, bercanda, hingga berfoto bersama. Indri yang memang seorang arsitek, menghabiskan banyak waktunya dengan mengambil foto bangunan-bangunan unik yang dilewati sepanjang perjalanan, sementara Firsta dan Fahmi aktif mengkampanyekan #SaveSharks di atas bus, sedangkan saya galau menatap langit.

Berikutnya, bus berkapasitas 55 orang tersebut berbelok lagi ke arah Maxwell Road, melewati Maxwell Food Centre, tempat Tian Tian, kedai nasi ayam Hainan favorit saya. Setelahnya bus melewati Chinatown hingga ke arah River Quay, tempat Novotel, hotel saya menginap berada. Yang menarik dari bus ini adalah tersedianya Audio Guide yang terpasang pada bangkunya, yang dapat menjelaskan posisi bus saat itu, termasuk cerita dan sejarah tempat-tempat yang dilewatinya.

Dan tiba-tiba, bus masuk ke dalam gerbang Singapore Botanical Gardens.

Sempat berpikir bahwa kami akan diajak berkeliling Botanical Gardens dengan menggunakan bus, namun ternyata bus hanya berputar sejenak, dan kembali ke jalan yang benar menyusuri Orchard Road –lokasi berbelanja favorit sosialita kelas menengah Indonesia– sebelum akhirnya mengakhiri perjalanan di tempat kami semula berasal, Singapore Flyer.

Perjalanan tersebut dihabiskan dalam waktu sekitar satu jam, tepat sesuai jadwal yang tertera dalam brosur. Berikutnya –setelah mengunjungi Merlion Park–, kami diajak ke salah satu dermaga di sudutnya, di mana telah menunggu seorang uncle necis yang telah siap dengan perahunya, karena jadwal berikutnya adalah…

B. Singapore River Cruise

Singapore River Cruise

Bumboat – Singapore River Cruise

Bumboat, adalah salah satu jenis transportasi paling lama yang sudah digunakan ratusan tahun lalu oleh penduduk Singapura, dan oleh Singapore River Cruise (SRC) yang dirintis sejak tahun 1987, sejarah bumboat dijaga dan dipelihara hingga sekarang. Berawal dari bumboat bertenaga diesel, yang kini digantikan oleh bumboat elektrik yang lebih ramah lingkungan, SRC menyediakan salah satu cara paling primitif namun asyik untuk menjelajah Singapura, yaitu melalui Singapore River.

Melalui 24 buah armadanya, SRC akan mengajak pengunjungnya menyusuri Singapore River, mulai dari River Valley ke Marina Barrage, maupun sebaliknya. Pengunjung pun dapat berhenti pada 13 buah dermaga yang terdapat sepanjang sungai tersebut, cukup komunikasikan saja pada si nakhoda, tak perlu sampai mengancam akan melompat ke dalam sungai jika ingin berhenti.

Inside the bumboat

Inside the bumboat

Tidak seperti Sungai Ciliwung yang banyak sampah maupun Sungai Gangga yang sering ditemukan mayat mengambang, menyusuri Singapore River sangatlah nyaman, walaupun mungkin airnya keruh, namun di sini tidak ditemukan bungkus sabun colek yang mengambang, apalagi mayat.

Perjalanan kami menggunakan bumboat dengan material kayu yang terawat dengan baik ini berawal dari Merlion Park, ke arah Fullerton –yang merupakan salah satu hotel termahal di Singapura–, sebelum menuju Boat Quay. Di sisi kanan saya dapat melihat Esplanade Park dengan patung Rafflesnya, sementara di sisi sebaliknya, saya melihat kemegahan Hotel Fullerton, juga kafe-kafe cantik yang menghiasi Boat Quay.

Menarik, bukan?

With other contestants

Please focus, guys.

Perjalanan selama 30 menit itupun akhirnya berhenti di Clarke Quay, tempat di mana acara makan siang berlangsung. Bumboat menepi dan bersandar pada dermaga Clarke Quay, sementara para penumpangnya turun satu per satu dengan kaki terlebih dahulu.

***

Acara kami siang itu, berlanjut dengan makan siang yang berlangsung di hotel tempat saya menginap, yaitu Novotel Clarke Quay. Karena tempatnya yang strategis, di pusat keramaian, hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja untuk mencapai hotel ini.

