backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Pre Wed (diperankan oleh model)

Kawah Putih dan Si Gembel yang Tak Putih Lagi

arievrahman

Posted on September 4, 2012

Wajah Ojie pucat, pandangannya berkunang-kunang, dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Mungkin kalau ini adalah adegan pada sinetron “Hidayah”, ratusan kelabang akan keluar dari mulutnya. Sudah tiga puluh menit kita di sini tanpa suara Ojie menghirup aroma belerang yang sangat menyengat tersebut, dan kini tubuhnya mulai kehilangan kesadaran. Faktor kelelahan lah yang membuatnya tidak dapat menikmati dengan maksimal keindahan Kawah Putih Ciwidey ini.

Kawah Putih Ciwidey

Kawah Putih Ciwidey terletak di kawasan Bandung Selatan atau sekitar lima jam perjalanan dari Kuala Lumpur dengan menggunakan pesawat Kuala Lumpur – Bandung dilanjutkan dengan mobil dari Bandung ke Ciwidey.  Pemandangan menarik akan kamu dapatkan sepanjang perjalanan menuju Ciwidey, mulai dari langit biru cerah (kalau tidak hujan. -red) Kuala Lumpur – Bandung hingga kebun dan hutan hijau di kiri kanan jalan Bandung – Ciwidey. Karena merupakan bekas letusan Gunung Patuha yang terletak di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, udara di sini dapat dibilang cukup sejuk, lebih dingin daripada Bandung, apalagi Kuala Lumpur.

Menurut legenda, dahulu di sini adalah tempat angker yang bahkan warga setempat maupun Harry Pantja tak berani mendekat. Mirip dengan calon gebetan yang berbeda kasta, binatang-binatang tak ada yang berani mendekatinya dan bahkan burung-burung yang melewati daerah ini akan mati. (Seram bukan? Kalau belum seram, coba baca cerita ini sambil menonton Sadako 3D) Hingga pada suatu hari, datanglah seorang Belanda pemberani yang bernama Dr. Franz WJ ke daerah itu. “Bongkar kebiasaan lama! Orang Indonesia tak boleh percaya tahayul!” kira-kira demikianlah yang dikatakannya, dan kemudian terbukti bahwa daerah angker tersebut adalah sebuah kawah belerang yang sangat indah, yang sekarang dikenal dengan nama Kawah Putih Ciwidey. Secara ilmiah dikatakan bahwa binatang-binatang yang tak berani mendekat maupun burung-burung yang mati adalah akibat kuatnya aroma belerang yang dihasilkan kawah tersebut.

Sebelum masuk, baca dahulu aturan pakai!

Sejak dahulu, Orang Belanda dikenal pemberani. Karena kalau tak pemberani mana mungkin bisa menjajah Indonesia. Namun berdasarkan catatan saya, ada satu orang Belanda yang penakut; bernama Dennis Bergkamp.

—

Sejak terakhir mengunjungi Kawah Putih pada tahun 2009, ada beberapa perubahan yang saya perhatikan di sini. Diantaranya adalah:

Categories: Domestic, Jawa Barat

Tagged: Backpacker Gembel, Ciwidey, Hotel Abang, Jawa Barat, Kawah Putih, Travel Troopers

45 Comments

+Read more

1. 2.. 3... SMILE!

Berbagi Kasih di Panti Asuhan Ulul Albab

arievrahman

Posted on August 26, 2012

[PERINGATAN UNTUK PEMBACA: INI POSTINGAN SERIUS]

 


“Panti Asuhan Ulul Albab berdiri pada Tahun 2003 dengan modal awal hanya sekitar lima juta rupiah. Kini setelah renovasi dan sertifikasi tanah wakaf yang mencapai 280 juta rupiah, Alhamdulillah kami bisa menampung kurang lebih 90 anak kurang mampu.”

 

Itulah keterangan singkat dari Ustaz Ade, mengenai sejarah panti Asuhan Ulul Albab yang terletak di daerah Bojong Koneng, Bandung ini. Ustaz Ade yang juga merupakan saudara jauh dari pelawak Ade Juwita (jauh banget, sama-sama keturunan Nabi Adam. -red) ini menerangkan bahwa untuk mendapatkan dana pembangunan dan biaya operasional panti asuhan ini tidaklah instan seperti Indomie atau pacaran ABG, dan harus melalui berbagai perjuangan. Mulai dari biaya sendiri, meminta donatur, hingga bekerja sama dengan pihak percetakan melalui pembuatan buletin agama yang nantinya akan disebarkan ke masjid-masjid di kawasan Bandung.

