Jakarta, 21 Maret 2012

Drrt.. Drrrt..

Drrt.. Drrrt..

Bukan, itu bukan suara dari vibrator yang lupa dicabut.

1 email received, from Jantapapha Rukmuang (ladyjujuka@hotmail.com)

Hello Arif, how are you? this year u not come to phuket ? now ju chang new shop for tour if u come u can call to me 080 5328951 see you 


Thailand, September 2011

Malam pertama saya tiba di Patong Beach – Phuket, bersama @ahwanFD yang sama-sama kelaparan kami mencari kehangatan makanan di sepanjang jalan Rat-U-Thit 200 Pee Road. Mata kami berkeliling mencari sesuatu yang bisa dimakan. Disco bar – Cafe – Waria – Striptease Dancer – Waria – Bangla Road – Waria – Jungceylon Mall – Travel Agent – Waria – Pancake – War,,, wait? Pancake? Sepertinya menarik. Tak berapa lama, kami pun sudah menikmati pancake hangat di tangan. Sekadar informasi, pancake di Thailand ini bentuknya seperti kue Bandung asli Bangka (bingung ga lu? Sama gue juga) yang bisa diisi dengan berbagai macam pilihan selai dan buah-buahan tropis seperti pepaya, mangga, pisang, jambu, dibawa dari Pasar Minggu sampai yang modern seperti keju dan susu.

Bapak tukang pancake, mari-mari sini!

Pancake isi Pisang dengan selai cokelat. Yum!

“Hello, hello Sir!”

Perhatian kami pun tertuju pada sosok wanita asli yang berdiri di bawah cahaya neon tersebut, dia lalu melambai (melambaikan tangan memanggil, bukan mengondek. -red) ke kami.

“Sini-sini, murah-murah!”

“Berapaan Mbak?”

“100 Baht buat full time.”

Poop! Imajinasi liar saya berakhir setelah melihat stand tempat dia memanggil bernama S.W.A.T Adventure Travel 3, bukan S(yah).W.A.T Adventure Travel. Yaaah.

“Hello, where are you going tomorrow? I have some alternative for you.”

“Err, alternative? Pengobatan alternative?”

“No, this is an one day tour package for you. Sir. Special from us.”

“Wow, let me check it first.”

Tempat kami bertemu Ju pertama kali.

Singkat cerita, kami pun memutuskan mengambil one day tour ke Phang Nga Bay (James Bond island) by Big Boat, one day tour ke Phi Phi island by Speed Boat, dan Simon Cabaret (VIP seat) by paksaan tapi boong setelah Phang Nga Bay tour. Untuk ketiga event tersebut, kami cuma membayar 2.400 Baht untuk tiap orangnya. Harga yang cukup murah jika dibandingkan dengan 1 buah handbag Louis Vuitton asli.

“But the Phang Nga Bay tour will finish at 20:30, so maybe you have to move faster to catch Simon Cabaret Show at 21:30, because the mini bus will pick you up at your hotel around 20:45.”

“I hope the tour can finish on time.”

Waktu itu saya pikir jam karet dan keterlambatan cuma terjadi di Indonesia.

“It’s okay then.”

“I’m Arif, from Indonesia, and you?”

“I’m Ju.” Ujarnya seraya menyerahkan kartu namanya.

“By the way, your travel agent (S.W.A.T Adventure Travel) is quite famous in Indonesia. In Kaskus.”

Ahwan, penjelajah Bangla Road.

Mall paling besar di Phuket, lebih kecil dari Bintaro Plaza.

Keesokan harinya seperti yang dijadwalkan, kami telah berada di dalam big boat untuk mengikuti one day tour ke Phang Nga Bay. Perjalanan yang sangat menarik, apalagi kami mendapat guide yang sangat ramah bernama Musa; seorang muslim Thailand. Secara singkat, perjalanan ini mengunjungi Naka Island yang sepi dan memiliki garis pantai yang panjang, rafting di pulau-pulau Phang Nga Bay, mengunjungi Muslim Village, dan James Bond Island yang unik; pulau tempat shooting film James Bond yang berjudul The Man with The Golden Gun.

We can make it if we try! *angkat pelan-pelan pulaunya*

Perjalanan yang menyenangkan ini ternyata tidak berakhir sesuai jadwal, kami baru tiba di hotel sekitar pukul 21:00 dan mini bus yang menjemput ke Simon Cabaret pun telah berangkat. Hal positif yang bisa dipetik dari peristiwa ini adalah, bukan hanya orang Indonesia yang bisa terlambat. (Positif apa ya Rif? #rhyme). Dengan tampang orang bego yang clingak-clinguk di depan lobby hotel, saya pun memutuskan untuk menghubungi Ju.

