[PERINGATAN UNTUK PEMBACA: INI ADALAH KISAH FIKSI YANG DIILHAMI DARI LEGENDA SETEMPAT. JIKA ADA NAMA, PERISTIWA, MAUPUN TEMPAT KEJADIAN PERISTIWA YANG MIRIP MAKA ITU ADALAH COINCIDENCE ATAU SERENDIPITYDO YOU BELIEVE IT? IF YOU DON'T, LET'S MEET!]


Achied terbangun di sebuah tempat yang asing baginya, perkebunan teh dengan panorama indah yang dikelilingi danau luas dengan air yang jernih. Suara burung di pagi hari mulai menyadarkannya. Sedetik kemudian, ingatannya melayang ke peristiwa kemarin, pesta hingga pagi, hingar bingar obrolan dengan para teman dekat, hingga beberapa gelas minuman, lalu semua gelap.

***

Perjalanan Ojie mencari kekasihnya yang hilang, diawali dengan memakai celana army favorit-nya. “Namanya juga mau ketemu kekasih, harus keren dong!” Ucapnya sambil mematut dirinya di depan cermin, sambil sesekali merapikan rambutnya dengan sisir dan sejumput Top Lady. Pagi itu, dia menyusuri setapak demi setapak jalan di kawasan Bandung Selatan, hingga langkah kakinya berhenti di sebuah tempat karena kecapekan. Sebuah tempat indah yang bernama Situ Patengan.

“Mbak, Mijon satu!” Ucapnya ke seorang gadis penjual minuman di situ. “Gue kayaknya kehabisan energi nih.”

“Adanya Prenjon Mas, mau? Kalau Mas ga mau, sama saya aja, mau?” Gadis itu menjawab sembari mengibaskan rambutnya.

“Err, apa aja deh asal bukan sama elu. Gue haus nih.”

“Iya deh, Mas.” Geram gadis itu “Prenjon lagi, prenjon lagi. Gagal maning, Son. Huffttt.”

***

Selamat Datang di Situ Patengan

Situ Patengan, berasal dari Bahasa Sunda Pateangan-teangan (saling mencari). Mengisahkan cinta Putra Prabu dan Putri Titisan Dewi yang besar bersama alam. Ki Santang dan Dewi Rengganis, mereka berpisah untuk sekian lama. Karena cinta mereka yang begitu dalam, mereka saling mencari dan akhirnya dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan Batu Cinta. Dewi Rengganis pun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/Pulau Sasaka). Menurut cerita ini, yang singgah di batu cinta dan mengelilingi Pulau Asmara senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka.


***

Achied meraba pakaian yang dikenakannya, masih rapi dan lengkap. “Sial, ga ada yang ngapa-apain gue!” Setelah membasuh muka dengan air danau, dia berpose di atas batu dan kemudian meminta seseorang yang lewat untuk memfotonya.

“Mas, kameranya keren deh. Baru ya?”

“Hihihi, kok tahu Mbak? Keren ya kayak orangnya. G-12 loh ini. Lebih bikin nge-fly dibanding G-6.”

“Wih, iya ya? Fotoin dong.”

“Asem!”

Klik! Tombol shutter terpencet, setelah Achied mengeluarkan tatapan sadisnya.

Setia dalam penantian

Teka-teki dan pertanyaan yang memenuhi kepalanya belum berakhir, di pulau berbentuk hati itu dia tak menemukan orang-orang yang dikenalnya. Pun juga kekasihnya. Kekasih? Air mata menetes perlahan dari matanya menuju danau begitu mengingat nama sang kekasih. Di mana dia? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?

Konon, danau itu terbentuk karena Ki Santang dan Dewi Rengganis dilanda kesedihan berkepanjangan karena tak jua bertemu, sampai-sampai air mata mereka berdua menggenang dan membentuk sebuah situ/danau.

