backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Romantisme a la Baduy

arievrahman

Posted on September 26, 2012

Pak Ralim yang romantis

“Bapak sayang ga sama istrinya?”  Tanya saya kepada Pak Ralim tiba-tiba.

“Ya sayang dong, namanya juga istri.” Jawab Beliau sambil terkekeh.

Pak Ralim, adalah satu dari beberapa orang penduduk Baduy Dalam yang telah membuka diri kepada dunia luar. Obrolan hangat di siang itu, telah mengubah stigma saya terhadap Suku Baduy. Walaupun berada jauh di pedalaman yang jarang tersentuh, bukan berarti mereka membatasi pergaulan dari suku-suku lain. Meski memang masih ada beberapa pantangan dan adat yang harus dipenuhi.

“Pak, ga pengin punya istri banyak?” Saya pun bertanya usil ke Beliau.

“Buat apa, orang satu aja repot.” Jelasnya singkat “Dan ga habis-habis pula. Hehehe.”

“Tapi, kalau istrinya kayak Julia Perez gimana pak?”

Beliau diam, lalu senyum-senyum centil. Entah karena “pengin” sama Julia Perez, atau karena tak tahu tentang Julia Perez.

Wallahhualam Bissawab.

***


Foto ini dipersembahkan untuk mengikuti Turnamen Foto Perjalanan – Ronde 3: Potret,

yang berlangsung di sini.

 

Categories: Banten, Domestic, Miscellaneous, Others

Tagged: Baduy, Banten, Potret, TurnamenFotoPerjalanan

9 Comments

Sapi atau Babi: Antara Halal dan Haram

arievrahman

Posted on September 24, 2012

Big Breakfast Set – McDonalds

Singapura 2011 – Tak ada yang istimewa dari penampakan menu sarapan McDonalds kali ini, hanya setangkup roti yang bisa disusupi selai blueberry favorit saya, kentang yang telah diolah sedemikian rupa (dan biasa disebut hash browns), telur dadar tak berbentuk, sekerat daging sapi panggang, dan segelas teh hangat. Hanya senyum – atau lebih tepatnya cengiran – dari Mama yang membuat pagi saya di Komplek Bras Basah menjadi istimewa.

Macau 2012 – Senado Square mulai ramai, namun masih sepi restoran yang buka pagi itu. Perhatian kami lalu tertuju pada sebuah restoran dua tingkat dengan logo M besar (bukan M kapsul), yang di depannya terdapat patung badut berwarna merah putih kuning. Menu sarapan yang kami pesan sama dengan yang saya pesan di Singapura, namanya Big Breakfast. Dengan rasa yang agak sedikit berbeda dari yang ada di Singapura, waktu itu saya pikir mungkin akibat pengaruh bumbu masakan yang disesuaikan dengan lidah setempat.

Hongkong 2012 – Angin dingin yang berhembus di pelataran Citygate Outlets akhirnya memaksa kami untuk mencari kehangatan (tepatnya, mengisi perut) sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tian Tan Buddha, yang rencananya akan ditempuh dengan menggunakan cable car. Antrian panjang telah tampak di restoran cepat saji kenamaan itu, dan setelah tiba persis di depan kasir saya pun memberanikan diri untuk bertanya:

“The big breakfast menu, what kind of meat is that?” ucap saya, sambil menunjuk gambar yang terpampang di display.

“That’s POK!”

…

Akhirnya di pagi yang dingin itu, kami sarapan dengan semangkok sup kacang merah.

(dan sampai saat ini, saya tak tahu dan tak ingin tahu daging apa yang telah saya makan di Macau)

***


Foto ini dipersembahkan untuk mengikuti Turnamen Foto Perjalanan – Ronde 2: Kuliner,

yang berlangsung di sini.

