backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Cara Mendapatkan e-Visa Georgia bagi Warga Negara Indonesia

arievrahman

Posted on May 12, 2017

Apa yang terlintas dalam benak kamu, apabila saya menyebutkan kata “Georgia”? Sebuah negara bagian di Amerika Serikat? Sebuah negara yang terletak di antara Asia dan Eropa? Sebuah lagu lama berjudul “Rainy Night in Georgia”? atau malah kamu belum pernah mendengar apapun tentang Georgia? Tidak masalah, karena memang pada dasarnya, nama Georgia masih belum terlalu familiar bagi kebanyakan dari kita, penduduk Indonesia.

Padahal Georgia (yang saya maksud di sini) adalah sebuah negara yang memiliki bentang alam menakjubkan, sejarah yang kaya, juga dikenal sebagai negara penghasil wine pertama di dunia. Loh tapi kan kita negara muslim? Pasti gak tahulah tentang wine. Ya sudah, terserah, tapi kalau kamu menanyakan pertanyaan yang sama tentang saya, maka jawaban saya adalah “Temur Ketsbaia”.

Panganan uopo meneh iku Temur Ketsbaia?

Temur Ketsbaia

Temur Ketsbaia

Bagi saya,  yang merupakan penggemar klub bola Newcastle United, Temur Ketsbaia adalah orang pertama yang membuat saya mengetahui tentang adanya negara bernama Georgia. Kepalanya yang plontos, penampilannya yang kadang bagus di lapangan, dan nomor punggung 14 (saya lahir di tanggal 14, kebetulan?) yang dikenakannya saat itu –tahun 1997, membuat saya ingin mengenal lebih dalam tentangnya.

Dari hasil penelusuran saya (dengan membaca tabloid BOLA dan LIBERO, karena dulu belum ada Google di Ungaran) terhadap pemain yang pindah dengan free transfer dari AEK Athens ke Newcastle United tersebut, saya kemudian menemukan Georgia, sebagai negara asalnya.

Kini belasan tahun berlalu, saya yang saat itu masih ingusan, telah tumbuh menjadi seorang dewasa, yang kadang ingusan juga. Bawahnya. Sementara Ketsbaia yang dulu bermain untuk Newcastle United, kini telah kembali lagi ke klub asalnya AEK Athens, sebagai manajer. Waktu berlalu, dan tahun berubah, namun rasa penasaran terhadap Georgia belum berkurang, apalagi ketika saya mendapatkan undangan jamuan makan siang dari Zurab Aleksidze, duta besar Georgia untuk Indonesia, yang semakin membuka wawasan saya tentang keindahan Georgia.

Categories: Georgia, Visa, Visa Georgia

Tagged: e-Visa Georgia, Georgia, Ketsbaia, Visa

118 Comments

+Read more

40 Hal Seru yang Dapat Dilakukan di Cappadocia (Bagian Pertama)

arievrahman

Posted on May 4, 2017

Sebagai seorang pekerja kantoran yang suka jalan-jalan, dapat mengatur dan mengalokasikan jatah cuti untuk liburan dengan baik adalah sebuah kemampuan yang selayaknya dapat dimasukkan ke dalam CV — Curriculum Vitae, bukan Commanditaire Vennootschap. Saya, yang hanya memiliki jatah cuti dua belas hari dalam setahun, mau tidak mau harus mengirit cuti tersebut supaya benar-benar worth, baik untuk cutinya, maupun perjalanannya. Bahkan untuk kepergian tahun depan, tidak jarang saya harus menabung cuti mulai dari tahun sebelumnya.

Namun, ada kalanya sebuah rencana mengirit cuti menjadi berantakan akibat sebuah penawaran menarik, yang akhirnya membuat saya harus membiarkan jatah tabungan cuti tahun depan menjadi hangus. Seperti yang terjadi kepada saya di penghujung 2016, ketika sebuah penawaran media trip dari Turkish Airlines mengajak saya untuk mengunjungi Cappadocia, Turki.

Kampret, seketika saya merasa menjadi seorang pebisnis yang mendapat penawaran dari Godfather Don Vito Corleone, “I’ll make you an offer that you can’t refuse.“, sebuah penawaran yang membuat saya tak berkutik, dan merelakan tabungan cuti 2017 saya terenggut, asalkan saya bisa ke Cappadocia.

Cappadocia

Untungnya, pilihan saya tak salah, karena perjalanan selama tiga hari ke Cappadocia tersebut telah menjadi salah satu perjalanan yang paling menyenangkan seumur hidup saya. Hal tersebut juga terbukti dengan banyaknya likes yang saya dapat di Instagram ketika saya mengunggah foto-foto di Cappadocia, yang jumlahnya lebih banyak daripada like yang masuk untuk foto selfie saya.

