Lampu remang-remang menyambut kami di ujung perjalanan malam itu. Setelah mengunjungi Desa Adat Penglipuran dengan menggunakan bus pada sore hari, kami diminta berganti kendaraan dengan menggunakan mobil kecil. “Jalan menuju tempat berikutnya sempit, jadi bus tidak dapat lewat.”ย Oke, semoga saja memang benar karena itu. Dengan sedikit malas karena harus berganti kendaraan, saya terpaksa menuruti perintah sang pemandu dengan alasan keselamatan, hingga akhirnya kami tiba di sebuah rumah bergaya Bali dengan patung batu di depan gapuranya. Tak ada keterangan apa-apa di depan rumah tersebut, kecuali sebuah neon yang menyinari papan kecil bertuliskan ‘Paon Bali’. Setelah berganti kendaraan yang dilanjutkan perjalanan menyusuri jalanan sempit, gelap, dan berkelok, kemudian tiba di sebuah rumah remang-remang, berikutnya apa lagi?ย Sebuah rumah pembantaian seperti pada film ‘Hostel’? Atau justru tempat berkumpulnya…