Berbeda dengan saya dan Neng yang masih malu-malu sebagai pengantin baru, bangunan tersebut justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Berdiri megah menjulang di tengah hiruk pikuk Damrak Street, yang merupakan salah satu jalanan paling sibuk, Amsterdam Sex Museum nampak tidak malu menunjukkan identitasnya, padahal, di beberapa negara, termasuk Indonesia, seks dianggap sebagai hal yang tabu. Namun, ini kan Amsterdam, Belanda, di mana ganja dapat dengan mudah diperoleh dan seks dapat dibayar jika mampu. Maka wajar rasanya, bila Sex Museum –atau yang memiliki nama lain Venustempel (The Temple of Venus), justru terletak di pusat kota, hanya tiga menit berjalan kaki dari Central Station. “Masuk jangan, nih?” Tanya Neng. “Ya masuk atuh, sudah sampai sini.” Dengan malu-malu, saya meminta Neng untuk masuk terlebih dahulu. Ladies first. “Kamu heula.” Neng,…