Pesawat perintis Transnusa tiba di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo. Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada pukul sepuluh waktu Indonesia Bagian Tengah. Kebanyakan dari kami, memang baru kali ini mengunjungi Pulau Flores jadi wajar bila reaksi yang kami berikan beragam ketika pesawat kecil tersebut berhasil mendarat dengan mulus.

Penumpang 1: “Alhamdulillah, akhirnya sampai jugaaa.”

Penumpang 2: “Hoeekk, hoeeekkkk.”

Penumpang 1: “Woy, kenapa lu? Nih kantong buat muntah.”

Penumpang 2: “Maklum sob, baru kali ini naik pesawat. Anu, ada minyak kayu putih ga?”

Penumpang 1: “Nih, tangkap!”

Penumpang 3: “Zzzz… Zzzzzz…”

Pramugari: “Pak, bangun Pak. Sudah sampai di Pulau Komodo. Itu ditunggu istrinya, di bawah.”

Penumpang 3: “APA? ISTRI SAYA AFFAIR SAMA KOMODO?”

DSCN0006

Selamat datang di Labuan Bajo!

Adat tuak curu dan pengalungan selendang khas Flores menyambut kedatangan kami yang merupakan pemenang online quiz tourism campaign trip yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui website resmi pariwisata Republik Indonesia www.indonesia.travel. Rombongan ini terdiri dari pemenang dalam negeri (15 orang) dan luar negeri (5 orang) ditambah perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sejumlah media, yaitu: Kompas, Tempo, blogger Kompasiana, Trans TV, VOI (RRI), serta Miss Earth 2011 dan Miss Scuba 2011 sebagai tamu undangan. Kami semua mendapat kesempatan mengunjungi Taman Nasional Komodo yang diakui sebagai salah satu UNESCO World Heritage Site, secara GRATIS.

Please envy us!

Siang itu, rombongan langsung bertolak ke Pulau Rinca yang merupakan salah satu pulau utama –selain Pulau Komodo dan Pulau Padar– di Taman Nasional Komodo. Tujuannya jelas, untuk melihat secara langsung mahkluk yang diklaim sebagai binatang purbakala yang masih hidup di dunia ini, KOMODO.

DSCN0338

Coba tebak, ada berapa komodo di gambar ini?

Komodo sendiri, merupakan hewan raksasa mirip kadal dengan panjang sekitar 2-3 meter, dengan berat yang bisa mencapai 165 Kg, atau 100 Kg saat perut kosong. Mereka adalah predator, yang bahkan bisa memangsa jenisnya sendiri saat lapar. Namun kita tak perlu khawatir saat perjalanan ke habitat alam mereka, karena kita akan ditemani oleh para jagawana yang bertugas sebagai ranger atau pawang mereka. Saat ini, populasi komodo di dunia sangatlah sedikit, maka tak heran jika komodo masuk sebagai salah satu binatang yang harus dilindungi.

Petualangan di Pulau Rinca berlangsung selama kurang lebih dua jam, dengan trekking di habitat alami komodo. Di siang hari yang terik tersebut, para peserta harus berjalan melalui hutan, semak, dan melewati bukit yang cukup tinggi. Perjalanan tersebut berlangsung menyenangkan, selain kami dapat melihat komodo tersebut secara langsung, pemandangan yang kami lihat selama trekking sangatlah mempesona.

Setelah mengisi tenaga dengan makan siang, minum siang, dan istirahat siang bersama, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Kanawa yang memiliki garis pantai yang panjang, pasir putih yang bersih, dan air laut yang jernih. Di sana, para peserta dipersilakan untuk snorkeling menikmati keindahan alam bawah laut Flores.

DSCN0229

Jump!

Keesokan harinya, kami diharuskan bangun lebih awal, karena agenda perjalanan kami hari itu cukup padat yaitu mengunjungi Pulau Komodo dan Pink Beach yang fenomenal.

Sekitar pukul Sembilan pagi waktu setempat, kapal kami merapat di anjungan kecil Pulau Komodo, dan lagi-lagi cuaca panas menyambut kedatangan kami di sana. Acara kami di Pulau Komodo, kurang lebih hampir sama dengan Pulau Rinca yaitu trekking di alam sambil mengamati para komodo dari dekat. Cuma yang membedakan di sini adalah, komodo di Pulau ini dikenal lebih agresif daripada di Pulau Rinca. Wow!

DSCN0359

Para peserta di puncak bukit Pulau Komodo

Trekking di Pulau Komodo tuntas ketika mendekati waktu makan siang, namun pihak panitia memutuskan untuk mengadakan acara makan siang di Pink Beach yang terletak tak jauh dari situ. “Sabar, makan siang di sana lebih asyik.” Ucapnya, meyakinkan perut kami yang keroncongan.

Dan benar saja, kami langsung takjub ketika tiba di Pink Beach. Yang membuat kami tercengang adalah karena pasir di pantai ini berwarna pink atau merah muda yang kabarnya hanya ada tujuh pantai seperti ini di dunia. Lalu bagaimana dengan acara makan siangnya? Aroma masakan ikan dan cumi yang dibakar di pinggir pantai ini, makin menambah perut kami yang keroncongan.

Ah, apakah yang lebih syahdu dari menyantap ikan bakar di pinggir pantai yang sepi? Yaitu kalau ada kamu di sini.

Selepas acara makan siang, peserta bisa berkeliling di sekitar Pink Beach, snorkeling, foto-foto, hingga mendaki bukit kecil di sekitar pantai. Pemandangan atas dan bawah laut di sini, benar-benar menawan.

Enjoy!

DSCN0435

Wonderful Indonesia

Jika diperhatikan, pepohonan di pulau-pulau Laut Flores ini banyak yang kering karena cuaca panas dan rendahnya curah hujan. Udara panas tersebut membuat keringat saya selalu bercucuran, ditambah dengan rasa haus yang terus mendera. Oh Tuhan, adakah sebongkah es di Flores?

***

Selama perjalanan di Flores, kami menginap di Hotel La Prima yang menempel langsung dengan laut Flores dan merupakan tempat menikmati sunset yang romantis.

DSCN0497

Seaside Pool at La Prima Hotel

Terima kasih kepada Kompasiana dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, atas perjalanan yang menyenangkan ini.

 

Advertisements