“Butuh waktu lebih dari sepuluh tahun bagi Frédéric Auguste Bartholdi, si pematung kebangsaan Perancis untuk merancang, membangun, termasuk mengumpulkan donasi guna menciptakan sosok wanita setinggi 46 meter tersebut. Seorang wanita simbol kemerdekaan dan kebebasan, bagi siapa saja yang memandangnya.”.
Saya menatap selembar kertas di tangan saya, kertas yang saya cetak dari hasil pemesanan online. Di situ tertera bahwa saya dijadwalkan untuk menyeberang menuju Liberty Island dengan feri pukul 09.00, sementara jam digital di tangan kiri saya sudah menunjukkan waktu pukul 08.50.
Angin sejuk merontokkan dedaunan di Battery Park, saat pergantian musim dari panas ke gugur, sementara seorang gelandangan tertidur dengan tak acuh di bangku taman dengan jaket tebalnya. Saya berlari menembus taman ke arah deretan orang-orang yang mengantre dengan rapi, menuju sebuah kapal bertuliskan “Miss Liberty”.
“Ah, itu pasti kapalnya!” Batin saya. “Semoga saya tidak terlambat.”.
Dengan napas sedikit tersengal –karena berlari sambil membawa tas selempang berisikan tripod dan kamera, bukan karena kelelahan menyapu dedaunan di Battery Park– saya memperlihatkan kertas yang telah saya siapkan tersebut pada seorang penjaga dengan muka masam.
“Sorry, Sir.” Cegahnya, menghalangi saya masuk, “You have to change the ticket, before you can enter.”.
“But I have a schedule at 09.00.” Saya menimpalinya seraya menunjukkan waktu yang tercetak di kertas putih tersebut.
Tagged: Amerika Serikat, Ellis Island, Liberty Island, Manhattan, Patung Liberty







