Suatu malam, Ani bermimpi. Dia tersesat pada sebuah tempat yang nampak asing baginya, di mana semua hal yang ada di sana belum pernah dilihatnya. “Pokoknya gelap tempatnya, dan banyak banget gituan yang tergantung.” Gituan yang dimaksud oleh Ani adalah penis, atau dalam bahasa yang lebih sopan dan supaya tidak terkena blokir internet sehat, disebut sebagai phallus. “Ukurannya beda-beda, ada yang kecil, ada yang gede banget! Bentuknya juga beda-beda.”

“Ah, tapi masa itu yang bikin latah, Mpok?” Saya bertanya, masih ragu dengan jawabannya. “Bentuk beda-beda itu, ada yang sunat, dan ada yang engga?”

“Iya betul, Mas Arif.” Jawabnya sambil tertawa. “Pokoknya habis mimpi itu, sekarang saya jadi suka latah nyebut kont…eh konci.”

Saya mencoba tak percaya dengan jawabannya, namun ternyata Yuli, anaknya juga mengalami mimpi yang serupa, dan membuatnya latah menyebut alat kelamin pria, apabila sedang kaget. Kalau satu orang, mungkin saya akan merasa cerita itu adalah mengada-ada, tapi kalau sudah dua orang yang mengalami mimpi bertemu kontol dan menjadi latah, masa saya harus tetap tak percaya?

Berbulan-bulan, saya memikirkan cerita tersebut (ceritanya, bukan phallusnya), cerita tentang suatu tempat misterius dengan banyak sekali phallus beraneka macam rupa dan ukuran. Apakah ada tempat tersebut? Sebuah hal yang belum terjawab, hingga pada suatu hari, saya mendatangi sebuah desa yang mungkin menjadi tempat di mana Ani dan Yuli terbangun dalam mimpinya.

Sebuah desa kecil di Bhutan bernama Sobsokha, atau yang lebih dikenal dengan Chimi Lhakhang Village.

Phallus Village Bhutan

Tidak ada tugu selamat datang, papan penanda nama, ataupun baliho pemilihan kepala desa dengan calonnya yang tersenyum girang pada tempat yang kami datangi sore itu. Jalanan tanah berdebu, sedikit berbatu, dan tak beraspal menyambut kami di desa tersebut, dengan sebuah rumah tingkat berada di sisi kiri –yang berdiri berjajar bersama rumah lainnya, beserta souvenir shop yang sudah bersiap mau tutup di seberangnya. Walaupun masih pukul empat sore, namun hari itu adalah awal musim dingin, yang berarti malam akan datang lebih cepat. Di kejauhan, beberapa anak kecil nampak bermain riang dengan anjingnya.

Sekilas, rumah dan toko tersebut tampak biasa saja, hanya rumah tingkat dengan tangga kayu di luar dan tembok mulai mengelupas serta sebuah toko suvenir dengan barang dagangan yang ditata di terasnya. Namun yang membuatnya beda adalah lukisan yang terdapat pada dinding rumah tersebut, juga macam barang dagangan yang dijual pada toko di seberangnya. Pada dinding rumah, terdapat lukisan phallus sebesar ukuran orang dewasa (lukisan phallus-nya yang ukurannya sebesar orang dewasa, bukan hanya sebesar phallus orang dewasa), sementara pada toko tersebut dijual beraneka suvenir berbentuk phallus, mulai dari magnet kulkas, lukisan, hingga pajangan yang nyaman digenggam.

(((NYAMAN DIGENGGAM)))

Walaupun sama-sama phallus, namun lukisan yang terdapat pada dinding rumah di sana berbeda-beda wujudnya, ada yang berwarna merah dengan bijinya yang berambut, ada yang berwarna merah muda keunguan dengan palkon bermata lentik (bahasa gaul dari kepala penis, singkatan dari kepala kontol) yang  tersenyum manja, ada juga yang berwarna biru dengan cairan kenikmatan terlukis muncrat keluar dari ujung phallus.

Phallus Village Bhutan

Rombongan kami berjumlah 20 orang, dengan saya sebagai trip buddy Whatravel menemani 16 orang peserta trip Bhutan bersama tiga orang lagi guide lokal yang memang asli orang Bhutan. Sore itu, sebenarnya bukanlah jadwal kami untuk mampir ke Chimi Lhakhang Village, namun karena waktu masih cukup dan memang lokasi ini dilewati dalam perjalanan menuju penginapan di Punakha, saya meminta Phurba Dhorji yang memiliki nama panggilan ‘Sha’ untuk singgah sejenak di sini.

“So, what’s the stories behind those phallus paintings?” Saya menunjuk salah satu lukisan phallus yang terbesar di sana, walaupun sedikit merasa minder dengan ukurannya. “Why people here, like to draw phallus?

Iya kan, seperti tak ada yang lebih artsy lagi untuk dilukis. Okelah, secara visual, penis memang lebih menarik daripada vagina, walaupun secara fungsi, kedua-duanya akan saling melengkapi untuk memberikan kenikmatan. Tapi mengapa harus melukis phallus?