Categories: Culinary, Hong Kong, Macau, Miscellaneous, Others, Singapore

Tagged: Hong Kong, Macau, Makanan, Singapore, TurnamenFotoPerjalanan

14 Comments

The Chronicles of Life and Death

arievrahman

Posted on September 23, 2012

Phuket – The Chronicle of Life and Death

Pemuda lokal Thailand berumur 20-an tahun itu tampak kelelahan memainkan dayungnya, wajar saja karena di antara arus laut yang semakin kuat, kami – saya dan Ahwan, bukan saya dan dia – justru melakukan berbagai pose menjijikkan di atas kano sambil mengabadikannya dengan kamera. Inilah perjalanan pertama saya ke Phuket, yang menghasilkan sebuah kisah antara hidup dan mati.

***


Foto ini dipersembahkan untuk mengikuti Turnamen Foto Perjalanan – Ronde 1: Laut,

yang berlangsung di sini.

Categories: Miscellaneous, Others, Thailand

Tagged: Laut, Phuket, Thailand, TurnamenFotoPerjalanan

2 Comments

Jangan Pergi ke Phuket!*

arievrahman

Posted on September 17, 2012

Peluh mengalir deras di pelipis Jack Sparrow, tangan kanannya menggenggam kemudi sementara tangan kirinya memegang tuas persneling speed boat dengan kuat. Di antara ombak yang bergulung setinggi lima meter itu, kapal kami mengalami kerusakan mesin. Di Laut Andaman yang ganas, hidup dan mati kami dipertaruhkan. Inilah pengalaman traveling paling mendebarkan yang pernah saya alami.

…

……

September, 2011.

“Cuaca di Phuket sedang tak jelas, kadang hujan kadang terang.” Lady Jujuka memberitahu saya (tentunya dalam Bahasa Inggris yang bagaikan goyangan Annisa Bahar) di malam sebelumnya “Tapi semoga perjalanan kalian besok akan lancar.”

“Well, terima kasih perhatiannya.” Saya menatap tiket One Day Tour ke Phi-phi Island dan sekitarnya dengan menggunakan speed boat di tangan, “Kalau cuaca tak jelas sih di sini juga sering.” Batin saya, sambil memegang dada. Dada sendiri, bukan Dada Rosada.

“Jangan lupa, besok kamu akan dijemput pukul delapan pagi!”

…

Layaknya peserta KDI yang tersingkir, saya pun harus rela dijemput pada pukul delapan pagi di hari yang dingin itu. Karena bangun kesiangan, sarapan pun terpaksa saya lakukan di minibus. Terima kasih Sevel (Seven Eleven -red) atas nasi rebus – yang harus dipanaskan selama sebelas menit di microwave – dan bule mabuk yang break dance di depan kasirmu, yang membuat saya hampir ketinggalan jemputan.

Perjalanan menuju meeting point di Boat Lagoon Marina ditempuh selama kurang lebih satu jam, termasuk menjemput peserta-peserta tur di hotelnya masing-masing. Awan mendung dan jalanan becek tanpa tukang ojek menyambut kedatangan kami di Boat Lagoon Marina.

“Ayo, minum dulu teh dan kopinya. Mumpung masih panas.” Pemandu kami menunjukkan dispenser tempat teh dan kopi berada, “Lalu, setelah itu pilih fins dan goggle yang pas dengan ukuran kalian di sini.”

Saya memperhatikan peserta yang hadir pagi itu, beberapa orang pria Arab dengan badan segede unta, sepasang suami istri dan bapak-anak asal Brasil, cewek-cewek Korea dengan bikini yang agak kedodoran sehingga memperlihatkan isinya, termasuk seorang cowok asal Indonesia yang serius memperhatikan apa isi bikini cewek Korea tersebut. Cokelat muda, warna tehnya.

“Di Thailand sekarang sedang monsoon, jadi sering terjadi hujan bercampur angin kencang di laut.” Si pemandu membuka obrolan briefing pagi itu. “Sebelumnya perkenalkan, nama saya adalah Shakira.”

Beberapa peserta menyemburkan teh dan kopi yang telah diminumnya, penyebabnya adalah: (1) Pemandu kami tak ada mirip-miripnya dengan Shakira, dan (2) Dia seorang pria.

