backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Mau Tahu Seperti Apa Kereta Api di India?

arievrahman

Posted on February 22, 2013

Setelah mengetahui cara membeli tiket kereta api di India dari sini, apakah kalian juga penasaran tentang bagaimana rupa kereta api di India? Please, bilang penasaran please. 

Nah karena kalian semua penasaran, maka saya akan memberikan laporan tentang rupa kereta api di India.

[CATATAN: LAPORAN INI DIBUAT BERDASARKAN PENGALAMAN PRIBADI PENULIS, WALAUPUN BELUM MENJADI INTERNATIONAL BEST SELLER]

Here we go!

Setelah sukses mendapatkan tiket kereta api di India, maka yang harus kamu lakukan adalah:

(1) Pergi ke India

(2) Menuju stasiun yang dituju

(3) Naik kereta api

(4) Tut.. Tut.. Tut..

Sepertinya terlihat simple, tapi apakah praktiknya juga se-simple itu? Jawabannya bisa Ya dan Tidak. Ya, jika kamu sudah membaca artikel ini hingga usai. Dan Tidak, jika membaca saja sulit.

Print out tiket kereta api hasil pemesanan online, adalah tiket yang valid  untuk digunakan. Jangan percaya jika ada pihak yang mengatakan bahwa tiket yang telah dipesan tersebut tidak berlaku, dan harus ditukar dengan tiket asli. Peristiwa ini biasanya akan berujung scam dengan kamu digelandang ke sebuah tempat sepi, bertuliskan XXX Tour & Travel, diintimidasi, lalu diminta menggunakan jasa mereka untuk pergi ke suatu tempat.

[Tip: Cuekin saja kalau ada orang yang berkata bahwa tiket tersebut tidak valid, anggap omongannya adalah janji manis penjaja MLM.]

Namun, apakah cukup dengan print out itu saja bisa bebas naik ke kereta? Tentu tidak.

DSCN1630

Carilah nama kamu di sini!

Tiket hasil pemesanan online tersebut tidak mencantumkan nama gerbong dan nomor kursi, maka kamu harus mencari di mana letak tempat duduk/tidur kamu pada daftar yang ditempel di papan pengumuman. Perhatikan gambar di atas. Di sana ada seorang warga India yang tertidur pulas di bawah papan pengumuman. Setelah mendapatkan kepastian, segera naik ke gerbong seperti yang ditunjukkan dalam daftar tersebut.

[Tip: Daftar tersebut biasanya disusun urut berdasarkan kelas kereta yang dipesan, nah, selamat mencari!]

Selama di India, saya berkesempatan menggunakan kereta api antar kota dengan mencoba beberapa kelas yang ada, yaitu (Economy) Sleeper Class, AC 3 Tier, dan AC 2 Tier — sisanya, yaitu 2nd class seater dan 1st Class saya tidak sempat menggunakannya — dan pada laporan ini saya akan mengulas tentang tiga kelas kereta yang pernah saya tiduri.

[Catatan: Dalam satu rangkaian kereta di India biasanya terdiri dari atas beberapa kelas gerbong]

A. (Economy) Sleeper Class

Harga*: 200 Rupee

Deskripsi Umum: Kelas kereta ini adalah yang paling banyak diminati oleh para penduduk India juga para traveler yang bepergian dengan kocek terbatas. Melihat harganya yang murah, maka fasilitas yang disediakan di sini pun tak banyak. Dalam satu kompartemen terbagi atas 3 berth/tempat tidur yang saling berhadap-hadapan, tanpa tirai. Sebagai pendingin ruangan, kelas ini menggunakan kipas angin berdebu yang terpasang pada langit-langitnya. Ruangan kereta ini relatif kotor dan bau. Di kelas ini, banyak ditemukan penjual yang lalu lalang, mirip dengan kereta ekonomi/bisnis di Indonesia!

