Desingan peluru menembus udara,

malam-malam yang makin panjang, 

dan tiada henti. 

“Kita harus berpindah, ke selatan!”

Serumu, sambil menggengam tanganku.

Ikuti mereka, biar aku menjaga kampung ini.”

Aku menggeleng, 

dan langkah-langkah tentara Burma semakin mendekat.

“Kita akan bertemu,

di perbatasan Thailand.”

Pesanmu, seraya memeluk tubuhku.

Dan itulah kata terakhir,

yang kudengar darimu.

***

Aku terbangun dengan mata yang basah, peristiwa belasan tahun lalu ternyata masih menghantuiku. Saat di mana aku kehilangan lelakiku, yang berjanji akan menemui di perbatasan, untuk kemudian menikahiku. Aku menyandarkan tubuhku ke sudut ranjang, mencoba menegakkan kepala, walaupun lumayan berat karena lilitan gelang keemasan di leher, yang tiap tahun semakin banyak jumlahnya. Ada yang bilang, gelang ini melindungiku dari harimau, ada yang bilang tumpukan gelang ini merupakan perwujudan dari naga, ada yang bilang menambah sex appeal-ku, dan ada yang bilang semakin mempercantikku. Tapi kenyataannya, gelang-gelang yang merupakan warisan turun-temurun ini justru membuat leher dan selangkaku sakit dan memar karena tak kuasa menopang beratnya.

Aku tak peduli, toh tak ada yang aku cari lagi. Cintaku telah hilang belasan tahun lalu.

Aku membasahi tubuhku dengan air dari kamar mandi yang telah disiapkan lalu mengenakan pakaian yang telah disediakan, sebelum merapikan bilik-bilik bambu yang dibangun pemerintah setempat demi kepuasan para pengunjung.

“Kamu harus tersenyum.” Pesan salah seorang pengurus tempat ini padaku, bertahun-tahun silam “Tak peduli mau siapapun yang datang, dan seaneh apapun permintaan mereka, kamu harus tetap tersenyum.”

Selain aku, di sini juga berkumpul beberapa orang wanita dari berbagai suku di sekitar Thailand Utara. Beberapa diantaranya bahkan masih belia. Kadang aku iri pada si kembar yang cantik karena usia mereka masih muda, sehingga wajar jika banyak pengunjung yang datang lebih memilih untuk berfoto bersama mereka. Aku tahu ada beberapa pengunjung yang memberikan tip kepada mereka secara sembunyi-sembunyi, dan pura-pura tak melakukan apa-apa ketika memergokiku sedang menatap ke arahnya.

Kelakuan pengunjung di sini aneh-aneh, maklum saja, karena pengunjung di sini terdiri dari beragam suku dan bangsa. Mulai dari bangsaku sendiri, bangsa kulit putih, hingga kulit hitam. Aku tak tahu apa nama suku mereka, wajar saja, aku tidak dididik untuk mengenal mereka. Bahkan bahasa yang mereka ucapkan pun aku tak tahu banyak. Paling hanya sekadar “Yes” “No” atau “Cheese” saja yang aku mengerti. Sungguh aku iri pada si kembar yang cantik karena mereka lebih mengerti bahasa pengunjung dibandingkan aku yang telah keriput dimakan usia ini.

Senyum, hanya itu yang aku punya. Untuk mempertahankan hidupku.

***

Saya bersemangat turun dari mobil jemputan sore itu. Mendapati tulisan yang terpampang di depan desa ini, telah membuat batin saya orgasme. Sesaat lagi, saya akan bertemu dengan wanita-wanita dari Suku Karen. Bahkan, membayangkannya saja bisa membuat pikiran saya ereksi. Ah!

***

Sore itu, aku duduk seperti biasa dalam bilik bambuku, di atas tikar yang kugelar untuk melayani tamuku. Dan kemudian, pria itu datang.

***

Jantung saya semakin tak karuan ketika mendapati wanita ini tersenyum, sungguh rasanya ingin tahu ada apakah di balik senyumannya. “Pokoknya kamu harus bertemu dengan wanita-wanita Suku Karen yang misterius itu.” Pesan almarhum Papa saya. Dan kini saya telah berada di hadapannya. Saling tatap, sebelum memberanikan diri untuk masuk ke dalam biliknya.

***

“Ah, dia masuk.” Aku sudah menduganya, seperti yang dilakukan pria kulit putih sebelumnya. Dari wajahnya, aku menebak dia berasal dari suku yang hampir sama denganku. Warna kulitnya pun kecoklatan, mirip dengan pria itu. Tingginya juga tak jauh beda dengannya. Ukurannya? Aku tak berani membayangkannya. Ah, pria itu. Pantas saja aku merasakan ada sesuatu yang lain pada diriku.

Aku menatapnya. Dia sepertinya mengatakan sesuatu padaku. Namun belum sempat aku menjawab, dia telah duduk di sampingku. Di atas dipan bambu yang telah kulapisi dengan tikar. Pria itu menatapku, dan dia tersenyum setelah mengedipkan salah satu matanya. Tangannya membentuk sebuah isyarat, dan memintaku untuk mengikuti gerakannya. Bibirnya bergerak, dan aku mendengarnya bicara bahasa yang tak kupahami artinya.

Tunggu, aku rasa aku tahu maksudnya. Dasar pengunjung, maunya aneh-aneh!

***

Dengan penuh keberanian, saya memantapkan hati untuk berbicara pada wanita itu, “Look at to the camera, and cheese!

DSCN6283resize

Karen Long Neck Tribe, North Thailand.

***

Dan aku akan terus tersenyum, menanti datangnya pria itu.

Pria yang akan mengembalikan cintaku, entah kapan.

***

[Fiksi ini ditulis untuk #PeopleAroundUs, writing challenge di Twitter yang diprakarsai oleh @aMrazing.]

Advertisements