backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

13 Hal Yang Bisa Dilakukan di Pulau Macan

arievrahman

Posted on December 10, 2014

Mungkin tak ada yang tahu bahwa sepuluh tahun lalu, Pulau Macan yang merupakan bagian dari Kepulauan Seribu hanyalah sebuah pulau pribadi kepunyaan sebuah keluarga Indonesia yang dikelola oleh seorang Jerman beserta keluarganya. Sampai kemudian datanglah Roderick ke pulau ini atas undangan temannya yang berkewarganegaraan Jerman tersebut.

Sejak pertama kali datang, Roderick –yang lahir dan besar di Indonesia, dengan latar belakang keluarga Eropa , dan memegang paspor Amerika Serikat– sudah jatuh cinta dengan pulau ini. “A simple but beautiful place.” Batinnya. Dan gayung pun bersambut, ketika sang teman memintanya untuk menggantikan tugasnya mengelola pulau ini, karena dia harus berpindah mengikuti orang tua yang ingin menghabiskan masa tua di Bali.

Di tangan Roderick, Pulau Macan pun berbenah dan berubah konsep menjadi sebuah eco resort yang menerapkan konsep eco village yang kemudian disebutnya sebagai Tiger Islands Village & Eco Resort. Di sini, kelistrikan didayai oleh solar cell bikinan Jepang, turbin angin, juga sistem distribusi dan penyimpanan energi yang bekerja sama dengan Sundaya, sebuah korporasi yang telah bergerak selama dua puluh tahun lebih di bidang energi. Selain itu, limbah sampah pulau ini juga dikelola dengan baik, sebagian dijadikan pupuk untuk kebun-kebun mungil pulau ini, sebagian didaur ulang, dan sisanya dihancurkan. Yang tak boleh ketinggalan, bangunan-bangunan dan produk olahan yang berada di sini juga berkonsep nature-friendly. Berteman dengan alam. Alam sekitar, bukan Alam Mbah Dukun. Yang sedang ngobatin pasennya.

Dan berikut ini adalah 13 hal yang bisa dilakukan di Pulau Macan:

1. Relaksasi

Penginapan Pulau Macan

Penginapan di Pulau Macan

Categories: DKI Jakarta, Domestic

Tagged: inTravelogy, Kepulauan Seribu, Pulau Macan

115 Comments

+Read more

Holiday Inn Express, Pilihan Menginap yang Smart Banget

arievrahman

Posted on December 9, 2014

Hanya butuh waktu kurang dari seperempat jam sejak saya meninggalkan Holiday Inn Express Thamrin Jakarta, untuk mencapai Eatology Jakarta yang terletak di Jalan Haji Agus Salim, atau yang lebih dikenal dengan nama Jalan Sabang tersebut. Memang, lokasi Holiday Inn Express yang terletak di pusat kota, sangat memudahkan saya untuk mencapai tujuan malam itu yaitu “Gak Smart Banget” Comedy Night.

“Mas, silakan makan dulu di atas.” Ucap sang resepsionis begitu saya melangkahkan kaki ke dalam Eatology, sementara gerimis mulai turun di luar. “Itu komikanya juga sedang pada makan, kok.”

Wah, kapan lagi nih, nonton stand up comedy gratis, terus ditawarin makan gratis. Gak Smart Banget rasanya kalau saya sampai menolak tawaran tersebut.


Malam sebelumnya, saya berkesempatan untuk mencicipi Holiday Inn Express Thamrin. Pertimbangan awalnya adalah karena lokasinya yang strategis dan harganya yang bersaing dengan hotel-hotel di kelasnya. Untuk lokasinya, hotel ini terletak hanya beberapa langkah dari Bundaran Hotel Indonesia, juga dekat sekali dengan Stasiun Kereta Sudirman dan Halte TransJakarta Tosari.

Namun ternyata, kelebihan yang dimiliki Holiday Inn Express bukan hanya itu.

Holiday Inn Express Thamrin
Comfy Bed
Holiday Inn Express Thamrin
Spacious Working Space
Holiday Inn Express Thamrin
Fast Wi-Fi Connection

Kebiasaan saya, ketika pertama kali masuk kamar hotel adalah membuka tirai yang membatasi antara jendela dengan pemandangan di luar, dan saya cukup terkejut ketika melihat view yang saya dapat. Walaupun bukan pemandangan kostan cewek dengan sumur dan tempat mencuci bajunya, saya cukup happy ketika dapat melihat Thamrin City dari kejauhan.

