“AGGRESIVE ANIMAL, PLEASE DON’T TOUCH!!!” Sebuah papan pengumuman tergantung di sisi kandang besi Bali Pulina dengan jeruji yang mengelilinginya. Di dalamnya, nampak dua ekor binatang berlarian dan berloncatan ke sana ke mari. Binatang itu mirip tikus, berwarna kecokelatan, namun dengan ukuran yang lebih besar, walaupun tidak sebesar gorila betina yang sedang hamil.  Paradoxurus hermaphroditus, adalah nama binatang tersebut, dan karena namanya yang susah maka orang-orang di Indonesia selalu menyebutnya dengan musang luwak, atau biasa disingkat dengan ‘luwak’ saja. Pada umumnya, seekor luwak dewasa berukuran panjang sekitar 50cm dengan ekor belakang yang dapat mencapai 45 cm. Sekotak penuh makanan berupa biji kopi merah-hijau berada pada salah satu sudut kandang dengan tempat minuman di sampingnya, sementara pada sudut lainnya berjejer rapi kotoran luwak tersebut. Saya kembali…