***

“Bang, lihat cewek kayak di foto ini ga?” Ojie menyerahkan selembar foto lusuh ke seorang pemilik perahu yang sedang menanti pelanggan. (Pelanggan sewa perahu, bukan sewa bodi. -red)

“Kayaknya saya lihat cewek kayak gitu semalam berenang ke pulau itu.” Tangannya menunjuk ke sebuah pulau di tengah danau. Sebuah pulau berbentuk hati. “Omong-omong, ceweknya mirip.”

“Mirip sama gue maksudnya, Bang?” Ojie tersipu.

“Bukan, sama fotonya. Lusuh.”

Ojie menepok jidat pemilik perahu tersebut, dengan telapak kaki.

Perahunya single, saya juga.

“Omong-omong kalau anterin gue ke sana berapa, Bang?” Ojie mengedipkan matanya manja ke si pemilik perahu yang masih meringis kesakitan.

“Seratus ribu, karena kamu telah menyakiti saya. Lahir batin.”

“Hah, mahal amat! Tiga puluh ribu deh.” Ojie kemudian mengeluarkan tiga lembar sepuluh ribuan yang tak kalah lusuhnya.

“Oke, dua puluh ribu bolak-balik. Ga usah nawar lagi.” Jawabnya ketus.

“Baiklah Bang, omong-omong topi pandanya lucu. Beli di mana?”

“Di tukang gorengan! Puas?”

Walet itu berarti dompt, bukan bebek.

“Anyway, kenapa namanya Walet tapi gambarnya bebek Bang?”

“Arrgghhh. Suka-suka gue dong. Masih mending gue gambar bebek pakai B bukan pakai M.” Ternyata si abang tukang bakso perahu masih sensi.

“Kayak cewek PMS aja elu, Bang.”

***

Batu, Cinta. Terletak di Kaki Gunung Patuha.

Batu Cinta, di kaki Gunung Patuha yang udaranya sejuk serta panorama alamnya yang indah, terbentang sebuah danau yang konon danau ini mengkisahkan dua insan yang telah lama berpisah (Ki Santang dan Dewi Rengganis). Karena asmaranya yang begitu dalam akhirnya mereka dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang disebut “Batu Cinta”. Batu inilah yang menjadi saksi bisu dipertemukannya kembali cinta mereka.

***

Di sebuah batu besar di pinggir danau, pandangan Achied terpaku. Berdasarkan informasi yang didengarnya, itulah yang dinamakan Batu Cinta – yang konon dapat membuat pasangan yang mengunjunginnya langgeng – yang termahsyur tersebut. Mata Achied tak berhenti membelalak, kini di atas batu tersebut telah duduk sepasang remaja, pria dan … pria.

Sepasang pria di atas batu, aw!

“Sudah, biarkan saja Mbak. Kan memang lagi nge-trend sekarang. Cowok, pacaran sama cowok.” Sebuah suara mengagetkannya. “Tapi saya belum mau ikut tren sih.” Ucap si pria sambil menggamit tangan wanita pasangannya. “Omong-omong, Mbak kok sendirian di sini? Jomblo ya?”

“WOY, SETAN!”

Sambil terkekeh, keduanya berlalu. Masih samar terdengar kata-kata gombal yang dilontarkan keduanya.

“Sayang, katanya di sini ada batu cinta ya?”

“Iya. Itu batunya.” Si pria menunjuk bongkahan batu tak artistik tersebut. “Lalu ini cintanya.” Dia memegang dada tepat di posisi jantung, memperagakan gerakan merobek jantung, mengambil jantungnya secara dramatis, lalu melemparkan ke wanitanya dalam adegan lambat.

“Ih, sayaaaang. Kamu romantis bangettt. Kayak Justin Timberlake deh.”

“Kok kayak dia?”

“Iya, karena kamu … telah me-lovestoned-kan hati akuuuh.”

“Uwuwuuwuwuuuu..”

Pusing mendengar gombalan-gombalan tersebut, Achied pun berjalan menaiki bukit. Kembali ke kebun teh.

***

“Bang, bisa lebih cepat ga perahunya?”

“Ga bisa, ini udah paling cepat.” Abang tukang perahu mengelap peluh yang bercucuran di dahinya, dengan kaos Ojie.