Tipe Penumpang yang Ditemui:

Orang-orang yang dijumpai di sini, biasanya adalah orang India golongan menengah ke bawah, dan bukan merupakan pekerja kantoran. Ketika saya berada di sini, mereka memperhatikan saya dari ujung kupluk sampai ujung sepatu dengan pandangan yang tajam. Hanya sedikit pengguna kereta ini yang bisa berbahasa Inggris, dan jika kamu tak bisa berbahasa India, maka kamu akan mendengar mereka seolah-olah sedang ngomongin kamu, atau sedang ngomong jorok.

Sleeper Class (1)

Perhatikan bagian atas gambar (Model: Rozy) Lalu di manakah saya berada?

Sleeper Class (2)

Yak, saya terjebak di sudut, di belakang kaki penumpang lain yang terjulur manja.

Merk Hand Phone yang Digunakan Penumpang**: Nokia dan Kaboom!

Categories: India, Transportation

Tagged: AC Tier 2, AC Tier 3, India, Sleeper, Train

81 Comments

+Read more

Kisah Perburuan Geisha di Gion

arievrahman

Posted on February 17, 2013

Jalanan malam yang basah menyambut kedatangan kami di Gion, sebuah distrik di Kyoto yang terkenal dengan Geisha-nya. Hujan yang mengguyur Kyoto seharian, membuat kami pesimis bisa menjumpai Geisha malam hari itu. Hingga sebuah suara langkah kaki terdengar keluar dari gang kecil, bergerak mendekati kami.

“Kuntilanaaaak!”

“Bukan, walaupun mukanya putih dan make-up-nya tebal tapi kakinya napak kok.”

“Syahriniiiiii!!”

“Bukan, walaupun berjambul tinggi tapi dia gak bawa Lady Bag Dior.”

Wanita dengan kimono cantik yang dikenakannya berjalan dengan cepat, di bawah payung tradisional khas Jepang yang digunakannya untuk berlindung di bawah rintik gerimis. Aura dari wanita tersebut membuat jantung kami berhenti selama beberapa saat, sebelum memompa darah kembali. Dan karena gerakannya yang cepat, kami tak memiliki kesempatan untuk mengambil gambarnya, ataupun berpikiran bahwa wanita itu merupakan paduan sempurna keanggunan khas Jepang dan betis Carl Lewis.

“GEISSHAAAAAA!!!”

…

……

Geisha, merupakan wanita penghibur khas Jepang —in a good way, commonly— yang dibekali dengan berbagai keahlian seperti menyanyi, memainkan alat musik, menari, menyajikan teh khas Jepang, hingga memerankan film Memoirs of a Geisha. Sejak abad ke-18, Geisha telah dikenal sebagai penghibur –walaupun, profesi Geisha pada awalnya diperankan oleh lelaki– untuk melayani para klien dengan keahlian mereka (menari, menyanyi, memainkan alat musik), yang lebih dikedepankan daripada –anggapan kebanyakan orang– sex service.

Untuk menjadi Geisha –yang merupakan profesi paling elit dari penghibur di Jepang, dan menghasilkan penghasilan yang tinggi– dibutuhkan pelatihan yang tak sebentar. Pelatihan menjadi Geisha ini, dimulai dari usia muda (biasanya dimulai, saat perempuan berusia di bawah sepuluh tahun) dan membutuhkan biaya yang tak sedikit. Para wanita muda –yang disebut juga dengan Maiko–, akan di-training di sebuah rumah pelatihan yang bernama Okiya, yang menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan Maiko, seperti makanan, tempat tinggal, pengetahuan, dan keahlian untuk melayani klien nantinya. Dan karena biaya pelatihan yang mahal, maka para Maiko ini akan memiliki kasbon (baca: utang) di Okiya, yang akan dibayarkan dengan cara dipotong dari penghasilan yang diperolehnya kelak.