Tuut, tuuut, tuuuut.

“Hello.”

“Halo Neng, mau ikut maen sama Abang?”

“Who is this?”

“Hello Ju, this is Arif. I just came back from Phang Nga Bay tour, and now I’m missing my mini bus to Simon Cabaret.”

“Hah, how come? Pasti karena kamu ga pernah solat dan jarang mengaji ya? And where are you now?”

“In front of the hotel, do you know how to go to Simon Cabaret?”

“Just wait there!”

“Sorry?”

“Wait.”

This is our hotel, ups sorry; Mansion.

Semenit kemudian, tibalah Ju dengan motor matic nya. Kami pun terbengong-bengong, bagaimana caranya kami berangkat menuju Simon Cabaret.

“C’mon! What are you waiting for?”

“Hah, you want to pick us up one by one?”

“No, c’mon both of you, let’s ride.”

Huwow, ternyata Ju mengajak kami untuk threesome (cenglu, dalam bahasa Jawa) dan kami pun dengan malu-malu menaikinya (motor matic , bukan Ju, -red). Dengan kecepatan sedang, dia mengemudikan motor maticnya menuju Simon Cabaret. Dari pembicaraan dengan Ju, kami tahu bahwa dia tinggal di Phuket Town dan setiap hari harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit sekali jalan ke/dari Patong beach.  Bahkan terkadang dia pulang hingga larut malam. Sekadar informasi, jalan antara Phuket Town dan Patong beach berkelak-kelok dan gelap waktu malam.

“Berat ngga?”

“Engga, saya udah biasa main bertiga.”

Poop! Imajinasi liar saya berakhir lagi setelah kami tiba di tempat tujuan, Simon Cabaret!

“Thank you so much Ju, I don’t know if we can make it happens without you.”

“No, no need to thanks. Just enjoy the show!”

“Hey kamu Lenka apa Ju sih?”

Pertunjukan Simon Cabaret berlangsung selama kurang lebih 90 menit, menampilkan beberapa sesi tarian-tarian dan drama musikal yang semuanya dilakukan oleh pria dan waria. Sayangnya, karena kecapekan saya pun terlelap ketika pertunjukan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Entah harus bersyukur atau bersedih. Hal yang saya ingat terakhir adalah, seorang waria paruh baya yang gemuk dan berdandan seksi a la Barbie Girl (back sound: Aqua – Barbie Girl) mencium seorang penonton di bangku paling depan, yang merupakan deretan bangku kami. Yay! Pertunjukan berakhir pukul 23:00 dan para performers bersiap di pintu keluar untuk mengadakan photo session (tarif sekitar 100 baht/orang, tidak gratis).

Sini dong Om, foto bareng eijk!

Lalu kembalilah kami ke hotel untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk petualangan selanjutnya.


Jakarta, 21 Maret 2012

to Jantapapha Rukmuang (ladyjujuka@hotmail.com)

Hello Ju, I’m fine. And you?
This year maybe I’m not coming to Phuket. But I will let you know if I will going to Phuket later.
How’s Phuket now?

*send*

***

Untuk kalian yang akan berlibur ke Phuket dan ingin menghubungi Ju (S.W.A.T Adventure Travel), bisa simak gambar berikut.

Please contact her, if you wanna go to Phuket.

Peta menuju S.W.A.T Adventure Travel 3


Jakarta, 28 Desember 2011

to Jantapapha Rukmuang (ladyjujuka@hotmail.com)
Hello Ju, how are you?
 
This is Arif from Indonesia, do you remember me?
I went to Phuket on September this year and used your service to arrange Phuket tour. That was excellent service, remember when you picked us up with your motorbike to catch the Simon Cabaret show? Hahaha.
 
The photo I attached here, is taken with my camera. Hope you can enjoy it.

Me and Ju, in front of her stand.

*send*
***
Kesimpulan yang bisa diambil adalah orang Thailand (yang tidak selalu online) membutuhkan waktu 3 bulan untuk membalas email, dan orang Indonesia (pemakai Blackberry atau push email) hanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk membalas email.
Cheers!
This post is dedicated to Lady Jujuka, for her kindness.
Advertisements