backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Pesona Wisata Alam Singapura (1)

arievrahman

Posted on March 6, 2015

Ya, kamu tidak salah membaca judul artikel ini. Pesona Wisata Alam Singapura. Alam yang merupakan segala yang ada di langit dan di bumi (versi KBBI), bukan Alam Mbah Dukun yang sedang ngobatin pasennya. Tseeehhhh!

Apabila selama ini, Singapura yang kamu tahu adalah negara dengan gedung-gedung modern, shopping malls, Merlion, Esplanade, Universal Studios, maka dapat dipastikan bahwa kamu belum mengenal Singapura seutuhnya. Kamu hanya mengenal kulit luarnya saja tanpa mau mendalami lebih jauh dan berkenalan dengan keluarganya, so I tell you kids, Singapura memiliki lebih dari itu. Singapura juga mempunyai bentang alam yang masih terjaga keasriannya hingga kini.

Berikut ini adalah beberapa kisah saya tentang alam Singapura.

Pendakian Puncak Alam Tertinggi Singapura

Saya menatap jalur yang terdapat di hadapan saya, mentok, tak ada jalan setapak maupun jalan terbaik di sana. Yang ada hanya medan terjal dengan batuan terjal berlumut, yang masih menyisakan sisa hujan semalam, bersama tanah-tanah yang becek, dan akar pohon yang menjuntai jauh ke bawah.

Aduh! Kenapa juga saya tadi memilih lewat Rock Path, alih-alih jalur yang biasanya. Berikutnya, saya mengalungkan kamera, mengencangkan tali daypack yang saya bawa –agak sedikit menyesal mengapa saya memasukkan laptop ke dalam tas, padahal liburan sih liburan saja, tak perlu membawa laptop yang juga tak terpakai kerja–, sebelum meremas akar besar (tolong fokus) yang terdapat di dekat saya.

Saya mulai memanjat.

Rock Path, Bukit Timah Nature Reserve.

Rock Path, Bukit Timah Nature Reserve.

Beberapa jam sebelumnya, saya masih terdampar di Stasiun Bukit Gombak, karena keliru turun dari MRT akibat hasil browsing yang salah tentang bagaimana cara mencapai Bukit Timah Nature Reserve, tempat puncak alam tertinggi Singapura berada. Setelah sempat mampir ke Stadion Bukit Gombak dan melihat paha-paha mulus yang sedang lari pagi, saya kembali ke loket stasiun, bertanya tentang cara pergi ke tujuan saya.

“Take bus number 67 from Choa Chu Kang Station.” Ucap si wanita India dari balik loket, sebelum saya masuk ke dalam stasiun.

Satu jam kemudian, saya sudah berada di dalam bus nomor 67, yang akan membawa saya mendekati Bukit Timah. Malu bertanya sesat di jalan, dan karena tak mau salah berhenti lagi, saya bertanya kepada seorang pemuda lokal yang tampak pintar dengan kacamata bacanya. Dia menggeleng, “Do you have smartphone?” Tanyanya.

Categories: Foreign, Singapore

Tagged: alam Singapura, Bukit Timah Nature Reserve, MacRitchie Reservoir, Rock Path

72 Comments

+Read more

Mamacation: Merah-merah di Petak Sembilan

arievrahman

Posted on March 2, 2015

“Yo aku melu to!” Rengek Mama ketika saya memberi tahu bahwa besok saya akan mengikuti walking tour perayaan imlek di Kawasan Petak Sembilan, Jakarta. Dan saat itu, kebetulan, Mama memang akan pergi ke Jakarta untuk mengunjungi anak semata wayangnya. “Mosok aku dewekan ning omah?”

“Iyo, yowes melu wae.” Jawab saya mengiyakan, sebelum dikutuk menjadi batu akik. “Acarane esuk lho.“

Terdengar jeda sejenak dari sambungan telepon di ujung sana, sebelum muncul suara yang sudah akrab di telinga selama lebih dari 20 tahun, “Jadi besok aku pakai baju merah ya? Terus kembaran, kita?”

Kali ini giliran saya yang mengheningkan cipta.


Petak Sembilan, sebenarnya bukan barang baru buat saya, karena saya pernah melakukan kunjungan ke sana bersama seorang panda lokal tahun lalu. Namun bagi Mama, yang tidak tinggal di Jakarta, kunjungan ke Petak Sembilan –apalagi bertepatan dengan imlek–, merupakan sesuatu yang menarik. “Aku yo pengin nonton piye nek imlekan ning Jakarta.”.

And another Mamacation begins.