“Woy! Ini kaos gue Bang.” Ojie menarik kembali kaosnya.

“Oh, kirain teh buat saya. Hehehe.” Si abang cengengesan. “Sebenarnya ada urusan apa ke sini kok sendirian?”

“Urusan cinta, gue nyari kekasih gue Bang. Di foto yang gue tunjukin tadi itu loh orangnya.”

“Oooh, bilang dong kalau urusan cinta. Kan saya bisa lebih cepat kalau gitu.” Pria itu meletakkan dayungnya, dan menggantinya dengan mesin turbo yang telah dilengkapi NOS. “Itu, kita hampir sampai.”

“Ebuset!” Ojie geleng-geleng.

Sesudah perahu merapat, Ojie segera turun dan berlari menyusuri pulau tersebut. “Dari arah sana, baunya semakin kuat.” Lalu dia berlari sambil mengendus ke atas bukit. Menuju kebun teh.

Dari arah bawah, abang tukang perahu berteriak “WOY BAYAR WOY!” yang terdengar oleh Ojie sebagai “GOOD LUCK, BRO!”

***

Di kebun teh itu, Achied menunggu.

Di kebun teh itu, Ojie menuju.

Di kebun teh itu, mereka bercumbu bertemu.

Di kebun teh itu, batu cinta menjadi saksi bisu.

Di kebun teh itu, mereka bertemu.

“Istrikuuuu…”

“Suamikuuu…”

“Istrikuuu… Loh kamu kok bukan Pai Su Chen?”

PLAK!

“Kamu, kok tahu aku ada di sini?” Tanya Achied dengan nada heran.

“Radar Uranus.” Jawab Ojie sambil membentuk tanduk di pelipisnya dengan kedua jari tengah tangan kanan dan kirinya. “Kamu ke mana aja, aku kangen tauk.”

“Aku juga kangen, entahlah aku pun tak tahu pasti apa yang terjadi. Tahu-tahu aku sudah ada di sini.” Jawab Achied sambil tersenyum. “Aku senang, kamu ada di sini.”

“Emang kenapa tadi?”

“Tadi ada monyet, yang godain aku. Aku kan takut, sayang. Uwuwuwuwuuuu.”

“Yee, alay!” Ucap Ojie dalam hati. “Ya sudah yang penting kamu baik-baik saja. Yuk kita turun, dan balik ke perahu.”

“Umm, sayang gendoooong.”

“Ya deh.”

Cinta itu, selain memaksa juga menyiksa.

“Anyway sayang, kok kamu tambah gemukan sih?”

“Iya tadi pas nungguin kamu, aku ngemil batu cinta.”

PLAK!

Batu cinta mengabadikan cinta mereka, seperti halnya saya yang menceritakan kembali kisah abadi mereka.

Dan seperti layaknya fairy tale lainnya, they lived happily ever after.

***

Casts and Crews


CASTS

Achied – Astrid (@achiedz)

Ojie – Rozy (@SiRozy)

Gadis Penjual Mijon – Dinoy (@dinoynovita)

Tukang Foto – Harry (@harry_mdj)

Abang Tukang Perahu – Antho (@JustAntho)

Tukang Gorengan – Fetty (@fettyokli)

Remaja Pria 1 – Ochoy (@iamAdhityaP)

Remaja Pria 2 – Hardy (@Culinarymaniac)

Pria Berpacar – Tyo (@callmematheo)

Wanita Berpacar – Uliel (@ulielielie)


SPECIAL PERFORMANCES

Batu Cinta – Emil (@shititsemily)

Monyet – Joe (@monyetterbang)


MAKE UP

Cen Cen (@trimurti_cencen)


DRIVER

Sony (@sonew00)


STORY TELLER

Ariev (@arievrahman)

***

Tak ada yang tahu siapa aku,

Hingga suatu hari engkau datang.

Membawa sebuah rasa,

rasa cinta.

Love you guys!

Special thanks to @TravelTroopers, all around the world.

[Artikel ini juga pernah dimuat di sini]

About these ads