Kemudian, saya mencoba duduk di kursi kerjanya, dan langsung merasa nyaman, padahal baru kenal beberapa menit. Tunggu, apakah ini yang dinamakan jodoh?

Setelahnya, saya membuka laptop dan mengetes koneksi internet gratisnya, maklum, beberapa hotel yang menyediakan fasilitas “Free Wi-Fi” ternyata tidak free-free banget, dan nyatanya saya malah masih harus menggunakan modem sendiri karena internetnya tidak secepat janjinya. Namun beruntung, hal ini tidak berlaku di Holiday Inn Express, di mana saya berhasil bekerja online sambil streaming radio tanpa terputus.

Categories: Accommodation, Events

Tagged: #GakSmartBanget, #WowSmartBanget, Eatology, Holiday Inn Express, Holiday Inn Express Thamrin, Stand Up Comedy

28 Comments

+Read more

Timor Leste dan Sepuluh Juta Rupiah

arievrahman

Posted on November 30, 2014

Saat ini, apabila ada yang bertanya, “Habis ini pengin jalan-jalan ke mana lagi?” maka saya tanpa ragu akan menjawab “Timor Leste!”. Hal itu bukanlah tanpa alasan, karena selain dikenal mempunyai cadangan minyak yang berlimpah di celah Timor (yang diprediksi dapat memulihkan krisis minyak di Indonesia), Timor Leste juga konon memiliki objek-objek wisata yang mempesona.

Maka gak heran kan, kalau Indonesia sebenarnya tak rela kalau Timor Leste lepas, layaknya cinta pertama yang sudah lama bersama lalu berpisah dengan mengatakan, “Maaf Mas, kamu terlalu baik buat aku. Aku ingin konsentrasi belajar dulu.” dan kemudian tiba-tiba sudah bersama yang lain.

Cukup bersedihnya, mari kita move on. Kembali ke pertanyaan, mengapa saya belum sempat mewujudkan keinginan saya tersebut? Ada dua faktor yang menyebabkannya, yang pertama adalah waktu, dan yang terakhir adalah biaya.

Waktu, karena saya sebagai pekerja kantoran yang memiliki jatah cuti terbatas, dan sudah saya habiskan sepanjang tahun ini, dan apesnya tambahan cuti tidak bisa didapatkan semudah membeli gorengan di Burkina Faso. Biaya, karena saat ini saya sedang menabung demi masa depan yang cerah, maka keinginan ini pun terpaksa ditunda sejenak. Ingat, kebutuhan lebih penting daripada keinginan.

Timor Leste District

Timor Leste District

Lalu, marilah kita berandai-andai. Andaikan saya punya jatah cuti dua kali setahun pada tahun depan –dengan masing-masing selama enam bulan– dan tiba-tiba ada uang sepuluh juta jatuh dari langit ketika helikopter Tung Desem Waringin melintas, apakah saya dapat berlibur ke Timor Leste?

Am I IN or OUT?

Categories: Events, Foreign, Miscellaneous, Timor Leste

Tagged: InOrOut, itinerary, Timor Leste

123 Comments

+Read more

Petualangan di Markas Caterpillar

arievrahman

Posted on November 24, 2014

“You know, I never did this before.” Dick berucap kepada saya yang duduk di dalam kokpit Cat 304E CR Hydraulic Excavator yang harus saya kendalikan sesaat lagi. Matanya tajam menatap saya, tanpa mata genit.

Hah? Saya sontak kaget. “How come?” Bagaimana bisa, Dick, yang ditugaskan menjadi trainer sehari saya dalam menjajal berbagai alat berat di Caterpillar Learning Centre, Edwards, Illinois, justru belum pernah mengemudikan mesin ini sebelumnya. Sementara bagi saya, inilah pertama kali saya yang berat, duduk di dalam kokpit sebuah alat berat.

“I am retired now.” Jelasnya “They asked me to come and help them, and I never operated this machine before.”

