Sebuah Perjalanan Panjang Bernama Pernikahan (2) – Persiapan Menjelang Pernikahan
arievrahman
Posted on March 26, 2016
“Sebenarnya, rukun pernikahan itu cuma ada lima.” Sambil menggosok batu akiknya, bapak di depan saya memelankan suaranya, “Yaitu SISWA.”
“Hah? Siswa?” Apakah ini maksudnya saya harus membawa lima orang siswa supaya bisa menikah? Saya kan bukan Saipul Jamil. Hap!
“Iya S.I.S.W.A.” Jawabnya. “Suami, Istri, Saksi, Wali, dan Akad atau yang biasa disebut sebagai Ijab Kabul.”
Oh. Cheesy amat ternyata singkatannya. Berbeda dengan S.H.I.E.L.D., yang merupakan kepanjangan dari Strategic Homeland Intervention, Enforcement and Logistics Division, yang walaupun cheesy namun tetap keren karena menggunakan bahasa Inggris, eh Amerika.
Siang itu, saya mendapatkan bersama Neng sedang mendapatkan bimbingan pernikahan pada salah satu KUA di Bandung. Iya, memang menikah itu sebenarnya cuma ada lima rukun yang harus dipenuhi, namun di Indonesia, lima rukun tersebut berkembang menjadi berbagai macam hal yang harus dipenuhi untuk melengkapkan rukun pernikahan. Hal-hal yang diantaranya meliputi, undangan ratusan orang, pembuatan suvenir pernikahan sebagai cenderamata tamu undangan, penyajian musik-musik kekinian untuk menghibur tamu yang hadir, hingga persiapan adat yang sangat panjang.
Hal-hal panjang yang harus saya lalui, sebelum menikah dengan Neng.
Klik ini untuk membaca cerita sebelumnya, sekaligus tentang panduan mengurus dokumen pernikahan.
Perjalanan Menyiapkan Kebutuhan Pernikahan
Setelah dokumen pernikahan terpenuhi, berikutnya adalah menyiapkan tetek bengek (berarti segala macam urusan, bukan tetek yang kena flu terus bengek) pernikahan. Tantangannya adalah, waktu untuk mengurus semuanya kurang dari tiga bulan lagi.
Yang pertama adalah menentukan konsep pernikahan. Sebenarnya kami ingin mengundang sedikit saja tamu, yang hanya terdiri dari keluarga, kerabat, dan teman-teman dekat, namun pihak keluarga berpendapat bahwa relasi, teman-teman lama, hingga saudaranya saudara juga harus diundang. Baiklah.
Setelah mendapat estimasi jumlah undangan, kami kemudian mencari desainer untuk merancang desain undangan kami. Tentu saja kami tidak mau kalau kualitas desain undangan kami lebih rendah daripada Drawa, maskot Asian games 2018 yang tidak jelas wujudnya berupa burung atau ayam atau cabe-cabean.
Untungnya, saya mempunyai kenalan bernama Mutia Hanifah, yang piawai mewujudkan konsep undangan kami. Sebuah konsep undangan sederhana, berbentuk paspor dan pernak-perniknya, seperti boarding pass untuk tanda pengambilan suvenir, juga luggage tag sebagai suvenirnya.
Masalah undangan beres, berikutnya masalah pakaian. Berhubung kami akan melangsungkan rangkaian acara sebanyak 3 kali,
Tagged: Kaliem, Kenawa, OMDC, Pernikahan, prewedding







