Perjalanan ke Barat Mengunjungi Tempat Suci

“Udah lewat Boyolali aja, lebih cepat daripada lewat Jogja.” Kata Mama (Mama saya, bukan Mama Dedeh. -red) malam itu. Karena ada ungkapan yang mengatakan bahwa seorang anak harus menurut kepada orang tuanya, saya pun mengangguk malu-malu.

Keesokan harinya,  kami (saya, Mama, dan @detadetaa) berangkat menuju Borobudur dari Solo via Boyolali sesuai jalur yang telah direncanakan sebelumnya. Setelah mengambil muatan berat (baca: @nilaayu) di salah satu sudut kota, kami pun melaju meninggalkan Boyolali. Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan kami di lereng Gunung Merapi. Karena desakan cacing-cacing dalam perut, kami mampir sebentar di counter Jadah (sejenis makanan khas yang menyerupai ketan, tetapi tidak haram walaupun ada ungkapan Haram Jadah) dan Tempe Bacem.

“Dimakan di sini, Mas?”

“Engga dibungkus aja, biar ga kehujanan.”

“Okesip.”

Jadah dan Tempe Bacem yang dibungkus itu akhirnya kami perawani (baca: dikeluarkan dari tempatnya lalu dinikmati) di Joglo gardu pandang Merapi – Selo, sambil menikmati sejuknya hawa pegunungan. Nyam!

Gadis penjual Jadah dan Tempe Bacem

Menikmati Jadah dengan lahap

Awan gelap menyelimuti Joglo gardu pandang Merapi – Selo

Sebelum jalan, pose dulu!

Gunung M(b)erapi?

Pukul 14:00, rombongan kami mulai memasuki komplek Candi Borobudur. Kami terkejut mendapat sambutan yang cukup meriah dari warga sekitar, pria dan wanita, tua dan muda, besar dan kecil (adalah contoh-contoh lawan kata) yang membuat pagar betis sepanjang jalan bahkan sampai menugaskan aparat setempat untuk berjaga. Detik selanjutnya, kami sadar bahwa mereka bukan menanti kami melainkan menanti iring-iringan rohani para biksu yang berjalan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Kasihan deh kami.

Selanjutnya adalah mencari tempat parkir. Karena tempat parkir utama Borobudur penuh, kami pun bertanya kepada polisi setempat.

“Good Afternoon Sir! Do you know where we can put this car?”

“Wah, kulo mboten ngertos Mas. Cobi lurus terus mriku.”

“…”

Karena tidak mendapat jawaban, kami pun nekat memasukkan mobil ke Manohara. Kasihan Manohara, pasti batinnya terguncang karena dimasuki mobilManohara ini adalah penginapan yang terletak di samping Borobudur dan memiliki akses langsung ke komplek utama candi bukan Manohara yang tubuhnya penuh luka akibat ulah Pangeran Kelantan. Di pintu gerbang Manohara, kami dihentikan oleh seorang satpam bertubuh besar (yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan darah dengan Manohara, apalagi hubungan asmara).

“Mau ke mana Mas?”

“Mauuu.. mauuu… mau parkir Pak.”

“Maaf Mas ga bisa parkir di sini.”

“Ah masa sih Paaak?” *selipin sepuluh ribu ke tangannya*

“Lurus aja terus belok kanan ya Mas.”

Manohara (yang tidak disakiti oleh Pangeran Kelantan)

Setelah mobil terparkir, kami menunggu iring-iringan para biksu tersebut. Diiringi hujan rintik-rintik dan suara jangkrik (juga pembaca tulisan ini) krik-krik-krik, kami pun telah siap dengan kamera masing-masing. Inilah beberapa hasil jepretan saya. *jepretin kolor*

Api Dharma Tri Suci Waisak

Pepaya, Mangga, Pisang, Jambu!

Para biksu dari berbagai negara

Para biksu naik kapal (-kapalan)


Candi Borobudur yang megah

Menurut buku pelajaran Sekolah Dasar (bagi yang pernah belajar di SD), Candi Borobudur adalah nama sebuah candi Budha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini dibangun oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan dinasti Syailendra. Candi yang megah ini adalah objek wisata yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan di Indonesia (tanamkan dalam benak kamu, bahwa wisatawan mancanegara tidak tahu jika Bali adalah bagian dari Indonesia) serta merupakan pusat peringatan Trisuci Waisak bagi umat Budha di seluruh dunia tiap tahunnya.

Teringat dengan penjelasan kala SD tersebut, kami pun semakin bersemangat memasuki gerbang Borobudur, namun namanya juga Orang Indonesia pasti tidak lupa untuk berfoto sejenak di tempat-tempat wisata. Dan inilah hasilnya, cheese!

Foto sebelum model siap

Foto setelah model siap

Borobudur dikenal dengan stupa utamanya yang terletak di puncak candi. Stupa ini merupakan stupa terbesar yang menjadi ciri khas Borobudur, seperti api pada Monas atau kolor pada Patung Pancoran. Bayangkan bila Borobudur tanpa stupa puncak, Monas tanpa api, atau Patung pancoran tanpa kolor, pasti aneh bukan? Bukan.