Panti Asuhan Ulul Albab

Salah satu peristiwa “ajaib” dalam proses pengumpulan dana ini adalah ketika panti asuhan telah memesan kayu untuk kepentingan renovasi namun hingga H-1 sebelum batas waktu pembayaran yang ditentukan, dana yang ada belum mencukupi padahal berbagai usaha telah dilakukan. Hingga di malam terakhir untuk mencurahkan rasa rindu di dada, datanglah seorang misterius yang memberikan bantuan berupa uang tunai yang jumlahnya PAS untuk melunasi tagihan atas kayu-kayu tersebut. Ow, ow siapa dia? Wallahualam Bissawab.

Selama sembilan tahun berdiri, Panti Asuhan Ulul Albab yang memiliki enam orang pengurus inti ini telah menampung kurang lebih 90 anak dengan tingkat pendidikan beragam mulai dari Sekolah Dasar hingga ada beberapa yang memasuki masa kuliah dan masa pacaran. Latar belakang anak-anak kurang mampu inijuga beragam, mulai dari anak yatim piatu yang ditinggal orang tuanya, dititipkan karena orang tua yang tidak mampu, hingga ada yang memang “dibuang” oleh keluarganya. Di sini, mereka bisa mendapatkan kehangatan dari rumah yang mereka impikan.

Ustaz Ade, kembaran (jauh banget) Fauzi Baadila.

Categories: Domestic, Events, Jawa Barat

Tagged: Jawa Barat, Travel Troopers, Traveling for Charity, Ulul Albab

17 Comments

+Read more

Kaki Patah Hati Melangkah

Trave(Love)ing: Cara Galau Paling Elegan

arievrahman

Posted on August 22, 2012


I put my clothes in the bag, it’s time for me to pack.

No, this time I wont beg, for you to come back.

Itulah sepenggal rhyme pembuka cerita di Trave(Love)ing: Hati Patah Kaki Melangkah. Manis bukan? Tapi salah besar kalau kamu merasa rhyme tersebut ditulis oleh seorang wanita tulen. Dialah Dendi –seorang pria, yang masih diragukan orientasinya– yang memutuskan untuk melakukan perjalanan melintasi tiga negara dan lima kota untuk melupakan sakit hatinya, sekaligus mencari cinta yang baru.

Kaki Patah Hati Melangkah

Secara umum, Trave(Love)ing bercerita tentang empat orang anak manusia (dua berekor depan, dan dua tak berekor. -red) yang melakukan perjalanan (traveling) karena alasan cinta (love) atau lebih tepatnya, karena … ehem … p-a-t-a-h h-a-t-i. Ada Roy yang melakukan perjalanan ke Singapura dan Malaysia (termasuk menonton pertandingan tim papan tengah Liga Inggris), Mia yang jalan-jalan ke Dubai (karena gratis), Grahita yang berlibur di Bali (yang membuatnya semakin gelap), juga Dendi yang melintasi Singapura, Malaysia, sampai ke Thailand (demi mengejar seorang supir Tuk Tuk wanita yang baru dikenalnya). Semuanya patah hati, namun tak patah semangat untuk melakukan traveling.

Lewat permainan #rhyme di Twitter, @saputraroy, @myaharyono, @gelaph, @dendiriandi bertemu dan memutuskan untuk berkolaborasi dalam sebuah karya yang bertajuk Trave(Love)ing: Hati Patah Kaki Melangkah. Buku ini menarik, karena mengemas dan menggabungkan cerita dari empat orang penulisnya dalam sebuah kesatuan novel; bukan terpisah cerpen per cerpen, hal ini tentunya akan membuat pembaca semakin penasaran untuk membalik halaman demi halaman demi menemukan kejutan apakah yang menanti di akhir buku. Karena perkenalan yang bermula dari rhyme, maka tiap permulaan bab pada buku ini juga diwarnai dari rhyme khas masing-masing penulisnya (Abaikan beberapa rhyme Roy yang agak garing dan maksa #tinjulengan). Sekadar informasi, rhyme di sini berarti pantun yang kebanyakan berima plat nomor Jogja – plat nomor Jogja (AB AB) dan mirip pantun-pantun yang digunakan pada acara lenong, cuma bedanya adalah rhyme menggunakan Bahasa Inggris.

