“Helm ini beratnya 32 Kilo.” Ucap pria tersebut dalam Bahasa Inggris sambil menunjuk sebuah helm mirip helm astronot yang terletak di depannya. Sekilas penampakan helm tersebut mengingatkan saya pada Moby di video clip “We’re all made of stars” ataupun pada sosok Neil Armstrong. “Dan helm ini akan kalian pakai nanti ketika menyelam di akuarium nanti.”

Glek! Saya menelan ludah. Bagaimana mungkin saya bisa kuat menopang helm seberat 32 kilogram bersama dosa-dosa saya sekaligus. Batin saya seakan ingin meronta sambil bernyanyi “IT’S BEYOND MEEEE, I CANNOT CARRY THE WEIGHT OF A HEAVY WORLD!”.

“Tapi tenang saja, di dalam air, beratnya akan berkurang menjadi kira-kira enam kilo saja.” Jelasnya lagi.

“HAHAHA CUMA ENAM KILO, PASTI BAHU YANG TERBENTUK DARI HASIL FITNESS SAYA MAMPU MENOPANGNYA HAHAHA!” Jerit batin saya jumawa, membanggakan hasil fitness yang terakhir saya lakukan lima tahun lalu.

DSCN1687

Helm Astronot seberat 32 Kg.

Sea Trek Adventure, merupakan satu wahana baru yang baru saja dirilis oleh Resorts World Sentosa, dan masuk ke dalam ruang lingkup Marine Life Park. Nantinya peserta akan menceburkan dirinya selama kurang lebih 20 menit ke dalam akuarium terbesar dunia, tepatnya di atas puncak gunung laut di dalam habitat Open Ocean yang memiliki kapasitas 18,2 juta liter air. Di dalam akuarium tersebut, peserta akan dapat mengagumi panorama menakjubkan dari kehidupan laut yang dinamis dan menyaksikan keajaiban petualangan laut di antara kurang lebih 50,000 ikan lebih dari 80 spesies yang berbeda, termasuk pari manta, kerapu goliath, hiu macan tutul, dan masih banyak lagi.

DSCN1688

Me in wetsuit

Sesuai instruksi, dan setelah mendengarkan paparan singkat, kami mulai memakai peralatan yang disediakan –setelah sebelumnya kami membilas diri di bawah shower yang disediakan, tanpa silet di tangan, minus air mata yang berderai, juga tanpa batin yang berteriak “AKU SUDAH GAK PERAWAN, MAMAAAA!”– yang meliputi pakaian selam, sepatu boots, hingga sarung tangan.

“Sudah siap? Nanti kalian akan masuk ke akuarium dengan didampingi Ashraff sang dive master bersama partnernya, juga Matt, yang akan mengambil foto-foto kalian.” Jelas Anggi, Executive Communications dari Resorts World Sentosa.

DSCN1690

We in wetsuit

Setelah siap, kami (saya, Afif Farhan dari DetikTravel, dan Pak Syamsul Hadi dari media cetak Kompas) pun berjalan ke arah akuarium yang terbesar di dunia tersebut. Di permukaan, nampak beberapa ikan pari berenang ke sana kemari dengan wajah yang seolah memanggil kami untuk segera memasuki akuarium tersebut.

“Nah, siapa yang mau pertama masuk?” Tanya Anggi, yang dibalas Afif dan Pak Syamsul dengan sepakat “Arif aja yang duluan.”.

Glek!

Saya melangkah perlahan ke arah tangga masuk akuarium. Semakin mendekati tangga berwarna kuning tersebut, perasaansaya semakin tak menantu. Antara senang akan menceburkan diri ke dalam akuarium terbesar dunia tersebut, atau antara takut … “Awas, lantainya licin” Seru Anggi dari atas … terpeleset.

Saya membalikkan diri, menghadap dinding akuarium, sambil perlahan menuruni tangga kuning. Setelah bahu saya rata dengan permukaan air, helm diangkat oleh Mike –yang bertugas menyiapkan perlengkapan– dan pelan-pelan dipasangkan ke kepala saya. Helm siap, berikutnya adalah tabung oksigen yang harus saya gendong. Hasil fitness lima tahun lalu pun mulai menunjukkan reaksinya, ketika saya merasa beban bahu saya terlampau berat bagai menopang dunia. Iya, dengan kata lain, sudah hilang pengaruh fitnessnya.

“EMAAAAKKK!”

DSCN1710

Ready to sink!

“POP!”

Suara yang memekakkan telinga terdengar ketika selang regulator oksigen dipasangkan ke dalam helm astronot saya. Sesaat seolah tak ada reaksi apa-apa. Namun ketika seluruh badan telah masuk ke dalam akuarium, saya merasakan rasa sakit pada telinga saya. “Pencet hidung atau menguap, ketika telinga sakit. Ekualisasi!” Saya teringat dengan tip yang diberikan kepada saya sebelum masuk akuarium tadi. Dan karena saya belum ngantuk dan sedang tak ada jerawat, saya pun memilih untuk memencet hidung.

Tangan kanan saya arahkan ke sela-sela helm dengan tangan kiri yang masih memegang sisi tangga. Ajaib, ternyata masih tersisa rongga yang bisa dimasuki tangan antara helm dan bahu, yang tidak bisa terisi oleh air. Ternyata kuncinya ada pada aliran oksigen dari tabung yang berpadu dengan sistem tekanan pada helm tersebut, yang secara apik mampu menghalangi masuknya air ke dalam helm. Dan setelah berhasil memencet hidung, saya pun melangkahkan kaki saya di dalam akuarium, sambil tetap bernapas selayaknya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Sekadar info, aliran oksigen di dalam helm ini, jauh lebih banyak dari yang bisa dihirup di daratan, sehingga kita tak perlu khawatir.