Untuk sampai ke puncak, kita harus menaiki anak tangga yang tak sedikit jumlah batunya. Dan memang pemandangan dan pengalaman yang diperoleh di puncak candi membayar lunas jerih payah kita menaiki tangga-tangga tersebut. Sangat disayangkan, jika kamu sudah sampai ke Borobudur tapi belum sampai ke puncaknya. Jangan mau kalah sama Mama saya yang saat itu baru berusia 51 25 tahun.

Ibadah di puncak Candi

Coba tebak mana saya, mana Mama saya.

Biksu pun ikut berfoto di Borobudur (abaikan penampakan di sebelah kiri)

Karena faktor U (Udahcapeknih), kami memutuskan turun dari candi untuk mengisi perut (lagi). Waktu itu kami berniat melakukan santap sore di restoran Manohara, namun karena penuh dan makanan belum siap lagi kami pun memutuskan untuk mencari makanan di luar komplek candi. Kali ini pilihannya jatuh ke restoran Rajasa (yang gabung dengan penginapan Rajasa); terletak 100 meter, belok kiri dari pintu keluar Manohara. Pilihan makanan di tempat ini (waktu itu) cuma sedikit karena pemiliknya (mengaku) belum sempat belanja ke pasar #truestory, oleh karena itu kami cuma memesan 4 porsi nasi goreng ayam. Nyam nyam nyam.


Malam Pelepasan 1.000 Lampion

Sambil menunggu malam, kami memutuskan untuk menghangatkan diri di sauna mobil. Dan satpam bertubuh besar (yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan darah dengan Manohara, apalagi hubungan asmara) tadi kembali mendatangi kami.

“Mas!” *cengar-cengir*

“Ya, Pak?”

“Anu Mas, kalo cuma sepuluh ribu saya kan jadi ga bisa kasih anak buah saya.” *kedap-kedip*

“Umm, bentar ya Pak.”

“Iya, Mas.” *senyam-senyum*

*minta duit ke Mama*

“Ini Pak.”

“Makasih, Mas.” *ketawa-ketiwi*

Selepas gelap, kami pun kembali ke Borobudur karena kabarnya akan diadakan acara pelepasan 1.000 lampion mulai pukul 21.00. Di waktu malam, hanya pintu masuk utama Candi Borobudur yang dibuka, sehingga kami harus berjalan memutar dari arah Manohara. Di sepanjang jalan yang kami lalui, banyak terdapat stand-stand dengan berbagai aktivitas keagamaan seperti pengobatan, pencerahan, sampai dialog dengan pemuka agama.

Salah satu stand keagamaan

Pengobatan Gratis!

Memasuki halaman Candi Borobudur, telah berjejer banyak fotografer dari dua negara yaitu (1) Indonesia, dan (2) lainnya yang sedang bersiap untuk mengabadikan malam Waisak di Borobudur. Awan mendung masih menyelimuti Borobudur, juga di hati-hati yang terluka. Acara malam itu dimulai dengan doa bersama umat Buddha yang diikuti oleh seluruh umat Budha #yaiyalah seluruh dunia. Yang menarik dari doa bersama ini adalah, setiap peserta membacakan doanya dengan bahasa negara masing-masing diantaranya adalah Indonesia, Thailand, dan Kamboja. Saya sama sekali tidak menemukan peserta yang membacakan doanya dalam Bahasa Arab di sini. 

Salah satu ucapan/doa yang saya (kalau saya tak salah) dengar di sini adalah: “Tolong jangan hentikan hujannya, tapi pindahkan sementara ke tempat lain.”

Acara selanjutnya adalah Pradaksina, yaitu ritual mengelilingi Candi Borobudur sebanyak 3x yang dilakukan oleh seluruh penganut Budha yang juga boleh dilanjutkan oleh semua pengunjung yang datang. Ritual ini diiringi dengan lagu rohani agama Budha yang sangat menggetarkan hati. Waw!

Kemana-mana, tetap ketemunya anak Twitter!

Pradaksina – ritual mengelilingi Borobudur 3 putaran

Waktu telah menunjukkan pukul 22:00 tapi belum ada tanda-tanda ada lampion yang dilepaskan, sebagai warga negara Indonesia saya merasa maklum. If you know what I mean. Sesaat sebelum acara pelepasan lampion, awan mendung pun menghilang dan diganti dengan bulan purnama yang indah. Sayang bulan tak bisa ngomong. Menurut blog sebelah, makna dari upacara pelepasan lampion yang menyala di malam hari tersebut adalah, agar harapan, doa dan cita-cita yang kita harapkan dapat terkabul.

Dan, pemandangan selanjutnya membuat saya (dan bulan) benar-benar tak bisa ngomong. 1.000 lampion (kurang lebih 1.000, waktu itu saya tidak sempat menghitungnya) dilepaskan ke angkasa, benar-benar menakjubkan. Foto-foto pun tak dapat melukiskan keindahan malam itu, apalagi keindahan wajah kamu. #tssaaahhhh

Ketika beberapa orang bule mengucapkan “Wow! This is amazing!”, saya yang notabene orang Indonesia asli hanya bisa bergumam dalam hati “ANJRIIIIIITTTTTTTTTTTTT!!!!”

Numpang megang lampion

It’s a plane, it’s a firefly, no it’s a lantern.


You would not believe your eyes,

when ten million fireflies lit up the world as I fell asleep.

(Owl City – Fireflies)

Advertisements