Categories: Books, Miscellaneous, Others

Tagged: #Traveloveing, Book

12 Comments

+Read more

Selamat Lebaran!

arievrahman

Posted on August 19, 2012

Tidak terasa sebulan sudah kita berpuasa, dan dua bulan lebih saya menjomblo.

Kini hari kemenangan pun telah tiba, maka dengan ini izinkan saya mengucapkan:

“Selamat hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah, Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.”

“Ono bebek disosor meri, salahku dewek mohon disori.”

Salam,

@arievrahman, yang belum berkeluarga dan baru saja patah hati.

“Lebaran adalah saat-saat di mana kita bisa berlibur, sekaligus berkumpul bersama keluarga. Nikmatilah!”


This photo was taken by Ryan Rahardi, using his Nikon D-7000 and fish eye lens.

Categories: Events, Macau, Miscellaneous, Others

Tagged: greeting, lebaran, Macau

0 Comments

Kuor Polan and his Tu Tuk

Menjelajah Kamboja dengan Tuk Tuk (2)

arievrahman

Posted on August 18, 2012

Read previous story on: Menjelajah Kamboja dengan Tuk Tuk (1) – Pech Vanny, Calon Pengajar Bahasa Inggris

Kuor Polan, Perjumpaan dengan Kembaran Judika

“Hello.” Pria itu menjawab telepon dengan nada sedikit kaget. Oke, tidak begitu kaget karena dia tidak menggunakan kata-kata seruan seperti “Aw!”, “OMG!”, atau “EH KON…CI!”. “Yes, this is Lan’s speaking.”

“Lan, my friend Arif will go to Phnom Penh tonight using midnight bus.” Vanny mencoba menjelaskan keadaan kami, “Maybe he will arrive at 5 A.M tomorrow morning.” keadaan kami sebenarnya biasa-biasa saja, namun kadang masih sering galau, “I heard he have appointment with you and will use your Tuk Tuk service at Phnom Penh.”

“Okay, I understand about the situation.” Lan menjawab dengan tenang, “Tell him that I will pick him up at bus station at 5 A.M tomorrow, take care and TiTi DJ ya kamoh.” Klik.

(Catatan Penulis: Percakapan di atas telah diterjemahkan dari Bahasa Kamboja, yang kira-kira begitulah artinya)

—

Bus milik Paramount Angkor Express Company memasuki Phnom Penh pelan-pelan (karena takut sakit lalu teriak), sekitar pukul lima pagi keesokan harinya. Bus di Kamboja pada umumnya, terdiri dari dua tingkat di mana pada tingkat bawah diisi supir, awak bus, dan barang-barang penumpang, sementara di tingkat atas diisi penumpang dan ‘barangnya’ penumpang. Pengemudi Tuk Tuk di Kamboja pada umumnya, menunggu penumpang turun dari bus, lalu langsung mengerubutinya. Mirip bagi-bagi sembako gratis dan tukang becak di Indonesia, pada umumnya.

Kuor Polan and his Tuk Tuk

Pandangan kami langsung tertuju pada sosok yang duduk cool di atas Tuk Tuknya, seorang pria gagah dengan kacamata hitam dan syal kotak-kotak terlilit di lehernya. Dengan penuh imajinasi, terjadilah percakapan di bawah ini.

“Mas, Ian Kasela ya?” Saya mencoba menyapanya.

“Bukan.” Pria itu melepas kacamata hitamnya.

“Err, pasti Giring Nidji yaaa.” Saya menjentikkan kedua telunjuk tangan dengan pose sok imut.

“Bukaaaan!” Dia lalu melepas syal kotak-kotaknya.

“Nah, kalau gini baru gue tahu. Judika ya?”

“BUKAANN!! Щ(ºДºщ)” Pria itu memegang Tuk Tuk-nya kuat-kuat.

“Iya Bang, maaf Bang. Saya tahu kok kalau Abang itu Kuor Polan.” Saya langsung meminta maaf sebelum seonggok Tuk Tuk melayang ke wajah saya.

“Nah gitu dong. Tapi FYI aja nih, sebenarnya saya ini Judika yang menyamar.”

“Tapi Bang … kok ga mirip ya? Eaaa!” Saya kabur perlahan sebelum benar-benar dilempar Tuk Tuk.

—

0.000000 0.000000
Categories: Cambodia, Foreign, Transportation

Tagged: Cambodia, Phnom Penh, Tuk Tuk

28 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Nasib Sial di Perbatasan Azerbaijan - Georgia
  • Kejutan Demi Kejutan di Georgia
  • 10 Pilihan Tempat Makan Siang di Benhil
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,877 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...