Langkah pertama, saya kehilangan keseimbangan. Fitness lima tahun lalu sudah benar-benar tak berguna.

Langkah kedua, helmnya miring dan air masuk sedikit ke dalam helm.  Saya mencoba untuk tidak panik.

“Jangan sampai miring helmnya, karena air akan masuk. Tetap menatap ke depan.” Demikian instruksi Ashraff yang saya ingat sebelum memasuki akuarium. Dan setelah berusaha beberapa detik –dengan tangan menempel di tembok akuarium–, akhirnya saya bisa membiasakan tubuh untuk berdiri tegap dengan beban yang menempel di pundak saya.

Cheese! Foto dulu ah.

IMG_6324

Astronot di bawah laut

IMG_6318

Para astronot di bawah laut

Ketika masih berada di atas, Ashraff sempat mengajarkan kami cara berkomunikasi. Intinya, kami akan berkomunikasi dengan menggunakan perintah tangan, mirip seperti yang dilakukan para penyelam. Kodenya antara lain:

  • Jempol ke atas, pertanda ingin naik.
  • Jempol ke bawah, pertanda ingin turun.
  • Tanda OK dengan jempol dan telunjuk membentuk huruf O, pertanda baik-baik saja.
  • Kedua tangan menghadap badan dan bergerak mundur, pertanda maju.
  • Kedua tangan memunggungi badan dan bergerak maju, pertanda berhenti.
  • Tangan melambai ke arah kamera, pertanda sudah tak kuat dan memanggil Pak Leo juga Harry Panca atau minta difoto.

Setelah kami semua masuk ke dalam akuarium, Ashraff pun meminta kami untuk maju perlahan sambil  berjalan mengikuti tembok yang telah disediakan dengan tangan tetap memegang tembok untuk menjaga keseimbangan.

IMG_6325

Berjalan sambil memegang pinggiran akuarium

IMG_6317

Foto lagi ah!

IMG_6344

Berdiri memandang lautan.

Berbeda dengan astronot yang memandang bintang-bintang di angkasa, di sini kami memandang ribuan ikan yang terdapat di dalam akuarium air laut tersebut. Terkadang mereka mendekati kami dan menempel-nempelkan badannya pada kami, namun sesuai dengan instuksi yang diberikan, kami dilarang memegang ikan-ikan tersebut. Lihat boleh, pegang jangan, cium apalagi.

Dan rasa kagum semakin hebat, ketika seekor pari manta raksasa yang diikuti puluhan ikan-ikan kecil melintas di hadapan kami. Sungguh sangat megah. Menariknya, di akuarium ini kamu bisa menemukan berbagai jenis ikan yang bahkan dibutuhkan waktu beberapa kali penyelaman di berbagai daerah untuk melihatnya secara langsung. Dan di sini, hanya dibutuhkan waktu sekali datang, kamu bisa melihat semuanya. All you can see.

IMG_6341

Fishes are comiiiiing!

IMG_6351

Neng, lempeng aja neng lewat depan abang?

IMG_6364

Sudah mau naik, Pak?

Sebuah tangan mencolek-colek tubuh saya, saya menoleh dan sedikit kecewa karena tidak mendapati putri duyung cantik yang mengenakan bikini kerang mendapat isyarat karena sesi Sea Trek akan segera berakhir. Sungguh, rasanya kurang lama berada di dalam akuarium tersebut. Saya pun terpaksa mengikuti isyarat tersebut, daripada memaksakan tetap di bawah dan kehabisan oksigen lalu mendapat CPR dari Ashraff, ewww!

Satu persatu astronot mulai menaiki tangga kuning kembali, dan di atas Mike telah menunggu untuk melepaskan helm dan peralatan lainnya. “POP!” Saya merasakan oksigen bebas mulai menjalar di sekujur tubuh, pertanda saya sudah berada di daratan kembali.

DSCN1722

Afif – Ashraff – Alhamdulillah

Memasuki ruang ganti, kami dikagetkan dengan amenities yang disediakan, semuanya berasal dari ESPA, yang merupakan tempat spa nomor satu di Singapura. Ada sabun, lotion, shampoo, dan lainnya. Tak ayal, hal tersebut membuat saya semakin semangat mandi dan menjamah tubuh sendiri di bawah shower. Tak hanya itu, setelah hati senang karena pengalaman Sea trek dan badan wangi karena amenities ESPA, kami masih mendapat bingkisan yang berisi sertifikat, lanyarddan handuk Adventure Cove Waterpark. Maka semakin giranglah saya, layaknya tante-tante di Mangga Besar.

DSCN1720

Me & Anggi

Pengalaman berjalan dan bernapas ketika menjelajahi alam bawah laut ini sangatlah menakjubkan, dan patut dicoba setidaknya sekali seumur hidup. Menyaksikan alam dunia yang penuh dengan ribuan hewan-hewan laut, berhadapan dengan beberapa hewan laut yang ramah, hingga berjalan diantara kehidupan laut bewarna-warni di kala pari manta yang megah berenang mengitari. Siapa yang tak mau merasakan semuanya? Dan pssttt.. tidak dibutuhkan kemampuan berenang maupun sertifikat SCUBA untuk melakukannya!

DSCN1723

Saya sih sudah, kamu kapan?

GENERAL ENQUIRIES

Resorts World Sentosa

8 Sentosa Gateway, Singapore 098269

Tel: (65) 6577 8888

Email: enquiries@rwsentosa.com

www.rwsentosa.com

[PS: Cerita lain mengenai SEA Trek, dapat dibaca pada blog kawan saya Marischka Prudence, di sini]

Advertisements