Tidak seperti kebanyakan perjalanan yang berawal mulus, perjalanan kali ini dimulai dengan sebuah drama yang mengambil setting di bandara Soekarno Hatta –Tangerang, bukan Jakarta, Indonesia. Pukul empat pagi di hari Jumat, dan saya salah turun dari taksi, karena mengira China Airlines berangkat dari Terminal 2, seperti kebanyakan maskapai internasional lainnya. Walaupun tak lama kemudian, saya dapat tiba di check-in counter China Airlines, Terminal 3 Ultimate, dengan menggunakan jasa airport shuttle yang menghubungkan tiap-tiap terminal di sana. Di sinilah drama sesungguhnya dimulai. “Selamat pagi.” Sapa petugas di balik counter dengan ramah, sambil memeriksa dokumen yang saya berikan. “Kalau boleh tahu, waktu itu tiketnya apakah dibeli sendiri?” “Tidak,” Jawab saya “Teman saya di Taiwan yang membelikan tiket, dengan menggunakan kartu kreditnya.” “Maaf, tapi pembayaran tersebut belum dikonfirmasi ke maskapainya.” Jawab si…