“They told me I could be anything I wanted, so I became Shakira.”

Mendung menyelimuti Boat Lagoon Marina

Hujan turun dengan deras ketika kami memasuki speed boat dengan kapasitas 20 orang itu,  saat itu Shakira telah siap dengan payungnya sementara beberapa peserta menggunakan jas hujan, sedangkan saya sengaja membiarkan tetesan demi tetesan hujan mengguyur tubuh polos saya.

“Pakai gelang ini untuk keberuntungan.” Teringat pesan Shakira ke semua peserta sebelum berangkat tadi “Juga sebagai tanda kalian itu satu grup, sehingga tidak terpencar-pencar nantinya.”

Saat itu, kami yang menggunakan gelang keberuntungan tali berwarna biru, sama sekali tak tahu kejutan apa yang telah disiapkan alam pada perjalanan tersebut.

…

0.000000 0.000000
Categories: Foreign, Thailand, Transportation

Tagged: Bad Weather, Monsoon, Phi Phi, Phuket, Speed Boat, Thailand

46 Comments

+Read more

Sepasang pria di atas batu, aw!

Legenda Batu Cinta (Repackaged)

arievrahman

Posted on September 11, 2012

[PERINGATAN UNTUK PEMBACA: INI ADALAH KISAH FIKSI YANG DIILHAMI DARI LEGENDA SETEMPAT. JIKA ADA NAMA, PERISTIWA, MAUPUN TEMPAT KEJADIAN PERISTIWA YANG MIRIP MAKA ITU ADALAH COINCIDENCE ATAU SERENDIPITY. DO YOU BELIEVE IT? IF YOU DON’T, LET’S MEET!]


Achied terbangun di sebuah tempat yang asing baginya, perkebunan teh dengan panorama indah yang dikelilingi danau luas dengan air yang jernih. Suara burung di pagi hari mulai menyadarkannya. Sedetik kemudian, ingatannya melayang ke peristiwa kemarin, pesta hingga pagi, hingar bingar obrolan dengan para teman dekat, hingga beberapa gelas minuman, lalu semua gelap.

***

Perjalanan Ojie mencari kekasihnya yang hilang, diawali dengan memakai celana army favorit-nya. “Namanya juga mau ketemu kekasih, harus keren dong!” Ucapnya sambil mematut dirinya di depan cermin, sambil sesekali merapikan rambutnya dengan sisir dan sejumput Top Lady. Pagi itu, dia menyusuri setapak demi setapak jalan di kawasan Bandung Selatan, hingga langkah kakinya berhenti di sebuah tempat karena kecapekan. Sebuah tempat indah yang bernama Situ Patengan.

“Mbak, Mijon satu!” Ucapnya ke seorang gadis penjual minuman di situ. “Gue kayaknya kehabisan energi nih.”

“Adanya Prenjon Mas, mau? Kalau Mas ga mau, sama saya aja, mau?” Gadis itu menjawab sembari mengibaskan rambutnya.

“Err, apa aja deh asal bukan sama elu. Gue haus nih.”

“Iya deh, Mas.” Geram gadis itu “Prenjon lagi, prenjon lagi. Gagal maning, Son. Huffttt.”

***

Selamat Datang di Situ Patengan

Situ Patengan, berasal dari Bahasa Sunda Pateangan-teangan (saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri Titisan Dewi yang besar bersama alam. Ki Santang dan Dewi Rengganis, mereka berpisah untuk sekian lama. Karena cinta mereka yang begitu dalam, mereka saling mencari dan akhirnya dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta“. Dewi Rengganis pun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi Pulau Asmara senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka.

Categories: Domestic, Jawa Barat, Miscellaneous, Others

Tagged: Batu Cinta, Ciwidey, Fiction, Jawa Barat, Situ Patengan, Travel Troopers

9 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Nasib Sial di Perbatasan Azerbaijan - Georgia
  • Kejutan Demi Kejutan di Georgia
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • 10 Pilihan Tempat Makan Siang di Benhil
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,877 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...