Saya menatap tumpukan gelas-gelas plastik di hadapan saya, kali ini tugas saya adalah memungut sebuah gelas yang terdapat di puncak piramida, dan mengembalikannya lagi ke tempat semula, tanpa merusak susunannya. Kelihatannya memang mudah, kalau dilakukan dengan menggunakan tangan Dick, tapi kali ini saya harus melakukannya menggunakan excavator, seperti yang terdapat pada video Cat 301.7 CR Mini Excavator ini.

“Well, let’s try this!” Seru Dick, sambil memberikan beberapa instruksi kepada saya.

Caterpillar Edwards

Pertama kali mengendalikan excavator.


Beberapa jam sebelumnya, saya telah tiba di Caterpillar Demonstration and Learning Centre bersama dengan Paulo Gustavo Gomes (blogger dari Sao Paulo, Brazil), Maxim Kredysehv (blogger dari Odenburgh, Rusia), juga Paul Strauss (blogger dari Chicago, Amerika Serikat) dalam rangka menghadiri Caterpillar Blogger Event yang dilangsungkan beberapa waktu silam di Peoria, Illinois, yang merupakan markas besar dari Caterpillar Inc. Saat itu kami didampingi juga oleh tim Caterpillar, yaitu Archie Lyons yang merupakan Creative Director, Deanna Dean selaku Brand Promotions Coordinator, dan Nicole Serena sebagai Social Media Community Manager dari Caterpillar Inc.

Dan saat itu saya masih tak percaya bahwa saya dapat pergi ke Amerika Serikat hanya karena blogging, namun ajakan Archie berikutnya menyadarkan saya bahwa saat ini kami sedang berada di sana. “Let’s have a breakfast, before we do many activities today in Edwards Demonstration and Learning Centre.“.

DEG! I’m in America baby.

Categories: Events, Foreign, United States of America

Tagged: Caterpillar, Edwards, Excavator, giveaway, Peoria

90 Comments

+Read more

Kisah di Balik Uang Kertas Seribu Rupiah

arievrahman

Posted on November 14, 2014

Uang kertas seribu rupiah, adalah pecahan uang kertas Indonesia terkecil saat ini yang masih digunakan sebagai alat pembayaran sah. Namun pernahkah kamu memperhatikan lukisan yang terdapat pada uang kertas tersebut? Bukan, bukan lukisan Kapitan Pattimura yang mengenakan baju berkancing dengan logo smiley, melainkan lukisan dua buah gunung yang terdapat di baliknya.

Bukan, bukan gunung kembar pula yang saya maksudkan. Melainkan sepasang gunung yang disebutkan sebagai Pulau Maitara dan Tidore pada uang kertas tersebut. Dua buah pulau yang memegang peranan penting pada sejarah Indonesia.

Sejarah yang bermula dari jenis tumbuhan yang sering disebut sebagai rempah-rempah.

Uang Kertas 1000 Rupiah

Uang Kertas 1000 Rupiah

Semuanya berawal pada abad ke-16, ketika bangsa Portugis pertama kali masuk ke wilayah Kepulauan Nusantara lepas menaklukkan Malaka pada tahun 1512. Pada mulanya, mereka bermaksud mengadakan koalisi dan perjanjian damai dengan Kerajaan Sunda di Parahyangan, namun gagal akibat sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sejumlah pemerintahan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten. Akibatnya, mereka galau dan mengalihkan arah ke Kepulauan Maluku, yang saat itu terdiri atas berbagai kumpulan negara yang awalnya berperang satu sama lain namun tetap memelihara perdagangan antarpulau dan internasional.

Dan Maitara, adalah lokasi di mana Portugis pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Maluku. Selanjutnya melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat, mereka mendirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur dengan rempah-rempah berupa cengkih (sering salah kaprah dan ditulis sebagai cengkeh) dan pala sebagai komoditas utamanya.

Rempah-rempah

Rempah-rempah di Maluku.

Cengkih (Syzygium Aromaticum atau Eugenia Aromaticum) adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai ‘The Spice Islands’. Sementara Pala (Myristica Fragrans Houtt), merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, yang berasal dari wilayah Banda dan Maluku.

Categories: Domestic, Maluku Utara

Tagged: Cengkih, Gemah Rempah Mahakarya Indonesia, Maitara, Maluku, Pala, Rempah-rempah, Ternate, Tidore

86 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang
  • This Is How FootballTicketNet Ruins My Childhood Dream

Archives

Blog Stats

  • 5,485,769 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...