Categories: Foreign, Turkey

Tagged: Cappadocia, Kapadokya, Turkey, Turkish Airlines

57 Comments

+Read more

Mudahnya Mendapatkan e-Visa Azerbaijan bagi Warga Negara Indonesia

arievrahman

Posted on April 23, 2017

Sebenarnya, nama Azerbaijan tidak ada dalam travel-list saya tahun lalu; bahkan tidak sedikit pun terbersit akan mengunjungi Azerbaijan ketika saya memutuskan untuk membeli tiket penerbangan ke Iran. Namun, kenyataan  berkata lain, terlebih ketika saya mendapatkan fakta bahwa secara geografis, ternyata Azerbaijan terletak menempel dengan Iran.

Spontan, uhuy, jiwa flashpacking saya langsung bergelora. Masa iya, perjalanan 10 hari cuma dihabiskan untuk berdiam di satu negara (baca: Iran) saja, sementara negara-negara tetangganya (Azerbaijan, Georgia, Armenia) yang tergabung di area Caucasus, seperti memanggil-manggil bagai wanita malam seksi di daerah Hayamwuruk – Gajahmada. “Kunjungi aku, mz!” “Jamah aku, mz!” demikian panggil mereka.

Sebuah godaan yang ternyata tak dapat saya elak.

Negara Azerbaijan mulai menarik minat, ketika saya melihat namanya menjadi sponsor klub sepakbola Atletico Madrid beberapa musim silam. Di dada Diego Costa yang wajahnya terlihat beberapa dekade lebih tua dari saya, waktu itu, terpatri tulisan Azerbaijan: Land of Fire yang menggelitik nalar saya, “Sekeren apa sih negara yang memutuskan untuk menjadi sponsor klub sepakbola?”.

Land of Fire, atau yang dalam bahasa lokal disebut sebagai “Odlar Yurdu”, adalah sebuah frasa dalam bahasa Azerbaijan yang menggambarkan keadaan penduduknya yang dahulu mengenal api sebagai dewa mereka. Tapi itu dahulu, karena sekarang Azerbaijan sudah menjadi negara dengan penduduk mayoritas muslim. Allahuakbar, takbir!

Selain itu, secara geografis, Azerbaijan mendapat julukan “Land of Fire”, karena terdapatnya fenomena “burning hillsides” atau bukit yang terbakar oleh api abadi di sana. Konon, fenomena ini disebabkan oleh gas yang merembes keluar dari dalam perut bumi. Azer sendiri berarti api, dan seiring berjalannya waktu, frasa “Land of Fire” berkembang menjadi lambang kedaulatan politik dan simbol budaya Azerbaijan.

Pertanyaan berikutnya pun muncul, mudahkah mengunjungi Azerbaijan bagi Warga Negara Indonesia? 
Categories: Azerbaijan, Foreign, Visa, Visa Azerbaijan

Tagged: Azerbaijan, Visa, Visa Azerbaijan

78 Comments

+Read more

Mengintip Perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara

arievrahman

Posted on April 13, 2017

Could you please come to Sejong Hotel on your tour day to join the tour? Saya membaca surel tersebut sekali lagi, sambil bergerak menembus pagi di Myeongdong. Pada bagian bawah surel tersebut, tertulis bahwa kami harus berkumpul pukul 07.10, dengan tambahan keterangan “Please be on time! (we cannot be late for the assigned time in JSA.)”. Tangan kanan saya masih tetap men-scroll layar handphone, sementara tangan kiri, saya masukkan ke dalam saku jaket, di mana di dalamnya sudah terdapat tangan Neng. LOH KOK?

“Dingin, Mas.” Jelasnya. Saat itu pukul tujuh pagi di bulan Desember, di mana Korea sedang memulai musim dinginnya, dan wajar rasanya apabila kami, sebagai penduduk negara tropis, merasa kedinginan pada suhu di bawah 10 derajat Celsius itu. Saya mengenakan jaket down berwarna biru muda dengan sweater turtle neck berwarna biru gelap (bukan, bukan untuk menutupi bekas cupang) di dalamnya, sementara Neng mengenakan sweater milik saya (juga berwarna biru), dengan syal yang dililitkan ke lehernya (yang ini juga milik saya). Sekadar informasi, kami masih tetap mengenakan celana.

“Tenang, sebentar lagi sampai kok.” Kali ini saya membuka aplikasi Maps di handphone, sambil memastikan bahwa kami tidak salah jalan, sebelum akhirnya berhenti berjalan dan masuk ke dalam Sejong Hotel. Saya kembali melirik handphone dan melihat jadwal yang tertera.