Setelah menempuh perjalanan romantis dengan sepeda motor selama 40 menit yang diiringi rintik hujan dari daerah Kebayoran, tibalah kami di starting point acara tur pagi itu, yaitu Museum Bank Mandiri. Di sana telah menunggu beberapa kawan (beserta dua kotak kue cubit), yang memang telah mengikat janji untuk mengikuti acara tersebut bersama. Sebut saja Firsta, Vindhya, dan Wira.

Berikutnya dilakukan briefing singkat, sebelum kami dilepas bersama seorang pemandu lokal yang akan membawa kami menjelajah Petak Sembilan dan sekitarnya.

Konon, bahwasanya nama Petak Sembilan berasal dari rumah-rumah penduduk zaman dahulu yang tersusun pada petak-petak yang berjumlah sembilan.

Dimulai dari jalan raya di samping Museum Bank Mandiri, kami menyusuri jalan dengan graffiti di tepi flyover yang telah disesaki para penjual beraneka macam barang kebutuhan sehari-hari, dari buah-buahan, pakaian dalam, walaupun tak ditemukan penjual buah-buahan dalam pakaian dalam.

Kawasan Cagar Budaya

“Ini sudah masuk kawasan cagar budaya dan tidak boleh direnovasi, harusnya, namun beberapa rumah sudah direnovasi.” Jelas cici pemandu perjalanan kami (berikutnya akan disebut sebagai ‘cici’ saja, bukan ‘cici’ banget).

Petak Sembilan

Rumah yang telah direnovasi di Petak Sembilan

Cici kemudian menunjuk deretan ruko di seberang jalan “Itu adalah bangunan tahun 1900-an, di mana di depannya ada arcade yang tujuan awalnya digunakan untuk jalan tempat orang lewat, namun sekarang lebih banyak dipakai sebagai lokasi berjualan.” Saya maklum, karena bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa kreatif yang pandai mencari peluang bisnis dan lapangan pekerjaan. 

Categories: DKI Jakarta, Domestic, GMT +7, Mamacation

Tagged: Imlek, Mamacation, Maria de Fatima, Petak Sembilan, Vihara, Vihara Dharma Bhakti, Vihara Dharma Jaya Toasebio

45 Comments

+Read more

7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang

arievrahman

Posted on February 26, 2015

Ada yang bilang kalau saat yang tepat untuk mengunjungi Jepang adalah saat musim semi, ketika bunga sakura mekar dan sedang ranum-ranumnya. Namun ada juga yang mengatakan bahwa waktu paling seru mengunjungi Jepang adalah ketika musim panas karena bisa mendaki hingga ke Puncak Gunung Fuji. Lain halnya dengan yang berpendapat bahwa Jepang terlihat lebih fresh ketika bisa melihat musim gugur dengan warna-warninya, atau malah ada yang berkomentar lebih asyik kalau bisa bermain ski di musim dingin.

Pendapat tersebut tidak ada yang salah, karena Jepang memang dikenal sebagai negara empat musim yang mana tiap musimnya mempunyai kejutannya sendiri. Ketika saya mengunjungi Jepang pada sebuah musim gugur beberapa waktu lalu, saya pun mendapatkan sensasi yang dahsyat. Bukan, bukan sensasi mandi beramai-ramai di onsen, berburu geisha, ataupun mengunjungi adult shop, melainkan sensasi ketika menikmati alam musim gugur untuk pertama kali sepanjang hidup.

Dedaunan beraneka warna yang berguguran, hawa dingin yang sesekali menusuk tubuh, juga pemandangan alam yang menyegarkan (termasuk pemandangan gadis-gadis lokal ber-yukata yang terlihat lugu), semua saya nikmati di musim gugur tersebut. Dan berikut ini adalah 7 (tujuh) cara seru menikmati musim gugur di Jepang.

1. Pilih Waktu yang Tepat

Toyama

Mount Tateyama

Categories: Foreign, Japan

Tagged: Autumn, Japan, Tateyama Kurobe Alpine Route, Toyama

142 Comments

+Read more

Museum of Sex

Terjebak di Museum of Sex!

arievrahman

Posted on February 14, 2015

Sungguh, bukan maksud saya mengunjungi museum ini pada petang itu. Namun kalau ada yang bisa disalahkan, maka salahkan si wanita penjaga loket Top of The Rock Observation Deck Rockefeller Center, New York, Amerika Serikat.

“The ticket for now is not available.” Ucap si wanita begitu saya tiba di antrean terdepan. Sebelumnya, saya telah berdiri mengantre selama sekitar tiga puluh menit. “The next available time is 8PM.”

“So I can’t see the sunset?” Tanya saya, sedikit panik, karena sebelumnya Nindya pernah bercerita kalau saat paling keren untuk mengunjungi Top of The Rock adalah ketika matahari terbenam, atau yang dalam bahasa setempat disebut sunset. Just in case kamu belum tahu.