Seorang Maiko, mengawali pelatihannya dengan minarai, atau learning by doing, atau belajar dengan melakukan. Saat melakukan minarai, seorang Maiko dipandu oleh seorang Geisha senior, yang akan memberi contoh bagaimana seorang Geisha bekerja (di luar kamar). Maiko ini, kelak akan diangkat menjadi Geisha saat telah akil baligh dan berumur antara 20 – 22 tahun.

……

…

DSCN8283

Malam hari di Gion

Perburuan geisha kami terus berlanjut dengan menyusuri jalanan Hanami Koji yang penuh dengan restoran dan ochaya (tempat minum teh khas Jepang) yang malam hari itu tak begitu ramai, mungkin karena hujan, atau tanggal tua. Di sinilah terdapat restoran, kafe, dan ochaya yang paling eksklusif dan mahal seantero Jepang, karena menyediakan jasa pelayanan Geisha dan Maiko di dalamnya.

Sebagai traveler yang berkocek pas-pasan, kami pun memutuskan untuk tidak masuk ke situ, dan hanya menunggu Burespang (Bubaran Restoran Jepang, kata Moammar Emka. -red) keluar. Namun, yang ditunggu pun tak kunjung datang, dan kami pun memutuskan berbalik arah, menuju Shijo Street.

Tepat di ujung jalanan Shijo Street, kami mendengar suara wanita yang sedang mengobrol dalam bahasa Jepang dengan beberapa lelaki. Kami mendekat, dan mendapati tiga orang Jepang berjas, sedang berbicara dengan seorang Geisha.

DEG!

Kamera telah siap di tangan, namun  keberanian saya mengambil gambar runtuh seketika, entah karena merasa tak sopan, atau takut di-kepruk payung, juga mengatasi kemungkinan bahwa pria-pria tersebut adalah sekelompok Yakuza yang menyembunyikan tatonya di balik jas.

Kesempatan pun lewat lagi, dan kami memutuskan menyeberang jalan, menuju Gion Shijo.

0.000000 0.000000
Categories: Foreign, Japan

Tagged: Geisha, Gion, Jepang, Kyoto, Maiko

78 Comments

+Read more

Pesona Sepiring Mie Aceh

arievrahman

Posted on February 11, 2013

“Pesan apa, Pak?” Sang pelayan melempar tanya dengan wajah malu-malu.

“Mie Aceh satu, Mas.” Jawab saya, tak kalah memalukan. “Yang spesial, dengan daging dan udang.”

“Rebus, atau Goreng, Pak?”

Saya sempat berpikir sejenak, sebelum memutuskan bahwa saya memesan “Tumis, Mas.”

Tak perlu menunggu lama, pesanan saya pun datang. Sepiring mie tumis khas Aceh, dengan kuah kaldu beraroma rempah yang kental kecoklatan, lengkap dengan daging, udang, timun, dan emping yang tersaji manis. Jika ingin lebih nikmat, tambahkan perasan jeruk nipis serta potongan bawang merah dan cabe rawit yang disajikan terpisah.

Nyam!

IMG-20130211-02167

Mie Tumis Aceh yang Mempesona

Di rumah makan yang terletak di bilangan Bendungan Hilir Jakarta Pusat ini, Mie Aceh — bersama dengan sambal ganja dan ayam tangkap — memang menjadi primadonanya. Hanya dengan dua puluh dua ribu rupiah, kita bisa menikmati kenikmatan sepiring mie aceh spesial ini. Dan saking lezatnya, konon para pejabat Aceh, mulai dari Gubernur hingga Bupati yang kebetulan sedang bertugas di Jakarta sering mampir ke tempat ini.

Lantas, apakah pesona yang ditawarkan sepiring Mie Aceh ini seindah dengan daerah asalnya, Aceh?

Adis, Seorang backpacker asal Bandung, mengatakan bahwa tak banyak tempat yang bisa bikin dia menganga sampai liur menetes bergalon-galon, dan Sabang — yang terletak di wilayah Aceh — adalah salah satunya.