Well, the paintings are not happen to be here accidentally.” Sha menjelaskan. “The story was started in 15-16th century, when someone named Drukpa Kunley, or people call here as The Divine Madman came to Bhutan.

Setelah memastikan kelompok ibu-ibu aman di toko suvenir, saya berjalan mengitari desa bersama Sha sambil mendengarkan sepenggal kisah darinya.

[DISCLAIMER: Cerita mengenai Drukpa Kunley pada artikel ini, disarikan berdasarkan obrolan dengan warga setempat dan dari buku The Divine Madman: The Sublime Life and Songs of Drukpa Kunley yang diterjemahkan oleh Keith Dowman. Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan pihak tertentu]

Chimi Lhakhang Village

Alkisah zaman dahulu kala, tersebutlah seorang biksu sakti mandraguna bernama Drukpa Kunley yang berasal dari Tibet. Kunley yang sudah mengabdikan hidupnya kepada Buddha, bermaksud ingin menyebarkan ajaran yang dimilikinya, namun dilanda kebingungan akan mengembara ke mana.

Zaman dahulu, teknologi belumlah semaju sekarang, sehingga Kunley belum bisa ask the audience, menelepon 911, ataupun bertanya melalui fitur question di Instagram Stories. Pada suatu hari, saat Kunley bermalam di rumah Lady Semzangmo di Nagkatse, Yamdrok, Tibet, dia bermimpi didatangi oleh seorang wanita berbaju kuning yang bukan Christina Aryani. Wanita tersebut membawa pedang yang mengeluarkan api walaupun bukan Melisandre. Dalam mimpinya, wanita tersebut berkata “Hai Kunley (yang gak Kunley, gak hai), sekarang saatnya kamu penuhi panggilanmu, untuk menyebarkan ajaran Buddha. Pada pagi hari besok, tembakkanlah panah ke arah selatan, dan ikuti arah panah tersebut. Di sana, engkau akan menyebarkan ajaran-Nya, dan mendirikan sebuah keluarga untuk melanjutkan penyebaran ajaran-ajaran tersebut.”

Setelah berkata demikian, wanita tersebut menghilang, dan Kunley terbangun tanpa basah di celana. Esok harinya, Kunley menembakkan sebuah anak panah ke udara –ke arah selatan. “Terbanglah anak panahku, dan mendaratlah di tanah yang terberkati, tempat wanita cantik titisan surga tinggal.” Serunya. Semoga saja anak panah tersebut tidak mendarat di Paradise City versi Guns N’ Roses.

Chimi Lhakhang Village

Dengan cepat, anak panah tersebut terbang menembus langit, dan menimbulkan suara yang menggetarkan langit –mirip raungan seekor naga yang bukan milik Daenerys, sehingga membuat orang-orang sekitar saling bertanya mengapa naga muncul kala musim dingin, sementara harusnya kan cuma muncul kalau ada barongsai.

Pada sebuah atap rumah, anak panah tersebut mendarat dan menimbulkan gempa kecil di sana. Tepatnya, pada rumah milik Topa Tsewong, seorang kaya yang tinggal di dataran tinggi Topa Silung, Bhutan. Firasat buruk sempat melanda istri muda Tsewong setelah melihat anak panah tersebut, namun Tsewong menenangkannya dengan berkata “Tidak perlu berprasangka buruk, ini bukan bad omen, melainkan pertanda akan datangnya seorang anak untuk kita.” Ucapnya. “Sekarang cuci tanganmu, dan bawalah anak panah tersebut ke dalam rumah.”

Wanita itu kemudian membungkus anak panah tersebut dengan kain putih, mencabutnya dengan mudah (sebelumnya Tsewong sempat mencoba mencabut namun gagal, kalah sakti dengan Baru Klinting), dan meletakkannya pada sebuah altar di dalam rumah.

So, what happened next?” Saya menunggu Sha melanjutkan ceritanya. “Did Drukpa Kunley come to Bhutan after that?

Of course, he came.” Sha menegaskan. “He followed the arrow to Bhutan.

Kisah setelahnya adalah Drukpa Kunley datang ke Bhutan, dengan mengikuti arah ke mana anak panah saktinya mendarat, lalu menyebarkan aliran agama di sana. Begitu saja? Tidak temanku, ada sebuah kisah seputar hidup Topa Tsewong yang perlu kamu ketahui juga.

Chimi Lhakhang Village

Singkat cerita, Kunley tiba di rumah Tsewong pada musim panas. Saat itu, dia kebelet kencing, dan melakukannya di tembok rumah Tsewong. Sewaktu kencing, anak-anak setempat muncul dan melihat betapa besarnya phallus milik Kunley. “Lihatlah titit jumbo itu, bijinya besar sekali!” Seru mereka. Namun, bukannya malu dan menutup garasinya, Kunley justru bernyanyi kepada mereka, yang dalam bahasa Inggris, kira-kira seperti ini bunyinya.

“In blue cuckoo summertime, your cock is long and your balls hang low.

In the purple stag wintertime, the head of your penis grows long.