Wanita Afro American tersebut menggeleng, kemudian menatap saya sambil sedikit membelalakkan matanya “So, you take it or not? Hurry up, many people are waiting for you.” Jelasnya lagi sambil menunjuk ke antrean di belakang saya.

Sungguh, bukan maksud saya untuk terlambat, dan jangan salahkan saya kalau sedikit terlambat tiba. Salahkan kasur di apartemen Lex, host airbnb saya di Harlem, yang terlampau menggoda (kasurnya, bukan tubuh sintal Lex), yang membuat saya tidur pulas setelah mengunjungi Patung Liberty dan Wall Street pagi harinya.

“Do you have any other visit time?“

“Yes, 8.30PM“

“Okay, I’ll take that.” Jawab saya, sambil melakukan pembayaran. Saya berpikir, kalau sudah tak dapat sunset ya sudah malam sekalian, dan lebih baik menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar situ.


Fifth Avenue

Fifth Avenue, New York

Lepas dari Rockefeller Center yang terletak di antara fifth dan sixth avenue pada 50th street, saya bergerak ke selatan, menyusuri fifth avenue. Di New York, tepatnya Manhattan, jalanan terbagi menjadi dua, yaitu avenue yang membentang dari utara ke selatan, dan street yang membelah avenue tersebut ke dalam blok-blok kecil. Sebagai gambaran, panjang 20 blok yang membentang adalah sekitar 1 mil, atau 1,6 kilometer menurut The International System of Units. Dan rata-rata dibutuhkan waktu 2 menit untuk berjalan menyusuri tiap blok, tanpa berhenti, tanpa foto-foto, tanpa selfie.

Saya terus bergerak ke selatan, melewati berbagai landmark yang menarik. Mulai dari New York Public Library, Empire State Building, hingga berbagai macam toko fashion ternama juga toko oleh-oleh khas Amerika Serikat. Pada sebuah persimpangan, saya sempat berhenti, dan memperhatikan seseorang berdandan mirip Joker menyeberang jalan. Sementara di persimpangan berikutnya, matahari mulai terbenam dari arah barat dan memendarkan cahaya emasnya di antara gedung-gedung tinggi.

Lalu saya berhenti lagi, di 27th street, dengan Flatiron Building yang berdiri megah di kejauhan. Namun perhatian utama saya bukanlah itu, namun sebuah bangunan kecil di seberang jalan. Sebuah bangunan bertuliskan Museum of Sex.

Museum of Sex

Museum of Sex

Mosex

Sex

Sex

Sex

Astaghfirrulah hal’azim. Saya langsung mendatangi bangunan itu dengan berapi-api. 

Categories: Foreign, United States of America

Tagged: Fifth Avenue, Mosex, Museum of Sex, New York, USA

87 Comments

+Read more

Tawar Menawar Hotel di Travelio

arievrahman

Posted on February 8, 2015

“Enaknya, kita bisa menentukan our own rate ketika menginap di hotel pilihan kita.” Ucap Hendry Rusli selaku Managing Director dari Travelio pada peluncuran eksklusif Travelio.com “Your Trip Your Price” yang dilangsungkan di Convivium, Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan, pada tanggal 31 Januari 2015 silam. “Saat ini kami sedang fokus di Indonesia, Singapura, serta beberapa negara di Asia Tenggara.”.

Belum tahu tentang Travelio? Wajar, karena situs ini baru hadir di antara kita secara malu-malu pada tanggal 21 Januari 2015, dan diluncurkan secara eksklusif 10 hari kemudian. Secara garis besar, Travelio adalah sebuah situs booking hotel online yang berada di bawah PT Horizon Internusa Persada, dengan Lio, si singa imut sebagai maskotnya.

“Ya, kita memang hanya fokus pada hotel.” Hendry menekankan pada presentasinya. Dan apakah Travelio hanya situs booking hotel biasa? Ternyata tidak. Lebih lanjut, kokoh-kokoh unyu ini memberikan alasan mengapa kita harus menggunakan Travelio untuk melakukan pemesanan hotel, yaitu kita dapat menentukan harga sendiri secara fleksibel dan menariknya komponen harga yang terdapat di Travelio sudah merupakan paket all in, jadi tidak ada lagi biaya lain, seperti biaya pajak hotel, convenience fee, juga biaya keamanan RT setempat.

Hendry Rusli, Managing Director Travelio.

Hendry Rusli, Managing Director Travelio.

Menentukan harga sendiri secara fleksibel? Iya, maksudnya kita dapat menawar hotel tersebut secara online. Menarik, bukan?

Categories: Accommodation, Events, Survival Kit

Tagged: Hotel, Kenny KartuPos, Travelio

51 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang
  • This Is How FootballTicketNet Ruins My Childhood Dream

Archives

Blog Stats

  • 5,485,764 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...