_MG_7422

Adis di Sabang

Sabang, telah membuat Adis jatuh cinta dengan lautnya yang berwarna hijau toska, terumbu karang yang cantik, dan ikan yang berwarna-warni. Saking terpesonanya dengan batu karang yang berwarna-warni, dia memuji Tuhan yang telah dengan telaten memberi warna yang berbeda pada setiap inci bebatuan itu.

Keren!

(Catatan: Abaikan perkataan Adis yang mengaku telah jatuh cinta dengan ikan di laut)

 

Categories: Culinary, Events, Miscellaneous

Tagged: Aceh, Mie Aceh. I Love Aceh, Sabang

21 Comments

+Read more

Komodo Bukanlah Sekadar Mokodo

arievrahman

Posted on February 5, 2013

 

Tiga ekor komodo betina berukuran masing-masing sepanjang 1,5 meter sedang berebut babi hutan yang telah tercabik-cabik dengan ganas, ketika kami melintasi semak belukar tersebut. Saya tak tahu dari mana sang ranger mengetahui bahwa komodo-komodo tersebut adalah komodo betina, tanpa meraba kemaluannya. Dalam jarak kurang dari dua meter dari lokasi pembantaian tersebut, suasana semakin mencekam, dan perebutan pun semakin seru hingga tanpa sadar komodo-komodo tersebut sudah semakin dekat dengan saya.

….

Welcome to Komodo National Park!

Loh Buaya

Selamat Datang di Taman Nasional Komodo!

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Labuan Bajo, tibalah kami pada sebuah dermaga kecil di Loh Buaya — dalam bahasa setempat, Loh berarti teluk dan Buaya berarti komodo, bukan Loh Buaya Gueh Orang, red. — yang merupakan pintu masuk Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca (salah satu pulau yang merupakan habitat alami Komodo di Kepulauan Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia).

Setelah memasuki pulau lebih dalam, saya terkejut ketika mendapati ada sekitar lima ekor komodo sedang leyeh-leyeh di bagian bawah sebuah rumah panggung dan mereka tampak tidak berbahaya, walaupun mereka adalah predator.

Dapur

Para komodo yang mengendus aroma masakan

“Rumah itu,” Ranger kami menjelaskan “Adalah dapur umum, yang digunakan untuk memasak makanan kebutuhan penduduk sekitar. Dan komodo mendekati rumah tersebut karena adanya bau masakan yang tercium, karena konon komodo dapat mencium bau darah sejauh lima kilometer jauhnya.”

Lima kilometer? Tenang, belum termasuk LDR kok.

Dan benar saja, tak lama kemudian saya mendapati seekor komodo merayap perlahan, memasuki toilet wanita dikarenakan ada yang membuang pembalut bekas di sana.

Buanglah pembalut bekas pada tempatnya.

“Nanti yang sedang halangan, jangan jauh-jauh dari saya.” Ranger kami menjelaskan, dan saya bersyukur karena sudah memasuki masa menopause. Sejak lahir.

Categories: Domestic, Nusa Tenggara Timur

Tagged: Flores, Komodo, Nusa Tenggara Timur, Pulau Komodo, Pulau Rinca

28 Comments

+Read more

Visa India? Sehari Langsung Jadi!

arievrahman

Posted on January 13, 2013

Seorang pria Jepang necis maju ke loket setelah nomor antriannya dipanggil, kemudian dia menyerahkan dokumen yang dibawanya ke wanita India di balik loket yang nampak anggun dengan kain sari yang dikenakannya. Wanita itu meneliti dokumennya sejenak, lalu mengembalikannya lagi. Mukanya yang terlihat manis, sekarang berubah menjadi jutek.

“Where’s your Visa Application Form?”

“Hah, sorry?”

“Yes, your application form, Have you filled it?”

“No, I don’t know. Can I continue without it?”

“No, you have to fill it online first, then you can come back here later.”

“But, I …”

“Next! Number 24!”

Saya menatap nomor yang saya jepitkan pada map dokumen yang saya bawa. Nomor 24. Glek! Saya menelan ludah, karena haus. Dengan jantung berdebar, saya melangkah maju mendekati loket si wanita India yang sempat terlihat anggun tadi.

