“Sebenarnya, rukun pernikahan itu cuma ada lima.” Sambil menggosok batu akiknya, bapak di depan saya memelankan suaranya, “Yaitu SISWA.” “Hah? Siswa?” Apakah ini maksudnya saya harus membawa lima orang siswa supaya bisa menikah? Saya kan bukan Saipul Jamil. Hap! “Iya S.I.S.W.A.” Jawabnya. “Suami, Istri, Saksi, Wali, dan Akad atau yang biasa disebut sebagai Ijab Kabul.” Oh. Cheesy amat ternyata singkatannya. Berbeda dengan S.H.I.E.L.D., yang merupakan kepanjangan dari Strategic Homeland Intervention, Enforcement and Logistics Division, yang walaupun cheesy namun tetap keren karena menggunakan bahasa Inggris, eh Amerika. Siang itu, saya mendapatkan bersama Neng sedang mendapatkan bimbingan pernikahan pada salah satu KUA di Bandung. Iya, memang menikah itu sebenarnya cuma ada lima rukun yang harus dipenuhi, namun di Indonesia, lima rukun tersebut berkembang menjadi berbagai macam hal yang harus dipenuhi…