Throughout the year it’s a long hungry beast,

but that is the difference between summer and winter!”

Setelahnya, Kunley memasuki rumah tersebut, dan bertanya kepada Tsewong tentang anak panahnya. Tsewong membenarkan pertanyaan itu, dan mempersilakan Kunley untuk menginap. Ketika masuk ke dalam rumah, sudut mata Kunley langsung tertuju pada wanita yang ada di rumah itu. Palzang Buti namanya, istri dari Tsewong.

Tanpa memedulikan lelaki pemilik rumah, Kunley langsung merayu Palzang Buti dengan nyanyiannya.

“The arrow has certainly not gone astray,since it has led me to this voluptuous goddess.

Tsewong, mine host, please leave us,

I must lay this lady this instant.”

“Wait.” Saya menghentikan cerita Sha sejenak. “Kunley is a monk, right?”

“Yes.”

“And he wanted to lay that lady?” Saya mencoba supaya tidak salah mengartikan ceritanya, karena saya sedang membayangkan hal yang tidak-tidak akan terjadi dalam hidup Drukpa Kunley sang biksu.

Yes, yes. He was a monk.” Sha sedikit terkekeh. “But he were teaching Buddhism in different method. Shocking method.”

Wait, whaaat?

He liked to tell crazy jokes.” Sha menjabarkan istilah crazy dengan kode tanda kutip. “He liked to tease ladies, approach them, and even seduce them! He even did that to her mother!

Saya menggeleng, membatin, ternyata asyik juga ya hidup Drukpa Kunley ini. Menyebarkan agama, tapi sambil bersenang-senang dalam kehidupan. YOLO, BANG KUNLEY!

 

“He had outrageous behaviour, and he committed doing many sins.” Sha berhenti sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya. “But people in Bhutan love him, and many people know him. From child to adult. They even built a temple for him.”.

So crazy!

Yes, indeed, that is why people called him The Madman! He loved wine and he loved women. He talked about women, he talked about sex.

Wow, sex? Did he do the sex too? Sebuah pertanyaan yang kemudian terjawab ketika saya melanjutkan membaca cerita tentang kedatangan Drukpa Kunley di rumah Topa Tsewong.

“Aku menawarkan kamu menginap, dan sekarang kamu mengincar istriku. Tanpa permisi, tanpa istirahat, kamu langsung menggodanya!” Tsewong naik darah melihat Kunley yang tanpa malu-malu langsung mengajak istrinya untuk bersetubuh. “Kamu mungkin boleh bersikap begitu di Tibet, tapi kami, di selatan tidak punya kebiasaan menjijikkan seperti itu!”

Loh, Tibet kan (Jakarta) Selatan juga, Pak!

Legenda mengatakan, bahwa Tsewong langsung melemparkan pedangnya ke arah Kunley, semarah Arya Stark ke Night King. Namun, dengan ilmunya, Kunley menangkap pedang itu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mencengkeram leher Palzang Buti dengan erat. Mirip pepatah, sekali dayung, dua leher tertangkap.

Melihat hal tersebut, Tsewong bukannya menjadi semakin marah, namun justru terkagum-kagum “Aku melihat Buddha pada dirimu.” Ucapnya, dan langsung mencium kaki Kunley dengan dahinya. “Kamu boleh mengambil istriku sebagai milikmu, dan kamu boleh tinggal di sini seumur hidupku.”

Kunley tidak menyanggupi permintaannya, melainkan hanya berjanji untuk tinggal di situ dalam waktu singkat. Beberapa tahun kemudian, melalui kekuatan doa, seorang anak laki-laki lahir dari rahim Palzang Buti. Alhamdulillah, perkataan Tsewong sewaktu menemukan anak panah di rumahnya, kini dikabulkan. Walaupun bukan anak dari hasil persenggamaannya sendiri, namun sebuah kebenaran hakiki muncul di rumahnya. Kebenaran mengenai kekuatan Drukpa Kunley.

“The Highlander Tsewong loves truth,

Duty-Free Kunley loves Tsewong’s wife;

good luck to truth-lover and wife-lover!”

Maka demikianlah kisah Topa Tsewong berakhir. Sebuah kisah yang menjadi awal kedatangan Drukpa Kunley, The Divine Madman ke Bhutan.

Chimi Lhakhang Village

Excuse me, Sha.” Saya memotong ceritanya. “But how, Drukpa Kunley got his divine power?

That’s another long story.” Jawabnya. “I will tell you someday.

And I still did not know why people here, like to draw Phallus on their wall.”

I will tell the story tomorrow, when we go to the Chimi Lhakhang Monastery, a place where Drukpa Kunley subdued the demon.” Jawabnya. “Using his mighty penis.”

WHAATTTT?

We should go back to the hotel now. The sun almost set.” Pungkasnya, menutup obrolan hari itu dengan sebuah tanda tanya besar pada kepala atas dan bawah. Mungkinkah banyak phallus dilukis di tembok, karena dulu Drukpa Kunley pernah pipis di tembok?

Bersambung…
Advertisements