…

……

Pukul 09:10

Beberapa pria legam, mengantre untuk memasuki pintu kecil yang terbuat dari jeruji besi berwarna hitam. Dari kelebatan kumis dan warna kulitnya, saya mengenali bahwa mereka adalah penduduk India. Sejenak saya membayangkan bahwa saya berada pada sebuah bioskop tua di Mumbai, mengantre premiere pemutaran film terbaru Shah Rukh Khan, namun di detik berikutnya saya sadar, bahwa saya sedang berada pada Kedutaan India di Jl. HR Rasuna Said Kav. S-1 Kuningan Jakarta Selatan, mengantre masuk.

[Catatan: Untuk permohonan pendaftaran visa, dilayani pukul 09:00-12:00]

Saya mengempit (di ketiak, bukan di selangkangan. -red) map berisikan dokumen yang telah saya siapkan hari sebelumnya, dan setelah jeruji hitam terbuka, saya pun masuk, mengisi buku kedatangan, menitipkan tas, jaket, dan handphone (karena yang boleh dibawa masuk hanya dokumen dan alat tulis), sebelum mendapatkan nomor antrian untuk mengajukan permohonan visa India.

“Langsung masuk aja Mas, ke ruangan itu.” Petugas keamanan wanita yang telah selesai memeriksa tubuh saya berkata “Nanti nunggu nomornya dipanggil ya.”

…

“Nam-ber tuwen-ti-for!”

Saya mengenali logat yang diucapkan wanita itu, Indian English, dan pastilah nomor 24 yang dimaksud. Dengan jantung berdebar, saya melangkah maju mendekati loket si wanita India yang sempat terlihat anggun tadi.

“Hello, good morning.”

Tak ada jawaban. Wanita itu mengarahkan tangannya ke saya, membalik telapaknya mirip Othello, dari hitam menjadi putih. Dari gesture-nya, sepertinya dia meminta dokumen yang saya bawa, lalu saya pun menyerahkannya dengan pasrah. Dia mengeceknya dengan hati-hati, lembar demi lembar dibukanya, dan saya menjadi semakin deg-degan. Saya berdoa dalam hati, supaya syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mengurus visa — yang telah saya siapkan dalam map — telah lengkap. Syarat-syarat tersebut adalah:

1. Paspor

Jangan pergi ke luar negeri sebelum memiliki paspor, dan jangan kembali ke dalam negeri sebelum mendapatkan cap di paspor dari negara yang dikunjungi. Beberapa negara mensyaratkan paspor yang memiliki masa berlaku lebih dari enam bulan, demikian juga dengan India. Nantinya visa yang telah disetujui, akan ditempel pada paspor ini.

2. Pasfoto Terbaru

Seperti sebelumnya, saya memercayakan sesi pemotretan personal saya kepada Jakarta Foto yang beralamatkan di Jl. H.A. Salim (Sabang) Jakarta. Tak sampai 15 menit, saya telah mendapatkan hasil fotonya, rapi dalam sebuah amplop yang juga berisikan CD soft copy foto tersebut. Saya menyerahkan uang sebesar Rp. 40.000,- untuk menebus amplop tersebut. Sebagai informasi, ukuran foto yang digunakan untuk mengurus visa India adalah 5cmx5cm = 25cm², dan dibutuhkan — sebenarnya — hanya dua foto — satu ditempel pada formulir dan satu diserahkan ke petugas — saja.

IMG-20130103-02025

Hanya Rp. 40.000,- untuk empat lembar foto dan sekeping CD berisi foto (bukan bulu keriting)

3. Itinerary Perjalanan

Categories: Foreign, India, Survival Kit, Visa, Visa India

Tagged: India, Visa, Visa India

231 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan
  • Kejutan Demi Kejutan di Georgia

Archives

Blog Stats

  • 5,485,863 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...