Meeting Point Sejong Hotel, 1st floor in front of front desk

Tak lama menunggu, tidak sampai terlalu lama sendiri, datanglah seorang pria berperawakan kecil dan berambut klimis, dengan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya. Pria itu mengenakan setelan jas dengan kemeja putih di dalamnya, dan sebuah scarf  berwarna merah biru yang melilit lehernya, makin membuatnya terlihat lebih modis dari saya. Sungguh menarik bahwa di usianya yang –saya taksir– lebih dari lima puluh tahun, pria tersebut masih memperhatikan penampilan.

“Hi, are you here for the JSA Panmunjom Tour?” JSA adalah kepanjangan dari Joint Security Area, yaitu batas terluar Korea Selatan dan berbatasan langsung dengan Korea Utara, yang dijaga oleh tentara gabungan, yaitu Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Saya mengangguk, dan pria tersebut mengajak kami ke dalam bus yang sudah menanti di depan hotel. “I am Arif, from Indonesia.”

Korean Border JSA

“My name is SP Hong. You can call me Mr. Hong, or SP.” Pria tersebut memperkenalkan dirinya di dalam bus yang kini sudah terisi penuh oleh penumpang. Setelah kami, bus tersebut berhenti di beberapa tempat untuk menjemput tamu yang lain, sebelum bergerak menuju perbatasan. “SP, is a short for my Korean name, but you can translate it to Special Present, or Special One.”

Wah, jangan-jangan dia adalah Jose Mourinho yang menyamar?

Categories: Foreign, South Korea

Tagged: DMZ, JSA, Korean Border, North Korea

56 Comments

+Read more

Panduan Lengkap Mengurus Sendiri Visa Turis Australia

arievrahman

Posted on April 4, 2017

Salah satu tantangan ketika membeli tiket penerbangan di travel fair dengan prinsip ‘beli dan lupakan’ adalah kadang saya menjadi terlena dengan waktu keberangkatan. Hingga pada suatu hari saya terbangun tampan dan tiba-tiba teringat bahwa saya memiliki tiket penerbangan yang akan segera jatuh tempo, dan semua hal belum disiapkan, termasuk visa, celana dalam, dan berbagai keperluan lainnya.

Misalnya, ketika saya dan Neng membeli sepasang tiket ke Australia untuk keberangkatan tahun depannya, dan baru ingat belum mempersiapkan semuanya di tiga minggu sebelum keberangkatan. Padahal dari informasi yang saya dapatkan di sini, waktu pemrosesan visa kunjungan turis bisa mencapai 20 hari hingga 30 hari kerja, sementara kami hanya mempunyai waktu kurang dari itu.

Panik, adalah hal pertama yang saya lakukan, sementara melampiaskannya kepada Neng seperti adegan di film Fifty Shades Darker, adalah hal yang tidak saya lakukan. Praktis, dengan waktu yang mepet tersebut, kami tidak mungkin mengurus Visa Australia melalui agen perjalanan seperti yang pernah saya lakukan dulu, karena agen perjalanan menyarankan untuk menyiapkan waktu lebih dari 20 hari kerja.

Mau tidak mau, memang kami harus menyiapkan semuanya sendiri. Dengan tergesa, sambil mencari informasi online tentang mengurus Visa Australia ini, kami melakukan beberapa tahapan berikut untuk mengurus Visa Australia.

1. Membuat Jadwal Pertemuan di Australia Visa Application Centre (AVAC)

Tahapan pertama yang kami lakukan adalah membuat jadwal pertemuan dengan lembaga yang diberi kepercayaan olah pihak Kedutaan Besar Australia untuk mengurus permohonan visa, yaitu Australia Visa Application Centre (AVAC)  yang terletak di Kuningan City, Jakarta.

Cara membuat jadwalnya cukup mudah, hanya dengan cara melakukan registrasi pada tautan yang terdapat di halaman ini. Nantinya, tautan tersebut akan membawamu ke halaman pendaftaran apabila kamu adalah pengguna baru (new user), atau halaman log in, apabila kamu sudah pernah melakukan registrasi. Untuk mendaftar pun cukup mudah, hanya diminta mengisi beberapa keterangan yang berkaitan dengan diri sendiri dan data paspor yang kamu miliki.

SCHEDULE AN APPOINTMENT - Australian Visa

Setelah mendaftar/log in, kamu dapat mulai mengajukan jadwal dengan memilih ‘Schedule Appointment’ dan menunjuk tanggal dan jam yang tersedia pada kalender. Selain memilih jadwal, kamu juga dapat mengatur ulang jadwalnya, dan membatalkan jadwal yang sebelumnya pada halaman tersebut.

Categories: Australia, Foreign, Survival Kit, Visa, Visa Australia

Tagged: Australia Visa Application Centre, AVAC, Visa, Visa Australia

385 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!

Archives

Blog Stats

  • 5,485,568 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...