Makanan yang disajikan di hotel memang sungguh istimewa, sajian buffet unlimited yang berisikan banyak menu mulai dari makanan khas Jepang seperti sushi, makanan khas Cina seperti bebek peking, hingga makanan khas India seperti biryani tersedia lengkap di sana. Belum lagi dessertnya yang menghadirkan bermacam buah dan gelato beraneka rasa sungguh menggoda iman.

Itu baru restorannya, kamar yang saya tiduri malam harinya pun tak kalah istimewa. Sebuah king size bed untuk dipakai SENDIRI –entah harus bersyukur atau bersedih–, bathtub yang digunakan SENDIRI, hingga jaringan internet via wi-fi yang super cepat dan tak terbatas. Yang saya sukai lagi dari hotel ini adalah sambutan yang diberikan kepada saya, melalui sepucuk surat dan sepiring penuh buah-buahan.

EXPLORE Singapore

Oh iya, buat kamu yang berencana menginap di Novotel Clark Quay, sekarang sedang berlangsung program penawaran khusus yang bertajuk EXPLORE Singapore. Penawaran ini berlaku untuk kamu yang melakukan pemesanan online melalui www.accorhotels.com sebelum tanggal 15 Agustus 2014 untuk masa pemakaian sampai dengan tanggal 30 September 2014.

Melalui program ini, kamu akan mendapatkan rate terbaik, buffet breakfast, akses wi-fi tak terbatas, dan yang paling seru, kamu akan mendapatkan local attraction pass, seperti Singapore River Cruise atau Funvee City Tour Hop On/Off Bus Pass!

Menarik, bukan?

***

Sebenarnya, ada satu cara asyik lain yang dapat digunakan untuk berkeliling Singapura. Cara paling primitif yang digunakan oleh manusia, dan lazim digunakan oleh mereka yang ingin sehat maupun yang melakukannya karena alasan ekonomi. Yaitu berjalan kaki.

Hari berikutnya, saya dan kontingen dari Indonesia berjanji sehari semalam untuk berwisata bersama-sama, dan kami –yang memilih melakukan wisata museum hari itu– memutuskan untuk mengkombinasikan moda transportasi yang tersedia di Singapura, yaitu bus dan kereta dalam kota dengan berjalan kaki.

Berjalan kaki di Singapura, sangatlah nyaman. Di sana, tak ada yang namanya asap Kopaja, sampah-sampah dan puntung rokok yang berserakan, hingga pengendara sepeda motor yang menggunakan trotoar. Bahkan hampir semua pengguna kendaraan di sana memberikan prioritas khusus kepada para pejalan kaki dengan mengalah dan memberikan jalannya, apabila ada pejalan kaki yang ingin melintas di tempat yang benar.

Singapore by foot

Singapore by foot

Setelah turun dari bus yang membawa kami ke pertokoan Bras Basah, kami berjalan kaki ke samping pertokoan dengan desain kuno tersebut, menyeberang ke arah Raffles Hotel sebelum menemukan MINT – Museum of Toys, yang terletak sedikit tersembunyi di belakang sebuah kafe. Museum setinggi lima lantai ini mempunyai koleksi ribuan mainan antik sepanjang masa, mulai dari mainan mobil-mobilan kaleng Eropa, action figure komik-komik Jepang, hingga merchandise resmi The Beatles yang merupakan kesukaan saya.

Lepas dari sana, kami menyusuri Victoria Street dan Stamford Road, mampir sejenak di CHIJMES –bekas gereja dan sekolah keagamaan yang kini berubah bentuk menjadi kafe– dan mengambil beberapa fotonya, sebelum menuju museum kedua yaitu Peranakan Museum.

Peranakan, merupakan sebutan untuk warga asli Singapura yang memiliki ras Melayu. Di museum yang didirikan pada tahun 1912, dan masih merupakan bagian dari Asian Civilisations Museum ini, pengunjung dapat melihat tradisi dan budaya khas yang terjadi di kaum Peranakan, seperti pakaian khas yang digunakan, bagaimana perayaan pernikahan di sana, hingga bagaimana mereka menghadapi kematian.

Malam harinya, kami berbaur dengan penduduk lokal dan turis menikmati malam hari di Clarke Quay, sebelum menuju East Coast untuk menikmati Singapore Chili Crab di Jumbo Seafood.

***

Artikel ini didedikasikan untuk Skyscanner Indonesia, yang telah mengundang kami untuk menjelajah Singapura.
Jadi, kapan kita ke Singapura lagi?

Jadi, kapan kita ke Singapura lagi?

Advertisements